Dunia hantu” memang selalu menarik perhatian, lantaran ada lorong-lorong
misteri yang membuat orang penasaran. Dalam buku Why People Believe
Weird Things (1997), pada kata pengantarnya Stephen Jay Gould menulis,
konstruksi pikiran manusia seperti tanaman ilalang. Gampang
diombang-ambingkan. Itu membuat manusia skeptis terhadap segala sesuatu
yang dihadapi. Ragu tapi percaya. Tak terkecuali soal hantu.
Sebuah dunia yang tidak terang benar tetapi mengusik keingintahuan,
itulah yang kini banyak diekspos oleh media cetak dan elektronik.
Acara-acara di televisi macam O, Seram, Misteri, Percaya Nggak Percaya,
The Scariest Places in The World, Would You Believe It, atau Misteri
Kisah Nyata digemari pemirsa. Kendati mereka menikmatinya dengan cara
aneh, menonton sambil menjerembapkan bantal ke muka.
Di Amerika Serikat, negara yang sanggup mengirimkan misi ke angkasa
luar, kepercayaan pada hal-hal yang aneh pun lumayan tinggi. Fenomena
hantu dipercaya oleh 38% responden. Sebanyak 40% tidak percaya. Sisanya,
17% tidak yakin. Sementara mereka yang percaya adanya rumah hantu
mencapai 50%, 20% tidak yakin, dan 27% tidak percaya.
Situs di jagat maya yang mengupas soal hantu pun bukan main banyaknya.
Kelompok ini bahkan telah melangkah jauh. Misalnya, membuat daftar
gedung atau rumah paling berhantu di berbagai negara. Juga mendeteksi
keberadaan hantu dan mendokumentasikannya dengan cara-cara tertentu.
Ghostweb.com, misalnya, telah diklik oleh 3,2 juta orang sejak
diluncurkan pada Juli 1996.
Berangkat dari perburuan hantu ini, hauntedhouse.com mencatat sebuah
rumah tepat di persimpangan jalan raya San Diego dan jalan Harney
sebagai rumah paling berhantu di Amerika. ”The Whaley House,” kata Hans
Holver, pemburu hantu beken yang mengamati rumah itu. Rumah di ”kota
tua” San Diego itu kini menjadi museum dan dibuka setiap hari dari pukul
10.00 – 17.30.
Sejumlah hantu menempati rumah itu. Seperti Yankee Jim, Whaley dan
istrinya, serta beberapa hantu lain yang tidak dikenal. Ada juga anak
kecil, anak Whaley yang meninggal karena demam tinggi.
Rumah Whaley dibangun oleh Thomas Whaley pada 1856. Thomas yang berwatak
sosial sangat dikenal di San Diego. Sebelum dijadikan museum rumah
hantu, salah satu lantainya digunakan sebagai gedung teater, sementara
ruang tamu di lantai satu menjadi kantor kehakiman.
Corinne Lilian Whaley, keturunan terakhir Whaley yang menempati rumah
itu. Ia putri bungsu Keluarga Whaley yang berjumlah enam orang. Ia
meninggal dalam usia 89 tahun pada 1953. Thomas wafat pada 14 Desember
1890 pada usia 67 tahun. Istrinya, Anna, meninggal pada 24 Februari
1913. Mereka berdua dimakamkan di Mount Hope, San Diego.
Sejak itu Whaley House merana selama bertahun-tahun. Untuk memulihkan
kondisinya pemerintah kota San Diego membentuk Historical Shrine
Foundation. Whaley House dibeli dan dijadikan museum sejarah dengan
merestorasi sesuai kondisi aslinya.
Tahun 1960, ketika Whaley House dibuka untuk umum, banyak peristiwa aneh
dialami oleh para penjaga dan pengunjung. Mereka mengaku, merasa ada
hantu di sana.
Sebagian besar pengunjung mengaku, mendengar musik dan suara sejumlah
orang mendendangkan lagu. Ada juga suara anak-anak yang tertawa atau
menangis di lantai atas. Kadang kala tercium bau asap rokok, minyak
wangi, atau aroma masakan dari dapur pada minggu-minggu menjelang Natal.
Anak kecil yang sedang menangis itu barangkali adalah anak yang
meninggal terenggut demam tinggi.
Hantu di Gedung Putih
The International Ghost Hunters Society mencatat, hantu memang ada di
mana-mana. Juga di rumah tua atau kuburan tua. Namun, juga tidak
menafikan kalau hantu terdapat di bangunan atau rumah baru. Kenyataan
yang barangkali sulit diterima bagi yang belum pernah memergokinya.
Penyelidikan terawal tentang hantu mungkin yang dilakukan oleh filsuf
Yunani Athenodorus. Pemikir yang hidup pada abad pertama itu sedang
mencari-cari rumah di Athena. Kebetulan ia mendengar ada rumah dijual
supermurah. Ternyata belakangan pemiliknya mengakui, rumah itu berhantu.
Athenodorus bukan filsuf, kalau langsung jeri. Ia membeli rumah itu
dengan tekad akan memecahkan misteri itu.
Malam sudah larut ketika ia asyik bekerja. Athenodorus benar didatangi
sang hantu yang menampakkan dirinya sebagai pria berjubah dengan dua
tangan dirantai. Athenodorus tidak menjerit dan lari terbirit-birit, ia
malah bangkit dan membuntuti si makhluk halus! Gerak hantu dan bunyi
rantainya yang bergemerincing tak menciutkan nyalinya. Ternyata hantu
itu melayang ke kebun, lalu lenyap.
Esok harinya Athenodorus menyuruh orang menggali tempat di mana hantu
itu menghilang. Mereka menemukan seonggok tulang belulang dan rantai.
Kemudian Athenodorus menguburkannya dengan upacara yang pantas, dan
sejak itu sang hantu tak muncul lagi.
Yang sering terjadi, hantu berkaitan dengan rumah dan gedung tua, tak
terkecuali Gedung Putih, di Washington D.C. Semasa Walter Mondale masih
menjabat wakil presiden di masa kepresidenan Jimmy Carter, suatu malam,
putrinya, Eleanor, dikunjungi seseorang. Saking takutnya, ia pun
pingsan! Begitu siuman ia segera menelepon posko Secret Service.
Datanglah dua agen rahasia bersenjata lengkap. Celakanya, begitu ia
mengatakan telah melihat hantu, mereka dengan kesal menjawab, ”Jangan
pernah melakukan hal itu lagi!”
Soal makhluk halus memang bukan urusan bagian keamanan, meski itu tidak
menepis kenyataan munculnya Presiden Abraham Lincoln dan James Garfield
di Gedung Putih setelah mereka wafat. Bahkan Thomas Jefferson, presiden
ke-3 AS dan salah satu penyusun Deklarasi Kemerdekaan Amerika di abad
ke-18, konon suka muncul juga di Gedung Putih, tengah bermain biola.
Pernahkah kita berpikir bahwa makhluk halus tak selalu ”sosok” dari
orang yang meninggal? Fenomena ”hantu” dari orang hidup bahkan sudah
dijuluki khusus sebagai ”phantasms of the living” oleh British Society
of Psychical Research pada 1886. (The Field Guide to Ghosts and Other
Appiritions, 2002)
Dikisahkan pengalaman sejati seseorang bernama Ny. Boulton. Selama
bertahun-tahun ia sering bermimpi mengunjungi sebuah rumah. Demikian
sering sampai ia mampu menggambarkan sosok rumah itu luar-dalam. Namun,
ia tak tahu di mana lokasi rumah itu.
Nah, suatu hari tahun 1883 ia dan suaminya memutuskan menyewa rumah di
Skotlandia sepanjang musim gugur. Suaminya berangkat lebih dulu untuk
meneken perjanjian sewa-menyewa dan mempersiapkan rumah itu. Istrinya
menyusul kemudian. Si pemilik rumah, Lady Beresford, memberi peringatan
bahwa kamar tidurnya berhantu, ”Tapi hantu seorang perempuan kecil yang
baik, kok.”
Ketika Ny. Boulton tiba di rumah itu, segera ia mengenali rumah itu
sebagai rumah yang sering tampak dalam mimpinya, meski ada sedikit
perbedaan pengaturan ruangan. Yang paling aneh, saat ia berjumpa dengan
Lady Beresford, sang nyonya segera berseru, ”Lo, Anda ’kan wanita yang
menghantui kamar tidur saya!”
Ada lagi, pengalaman melihat ”hantu” dari diri sendiri, seperti dialami
oleh penyair Jerman, Goethe. Dalam autobiografinya ia mengisahkan
bagaimana suatu malam saat hujan turun di Weimar, ia melihat dirinya
sendiri. Meski akunya, ia melihat dengan mata pikirannya. Fenomena
bilokasi tampaknya cocok dengan pemahaman berdasarkan banyak bukti bahwa
sebagian dari diri kita – yang sering disebut tubuh astral – bisa
memisahkan diri dari tubuh fisik kita. Kadang-kadang tubuh astral itu
pun terlihat orang lain.





0 komentar:
Posting Komentar