Seminggu yang lalu ada seorang lelaki yang sedang berjalan sendiri
melangkahkan kakinya di hamparan jalan yang berdebu. Terlihat di matanya
setetes air mata yang berlinang dan seakan akan jatuh ke bumi, entah
apa yang sedang dipikirkannya. Tak ada satu katapun diucapkannya, ia
hanya berjalan dan berjalan tanpa suatu kepastian.
Aku lalu mendekati lelaki itu dengan penuh rasa ingin tahu. Aku
bertanya padanya kenapa ia mengangis dan berjalan dengan lamun
pikirannya. Tapi ia tak menjawab, aku lalu bertanya lagi dengan nada
yang sedikit memaksa.
Ia hanya diam menatap ku, mungkin ia terkejut melihat seorang yang
tak ia kenal bertanya kepadanya. Tapi aku tak peduli karena aku seakan
mengerti apa yang dirasakannya. Perlahan ia bangkit dari diamnya dan
berkata "aku...aku kini mengerti...".
Aku semakin bingung apa maksudnya, aku kemudian melihat dirinya yang
seakan ingin berlari ke tengah jalan yang sedang ramai. Tanpa pikir
panjang aku mengejarnya dan meraih tangannya, kutarik tangan itu dengan
segenap kekuatan yang kumiliki.
Tapi ia kemudian marah dan kesal dengan apa yang telah kulakukan,
seakan ia tak ingin aku menyelamatkan dirinya dari maut yang sudah
mengincarnya. "Apa kamu sudah gila!!!", kataku padanya sambil berteriak.
Ia lalu terduduk, diam dan diam...
Matanya menatap ke arah langit yang sedang meredup, perlahan ia lalu
bercerita dan berkata kepada diriku. "Aku dulu adalah seorang yang
bahagia", katanya. Kemudian ia melanjutkan ceritanya kepadaku.
Aku sangat bahagia dengan apa yang kumiliki, tak ada seorangpun yang
bisa merebut senyum yang selalu terpancar di wajahku. Walaupun aku tak
memiliki seorang pacar tapi aku tetap merasa senang karena aku merasa
memiliki seorang teman yang selalu menemani hari-hariku. Temanku itu
sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri.
Hari itu kami jalan ke sebuah mal di kota tempat kami tinggal, aku
melihat seorang cewek yang menarik bagiku. Temanku lalu menyuruh aku
untuk berkenalan dengan dia. Awalnya aku malu, tapi setelah sahabatku
memaksa dan terus memaksa, akhirnya aku memberanikan diri untuk
berkenalan.
Tapi cewek itu seakan tak menganggap diriku, ia hanya cuek dan
terus berjalan tak menanggapiku. Aku pun kembali ke tempat temanku
sambil sedikit tersenyum dan berkata "udah biasa sob, mana ada cewek
yang amu ama gua, hahaaha...". Temanku lalu tersenyum kepadaku, o ya
nama teman ku itu adalah tia. Ya sahabatku itu adalah seoarang wanita,
yang selalu setia mendengar keluh kesah yang kurasakan.
Beberapa hari dari kejadian itu, seakan tia selalu ingin mencarikan
seorang pacar untuk aku, tapi tetap saja semua cewek yang ia kenalkan
kepada ku selalu menolak saat akan berkenalan dengan aku. Mungkin karena
wajahku yang jelek dan pas-pasan.
Namun aku tetap merasa senang karena aku masih memiliki seorang
sahabat seperti tia, seorang sahabat yang cantik, baik, dan perhatian.
Tapi walaupun demikian tak pernah terlintas di otakku ingin memiliki dia
sebagai pacar. Dan aku tahu aku tak pantas untuk menjadi cowoknya
karena aku tak layak untuk dirinya.
Semakin lama aku menemani dia, semakin besar rasa yang kurasakan,
entah apa itu. Aku merasa bila dia tak ada disampingku, aku merasa sepi
dan gundah, apa aku jatuh cinta kepadanya?. Tapi ia seakan tak menyadari
apa yang kurasakan dan terus menjodohkan aku dengan teman-teman
ceweknya, aku hanya tersenyum ketika melihatnya menatap mataku.
Hari itu aku sedang memetik gitar dengan alunan nada yang indah,
tiba-tiba handphone ku berdering dengan kerasnya, ketika kujawab
ternyata dari sahabatku tia. Aku sangat senang menerima telephone
darinya. Tapi ketika kujawab, kudengar suaranya serak seakan sedang
menangis. Aku lalu bertanya kepadanya, dia hanya menjawab dengan sebuah
kalimat "aku akan pergi...".
Aku bingung, aku lalu mengambil kunci mobilku dan bergegas menuju
rumahnya, Ketika aku tiba di rumahnya, aku tak melihat mobilnya disana.
Aku lalu mengetuk pintu rumahnya, dan hanya seorang penjaga rumah yang
menyambut kedatanganku. Ia lalu mengatakan padaku bahwa tia dan papanya
barusan berangkat ke bandara karena akan pindah ke luar negeri.
Tanpa pikir lagi, aku menuju ke bandara walaupun aku tak tahu ia akan
kemana dan naik pesawat apa. Setiba disana aku kemudian berlari menuju
pintu keberangkatan, dari kejauhan mataku menatap sosok tia yang sedang
berdiri diam dan menunggu di depan pintu keberangkatan.
Kulangkahkan kakiku, kuberlari dan kuberteriak memanggil namanya.
Tia!!!...aku yakin dia mendengar suaraku, ketika aku sampai di depan
pintu keberangkatan, aku tak melihat sahabatku itu. Aku terus mencari
dengan air mata yang berlinang di mataku, tapi tetap tak kutemui. Aku
terus berteriak dan berteriak, Tia!!!...Tia!!!...
Tak ada yang menjawab, hanya orang-orang yang menatap diriku dan
berpikir bahwa aku sudah gila!. Aku terduduk di lantai yang dingin itu,
tak kusadari air mata mengalir dari pipiku jatuh ke bumi seakan terbang
bersayap.
Tapi dalam tangisku itu aku terus memanggil nama tia dan perlahan
berkata "aku cinta kamu tia, aku cinta kamu...". Baru kusadari bahwa
cinta yang telah lama kucari selama ini ternyata selalu ada di dekatku,
tapi aku tak pernah menyadarinya hingga ia pergi meninggalkanku.
Sampai saat ini aku ga pernah lagi ketemu dengan sahabatku itu,
itulah yang membuat aku merasa sedih seperti sekarang ini. Walaupun
waktu sudah berjalan hampir satu tahun semenjak dia pergi dari
hari-hariku tapi aku ga pernah melupakan dia. Senyumnya, tawanya dan
candanya selalu terbayang di ingatanku.
Mendengar cerita dari laki-laki ini, aku terdiam dan kemudian
bertanya padanya "memang kamu ga pernah dihubungi oleh tia itu?". Ia
lalu menjawab, "dia pernah sekali mengirimkan sms ke hp ku, katanya
sekarang dia lagi di bandung".
"Loh bagus donk, kan kamu bisa ketemu dengan dia", kataku kepada
lelaki itu. "Ya memang aku bisa bertemu dengan dia sekarang, tapi untuk
apa aku bertemu dengan dia kalau cuma akan menyakiti", jawabnya.
Ia lalu memperlihatkan isi sms yang dikirimkan oleh tia kepada laki-laki itu...isinya seperti ini.
Hallo romi, gimana kabarnya?...aku lagi ada dibandung nih, o ya
datang ya ke pesta ulang tahun aku ntar malam, o ya nanti malam sekalian
aku kenalin kamu ke pacar aku hehehe...gimana kamu udah dapat cewek
blum?, jangan jomblo mulu donk, malu ama umur huhuuhuh...
Ternyata nama laki-laki itu adalah romi, aku kemudian berkata
padanya setelah membaca isi sms itu "aku tahu kamu cinta dia, dan aku
tahu seperti apa sakit yang kamu rasakan, mungkin aku ga berhak
memberikan pendapat karena kamu pasti mengira bahwa aku ga pernah
mengerti sedih yang kamu rasakan saat ini, tapi percayalah...jalan
satu-satunya dan yang terbaik adalah kamu datang ke pesta ulang tahunnya
dan katakan bahwa kamu cinta dia, apapun keputusannya kamu harus
menerimanya...aku bakal nemenin kamu ntar malam kalau kamu mau...".
Romi awalnya diam dan kemudian perlahan menjawab "mungkin kamu
benar,,,ok ntar malam kamu temenin aku ya...", jawabnya sambil
tersenyum.
Ketika malam datang, romi telah menungguku di tempat kami bertemu
tadi, dengan dandanan yang rapi dan gagah dia mendatangiku dan langsung
mengajakku untuk naik ke mobilnya, tanpa menunggu lagi kami langsung
berangkat menuju ke rumah tia.
Terlihat suasana yang sangat ramai dan meriah di sana. Romi terlihat
ragu ketika akan melangkah ke dalam rumah itu, tapi aku terus memberikan
semangat kepadanya. Kemudian ia memberanikan dirinya untuk masuk, ia
lalu menunjukkan kepadaku tia seorang sahabat dan seorang gadis yang
sangat dicintainya.
Aku melihat sosok tia itu sangat cantik dan menarik, senyumnya seakan
membiusku. Aku lalu membisikkan kepada romi untuk memberikan kado yang
sudah dipersiapkannya kepada tia, dan jangan lupa untuk mengatakan bahwa
kamu cinta dia.
Namun ketika romi akan melangkah ke arah tia, tiba-tiba terdengar
suara pembawa acara, kita sambut tia yang akan menyanyikan sebuah lagu.
Mendengar suara tersebut, romi berhenti melangkah dan terdiam. Tia lalu
bernyanyi dengan suara yang indah dan membuat seluruh tamu terpana, di
akhir lagunya ketika tia selesai melantunkan sebuah lagu, ia lalu
berkata, lagu ini untuk seorang yang sangat aku sayangi.
Para tamu yang hadir kemudian berteriak "Huuuu...siapa tu!!!"...Tia
melihat seorang lelaki yang wajahnya terlihat bukan dari negara kita,
mungkin ia adalah cowok yang dikenal tia di luar negeri sana.
Setelah tia bernyanyi, papa tia pun berjalan ke arahnya dan
menyampaikan beberapa kata, aku terkejut ketika mendengar kata-kata
papanya, "hari ini tia akan memperkenalkan seoarang cowok yang sangat
dicintainya, dan hari ini juga saya akan meresmikan hubungan mereka
dengan pertunangan.
Aku menatap ke arah romi, terlihat tatapan kosong di matanya...aku
tahu apa yang ia rasakan. Tia lalu berkata melalui sebuah mikropon yang
digenggamnya, "hari ini saya akan memperkenalkan seorang cowok yang
sangat saya cintai, berhubung papa saya memaksa saya untuk langsung saja
tunangan dengan cowok itu hehehe...tapi kan ga bisa maksa juga, kali
aja tu cowok ga suka dengan aku...", kata tia sambil tertawa.
Ketika tia sedang berbicara, seoarang cowok bule tadi berjalan ke
arah tia, "apakah cowok itu yang tia maksud?", tanyaku dalam hati.
Melihat hal ini, romi datang ke arahku dan berkata padaku, "ayo kita
pulang, ga ada gunanya kita disini...".
Tapi tiba-tiba ketika kami akan berjalan keluar rumah itu, aku
mendengar tia berkata "benerkan ga bisa maksa untuk tunangan hari ini,
kali aja tu cowok ga nerima aku untuk jadi tunangan dia, buktinya dia ga
datang malam ini". Aku semakin bingung mendengar kata-kata tia,,,dan
aku terdiam sejenak di sana walaupun romi terus melangkah ke arah
mobilnya.
Karena sudah tak tahan lagi, aku lalu memberanikan diri berteriak
"memang siapa cowok itu!!!". mendengar kata-kataku para tamu yang hadir
pun ikut berteriak memaksa "Ya...Siapa!!!"...
Tia lalu terdiam sejenak dan perlahan berkata "dia itu
sahabatku...romi....". Mendengar perkataan tia aku langsung berlari ke
arah tia berdiri dan menghampirinya, kemudian aku berkata "romi datang
kok,,,dari tadi dia pengen...". Belum selesai aku bicara, tia langsung
memotong kata-kataku , "mana romi?...kamu siapa?!!!...jangan bohong
ah!!!", kata tia dengan wajah yang penasaran. "Kamu ga perlu tahu aku
siapa, yuk ke tempat romi...".
Aku lalu menarik tangan tia ke tempat mobil romi diparkirkan, ketika
aku dan tia sampai disana, kami tidak melihat romi, hanya sebuah kado
yang terletak disana. Tia lalu mengambil kado itu dan membaca kata-kata
yang ditulis romi,,,
Tia selamat ulang tahun ya...semoga kamu panjang umur dan selalu
bahagia, o ya hari ini aku sangat senang bisa melihat kamu, walaupun aku
ga bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan,,,tapi aku bahagia kok,
karena kamu sudah memiliki seorang pilihan dan akan tunangan...
Membaca tulisan itu, air mata tia seakan berjatuhan tanpa
henti...ia kemudian memeluk kado itu dengan segenap hatinya. Lalu ia
berjalan sambil menangis ke dalam rumahnya, para tamu sangat bingung
melihat tia, papa tia langsung memeluk tia yang sedang menangis itu.
Terlihat suasana sangat mengarukan...
Tapi ketika kesunyian sedang menyelimuti saat itu, terdengar suara
nyanyian seorang laki-laki dengan petikan gitar yang memecah kesepian.
Seakan aku mengenal suara itu, semua orang disana menatap arah suara
yang merdu itu, lantunan nada-nada indah terdengar ketika itu. Setelah
ia selesai bernyanyi, ia berkata "lagu ini untuk orang yang sangat aku
cintai...dia itu sahabatku...".
Wah ternyata itu romi, teriakku dalam hati. Tia langsung berlari ke
arah romi dan langsung memeluknya. "Maafin aku romi...", kata tia kepada
romi. "Kamu ga salah kok, aku aja yang ga pernah berani untuk mengakui
kalau selama ini cewek yang aku cari itu adalah kamu...", jawab romi.
Tia lalu tersenyum menatap wajah romi. Semua terdiam, tak ada sedikitpun
suara yang terdengar...
Hingga ketika romi berkata "Aku cinta kamu tia", kata romi yang
kemudian mengecup kening tia dengan indahnya. Aku pun seakan tak bisa
berkata, tak ada sebuah kata yang mampu kuucapkan. "Aku juga cinta kamu
romi...", jawab tia dengan perlahan yang kemudian memeluk tubuh romi.
Terdengar riuh tepuk tangan para tamu yang hadir, aku melihat ke arah
papa tia, ia meneteskan air mata dari matanya yang sangat memerah.
Mungkin inilah takdir yang sudah dituliskan oleh yang maha kuasa, di
mana cinta tak akan pernah hilang bila manusia tersebut benar-benar
menginginkannya...





0 komentar:
Posting Komentar