BAJU TIDUR
Seorang kakek 70-an pergi ke pertokoan untuk membeli hadiah ulang tahun buat istrinya tercinta. Si kakek kebingungan karena seingatnya tidak ada satupun barang keperluan wanita yang belum dimiliki istrinya. Ketika si kakek melewati sebuah toko pakaian dalam, timbul keinginannya untuk membelikan baju tidur yang transparan dan seksi agar istrinya senang dan merasa muda kembali. Si kakek masuk dan disambut oleh seorang pramuniaga. “Saya ingin membeli baju tidur yang paling seksi dan paling transparan,” kata si kakek. Si pramuniaga mengangguk, mengambilkan apa yang diinginkan si kakek dan membungkusnya dengan rapi. Si kakek pun pulang dan memberikan kadonya ke istrinya. “Selamat ulang tahun. Bukalah di kamar.” Si istri membawa kadonya ke kamar dan membukanya. Dengan penuh suka cita dicobanya baju tidur transparan tersebut. Saking transparannya, seolah-olah dia tidak berbaju sama sekali. Tiba-tiba timbul ide di kepalanya untuk memberi kejutan kepada suaminya dengan tampil tanpa memakai apapun. “Sayang ke sini deh,” katanya memanggil suaminya. “Ya ampunnn* Baju begitu mahal kok nggak disetrika,” jerit sang suami kaget.
PALING HEBAT
Dua anak kecil bertengkar mengenai ayah siapa yang lebih hebat.
Anaknya Irsan: “Papaku lebih hebat daripada papamu”
Anaknya Jimmy: “Kalo gitu, mamaku lebih hebat daripada mamamu”
Anaknya Irsan mengingat-ingat: “rasanya kamu benar, papaku selalu bilang begitu.”
BETAWI vs JAWA
Seorang Haji dari Betawi mengirimkan anak gadisnya ke Jogja untuk sekolah di Jogja dengan harapan anaknya menjadi sarjana dan jauh dari pergaulan liar di Jakarta. Setelah menitipkan ke Ibu kost yang dia percayai, pulanglah dia ke Jakarta. 3 bulan kemudian, si anak gadis telpon ke Bapaknya memberitahu bahwa dia hamil 2 bulan. Marahlah si Pak Haji dan mendatangi si Ibu Kost. “Bagaimana ente …. saya beri tangunggjawab anak gadis saya, kok bisa kejadian kayak gini ..?” Jawab si Ibu Kost :” Aduh Pak, kulo mboten mangertos, seng kulo ngertos, anak ipun Pak Haji mandine dhewe, tiduri pun dhewe, belajar nang kamar dhewe,..” Sebelum si Ibu kost menyelesaikan kalimatnya, marahlah Pak Haji sejadi-jadinya “Pegimana kagak hamil, anak gue mandi di-ewe, tidur di-ewe, sampai belajar aja di-ewe !!!!!!!!!!
SAHABAT COKELAT
“Irama! Sudah hampir setengah
jam kamu di dalam! Ayo cepat!” terdengar suara seorang wanita yang
menggelegar di telingaku. Tidak asing lagi pemilik suara “petir” di pagi
hari itu, tak lain adalah ibuku. Ibu memang suka sekali bernyanyi
setiap pagi, ketika membangunkanku, memanggilku untuk sarapan, atau
ketika aku lama di dalam kamar mandi.
Memang, tak terasa waktu yang kuhabiskan ketika aku berada dalam kamar mandi. Segera aku membilas diri, sambil tetap bernyanyi dan dalam hitungan detik aku sudah berjalan menuju kamar. “Cepat sedikit! Kamu belum sarapan juga!” menggelegar kembali suara ibu dari balik pintu kamar. “Ya bu!” kataku sambil memakai seragam putih abu-abu, hari ini hari Senin, aku harus memakai seragam yang lengkap. Topi, dasi, sepatu hitam harus siap sedia.
Aku mengangguk, lalu tersenyum kepada bapak dan ibu. Sungguh baik memiliki kedua orangtua yang selalu pengertian kepada anaknya. “Dadah!” kataku melambaikan tangan dari balik pagar. Kemudian aku mulai berlari-lari kecil dari depan rumahku. Letak sekolahku memang tidak begitu jauh dari sekolah, hanya terpaut sekitar 1 kilometer. Jadi setiap pagi aku berjalan kaki, terkadang bersama adikku, atau dengan temanku, Azka namanya. “Oh ya Azka! Aku kan janjian dengan dia untuk berangkat bareng!” kataku agak panik. Jam tanganku menunjukkan pukul 06.42, sekitar sepuluh menit lagi sekolahku akan masuk. “Aku harus lari pagi nih!” kataku setelah mengikat rambutku lalu mengambil start layaknya seorang pelari. “Aku tak boleh telat! Bisa-bisa kena hukum lagi sama Bapak Surdi!” Peraturan di sekolahku, siswa-siswi yang telat diharuskan membersihkan lapangan sekolah dan tidak boleh masuk jam pertama. “Hari ini ulangan Fisika juga jam pertama, aku tak boleh telat!”
Nafasku berpacu dengan langkahku, rokku yang panjang membuat laju lariku agak terhambat, ingin rasanya aku memakai celana saja karena tidak merepotkan. Lagi-lagi peraturan sekolah yang mewajibkanku. “Peduli amat dengan rok panjang, yang pasti aku tak boleh telat!” Gedung sekolahku sudah terlihat, hanya tinggal berjarak beberapa ratus meter dari gang depan. Aku mengambil nafas sebentar, dan melihat jam tanganku kembali. Pukul 06.48. Masih ada cukup waktu, pikirku. Ketika aku mulai berlari kembali, sesosok wajah yang kukenal lewat di depan wajahku, yang wajahnya sudah tidak asing lagi bagiku. Siswi itu berlari juga seperti aku, hanya saja ia berlari lebih cepat karena tubuhnya yang lebih kecil daripadaku. “Hei, Azka!” teriakku kepadanya. Ya, nama siswi itu adalah Azka, teman sekelasku sekaligus teman rumahku. Dia adalah seorang yang cekatan, lincah, ahli dalam berbicara. Hampir sama denganku, ia juga seorang yang cuek. Berdasarkan kecocokan itulah, kami cepat akrab.
Azka sejenak menoleh, lalu kembali berteriak kepadaku, “Hah? Ira? Kamu juga terlambat?” Aku berlari menghampirinya, “Terlambat? Masih ada waktu kok.” Azka menggelengkan kepalanya, “Kau ini pelupa yah, hari ini hari Senin, upacara tau!”
Seperti tersengat jutaan voltase listrik, aku kaget mendengar. Ya hari Senin! Upacara akan segera dimulai, sekolah pasti masuk sepuluh menit lebih cepat. Untuk itu tadi aku menyiapkan topi, astaga bagaimana aku bisa lupa! “Astaga! Aku lupa Zka!” Azka memang sudah tidak terkejut lagi melihat aku yang pelupa ini. Begitupun dia, bangun kesiangan karena semalam nonton bola bersama ayahnya, begitulah sekiranya ia menjelaskan kepadaku. Tak berbasa-basi lagi, kami berdua berlari menuju pintu gerbang sekolah.
Kami ber-empat cukup eksis di sekolah, bukan karena hal buruk lho. Kami ber-empat adalah siswi-siswi yang telah mengharumkan nama baik sekolah, mulai dari Adel yang jago renang; dia adalah seorang atlit renang dan telah memenangkan tiga kompetisi besar sampai saat ini, dan meraih dua emas dan satu perak di antaranya, dia juga jago bermain piano. Kemudian, Meli, walau sekilas dia terlihat biasa saja, sebenarnya dia itu mengikuti olimpiade debat bahasa Inggris dan sudah dua kali membawa nama baik sekolah kami hingga ke tingkat provinsi. Lalu Azka, selain dia yang paling “tomboi” di antara kami, Azka yang seorang atlit karate juga mahir soal berhitung, dia juga dijuluki Mak Pedit, karena setiap meminjamkan uang kepada temannya akan dikenakan bunga, sungguh orang yang perhitungan sekali. Tapi itulah teman-temanku, dan aku sendiri? Irama Melodwi, itulah namaku. “Irama” berarti nada, dan “Melodwi” adalah permainan kata dari “melodi” dan “dwi” yang artinya alunan nada kedua, karena aku anak kedua di keluargaku, setidaknya itu yang bapak pernah bilang padaku. Selain aktif di Paskriba sekolahku, aku pernah mewakili sekolahku hingga tingkat kota, sungguh menyenangkan. Selain itu aku hobi bernyanyi dan kata teman-temanku, suaraku bagus dan merdu. Bukan berarti sombong lho.
Kami semua berteman baik sejak kelas 1 SMA, kemana-mana selalu bersama, suka duka kami cicipi bersama. Dari disanjung oleh satu sekolah hingga ditertawakan oleh satu sekolah pun pernah kami rasakan. Kalau dibilang sahabat tak abadi, bisa dibilang benar bisa dibilang salah, apapun pendapat orang, bagiku mereka adalah sahabatku selama SMA ini. Tapi hubungan persahabatan kami mulai berubah, sejak kedatangan seorang siswa baru, Raden namanya. Entah kenapa karena seorang ini, hubungan kami yang tadinya baik-baik saja kini berubah menjadi “tidak baik-baik” lagi.
Keesokan harinya, saat bel istirahat berbunyi, aku mengajak kedua sahabatku, Azka dan Meli untuk makan ke kantin. Kebetulan aku belum sarapan, karena kesiangan lagi. Namun di tempat kami biasa makan, sudah duduk menanti Adel bersama semangkuk bakso dan segelas es teh di depannya. “Kita telat satu ronde nih,” kataku.
Dengan segera, aku memesan indomie rebus lengkap dengan telor kesukaanku, diikuti oleh Azka dan juga Meli. Tak lupa aku memesan es teh manis sebagai minumannya. Sambil makan, kami mulai larut dalam perbincangan.
“Del, kamu kemana saja sih? Kok gak main sama kita-kita lagi?” tanyaku.
“Maaf Ra, aku sibuk les piano, soalnya akan ada lomba, ayahku memintaku untuk meningkatkan latihanku.”
“Lomba? Kapan Del?” tanya Meli.
“Tepatnya dua minggu dari sekarang, di Jakarta, aku diikutsertakan sama papaku.”
“Pantes saja, jadi kamu latihan setiap hari?”
“Iya Ra, aku gak mau mengecewakan papa.” Aku tersenyum kepadanya, sungguh Adel adalah seorang yang patuh kepada kedua orangtuanya. Tak seperti aku.
“Ngomong-ngomong soal lomba, kalian udah denger belum soal anak baru yang ganteng itu?” sambung Meli. “Aku denger, siswi-siswi di sini berlomba cari tahu tentang dia lho.”
“Ah kamu ini,” kataku, “Kalo enggak ngomongin hape, pasti ngomongin cowo, huuu.”
“Ih biarin, emang kamu enggak penasaran apa sama dia?”
“Enggak tuh,” jawabku dingin.
“Huuu, judes amat sih kamu Ra,” balas Meli. Aku hanya menyendok bakso ke dalam mulutku saja, menurutku apa pentingnya membicarakan masalah “cowo”.
“Oh ya aku tau,” sambung Azka, “Anak cowo pindahan baru itu yah? Kalau gak salah namanya...”
“Raden!” jawab Adel secepat kilat. “Itu dia anaknya!” katanya sambil menunjuk ke arah seberang meja makan kami, terlihat beberapa anak cowo berjalan ke arah sana, aku kenal beberapa dari mereka. Yang berkacamata di depan adalah Ubay, terus ketua kelas kami Andra, dibelakangnya disusul Evan dan wajah yang ini baru kulihat, laki-laki tinggi berkulit cokelat muda, sudah pasti dia Raden yang dibicarakan.
“Tuh kan ganteng banget,” kata Meli. “Lihat deh badannya tinggi, mukanya manis dan gayanya itu deh oke banget!”
“Setuju, aku langsung luluh nih,” Kata Adel sejalan dengan Meli.
“Ih apasih kalian? Biasa aja tuh dia,” jawabku. “Iya kan Zka?”
“Akan beda ceritanya kalau Raden itu laki-laki yang punya mobil BMW yang menjemputnya dan selalu traktir siapa saja.”
“Huuu, kamu juga ikut-ikutan mereka.”
Raden, oh ya aku ingat, murid baru pindahan di kelas sebelah. Tempo hari, Bu Yaya memberitahukannya ketika sedang mengajar, beliau bilang Raden pindahan dari Jakarta, dan sekarang tinggal di sini untuk bersekolah. “Mohon ya kalian menerima dia dan membuatnya nyaman di sekolah kita, walau dia tidak sekelas dengan kalian,” pesan Bu Yaya kepada kami. Sebenarnya aku melihat dia biasa saja, tapi entah kenapa waktu aku melihat dia seolah matanya menyapa mataku, atau mungkin aku hanya berlebihan.
Sepulang sekolah, aku dan Azka kembali jalan berdua. Siang itu cukup terik, jadi aku dan Azka berjalan di balik bayang-bayang gedung sekolah. Aku yang berjalan tanpa melihat ke depan tiba-tiba, BRUK! Aku menabrak seseorang hingga tubuhku jatuh ke belakang, Azka segera menolongku.
“Oh, maaf ya, aku tak sengaja...” kataku sambil bangun dan astaga! Itu Raden! Itu Raden yang aku tabrak baru saja.
“Enggak, enggak, aku yang salah, maaf ya...” katanya dengan suara yang terdengar lembut di telingaku. Dia mencoba melihat bed namaku untuk mengetahui siapa yang baru ditabraknya. “Hem, maaf ya... Irama?” katanya.
“Iya, tak apa kok.”
“Aku sedikit meleng tadi,” jelasnya. “Kamu gak apa-apa?”
“Iya, paling Cuma lecet sedikit, sisanya baik-baik aja kok, iya kan Zka?” kataku kepada Raden.
“Oh, jadi kamu yang bernama Azka?” tanya Raden kepada Azka yang berdiri di sebelahku. Singkat cerita kami berkenalan dan berbincang sebentar, Raden adalah anak yang sopan, baik dan halus kepada perempuan. Bahkan dia menawarkan diri untuk menemani kami pulang, tapi aku menolaknya.
“Lain kali saja ya Den, aku dan Azka mau buru-buru ke warnet,” jelasku.
“Baik, tak apa kok,” katanya dengan tersenyum. Segera aku berpamitan dengannya dan menarik tangan temanku, Azka untuk segera berlalu daripadanya.
“Hei Ra, kok ditolak sih tawarannya? Kan lumayan naik mobil BMW.”
“Kamu ini, sudahlah biasanya kita pulang jalan kaki juga, jangan males!” kataku sambil berjalan diikuti langkah dari Azka.
Mungkin sejak saat itu, aku baru menyadari bahwa Raden adalah laki-laki yang baik, oh tidak apakah aku suka padanya? Baru saja pertama bertemu, aku langsung teringat terus kepadanya, bagaimana suaranya terdengar atau tatapan matanya yang berbicara kepadaku. Kenapa ini? Rasanya jantungku berdegup cepat, ingin rasanya aku ngobrol dengan Raden lagi. Setiap malam, aku dan ketiga sahabatku itu curhat satu sama lain, tapi kami tidak pernah ngobrol tentang Raden. Jadi aku rasa aku simpan sendiri saja cerita ini buatku.
Waktu menunjukkan pukul setengah 8 malam, rasanya sudah berat kedua mataku. Kututup saja buku pelajaran sejarah yang sedari tadi kubaca untuk ulangan besok. Kurebahkan diriku pada ranjang, dan kuambil Hpku. “Ah, aku sms enggak ya Raden? Gimana kalo enggak dibales?” tanyaku. Aku takut mengganggunya, karena sejujurnya aku belum kenal dia, mungkin saja ia sudah lupa sama aku. Tapi akhirnya aku sms dia juga, “Hai Raden, lagi apa? Masih ingat aku, Irama?” Kok aku jadi berdebar-debar yah? Jadi gugup sendirian, gak salah kan sms begitu sama seseorang?
Tak lama, Hpku berdering, satu pesan masuk. Segera saja kubuka, dari Raden ternyata! “Hai juga Irama, iya aku ingat kok, maaf yah soal waktu itu, ada apa?” tanyanya dalam sms. Kuputuskan untuk berbalas sms dengan dia, mulai dari hal-hal kecil hingga yang mendalam. Cukup lama kami berdua smsan. Aku jadi mengetahui, kalau Raden itu pindah ke sini karena ayahnya yang seorang arsitek sedang dinas di kota ini, tapi dia juga tidak tau sampai kapan akan tinggal disini. Tak kusadari jam menunjukkan pukul 9 kurang, aku sudah mengantuk berat rasanya, hingga aku lupa membalas sms darinya kembali.
Hari Sabtu tiba, hari ini tidak ada kegiatan belajar mengajar di sekolahku. Aku diminta oleh adik kelasku untuk melatih junior-junior Paskibra. Jadi sudah sejak pukul 7 pagi aku berada di sekolah. Sampai kira-kira jam 9, aku yang sedang beristirahat, melihat Hpku dan baru menyadari kalau sms dari Raden semalam belum dibalas. Maka aku mengirimkan pesan kepadanya, “Maaf yah semalam aku ketiduran, hehehe.” Kami pun mulai smsan lagi, dan aku juga baru tau kalau Raden tidak ke sekolah hari itu. Dia bersama teman-temannya sedang bermain di rumah Andra. Cukup lama kami smsan, hingga malam pun masih aku tekuni. Dia itu tidak membosankan orangnya, asik diajak bicara dan sopan sekali. Aku juga bercerita kepada ibu mengenai hal ini, ibu hanya berpesan, “Jangan terlalu terlena dengan laki-laki, kalau sudah jatuh nanti sakit rasanya.”
Sudah satu bulan ini setiap hari aku smsan sama Raden, walau aku masih bermain dengan Azka, Adel dan Meli, sedikitpun tak pernah aku singgung masalah ini dengan mereka. Cukup aku saja yang mengetahuinya. Tapi, entah kenapa aku merasa nyaman sama Raden, apa karena dia baik dan sopan ya? Dia juga terkenal baik di antara guru. Tetapi aku masih bingung, sebenarnya aku suka sama dia atau tidak? Ketika di sekolah kami jarang bertemu, karena aku bersama-sama dengan teman-temanku, sementara dia bersama teman-temannya. Kadang, ketika aku dan teman-teman melihat dia, dia seolah melirik kepadaku dan tersenyum, atau karena perasaanku saja ya?
Malam itu, setelah selesai mengerjakan tugas bahasa Inggris, aku kembali sibuk dengan Hpku. Tapi dari jam makan malam, hingga sudah mengantuk, tidak kuterima sms dari Raden. Ingin aku mengirim sms kepadanya dan kembali berbincang seperti biasa, tapi aku malu, dan kenapa harus aku terus yang sms dia duluan? Malam itu terasa sepi, tanpa sms dari dia yang aku tunggu.
Keesokan harinya, ketika sedang berkumpul dengan teman Paskibra, aku memutuskan untuk bercerita dengan seorang temanku yang lain. Aku yakin dia tidak bermulut ember dan bisa menyimpan rahasia ini antara kami berdua.
“Hei, Syahra, bisa ngobrol sebentar?” tanyaku.
Syahra, yang sedang duduk sendirian segera mempersilahkanku, “Kenapa Ra? Sini duduk disebelahku.”
Kutaruh tasku disebelahku, “Begini, aku bingung mau mulai cerita darimana sama kamu...”
“Tentang apa Ra? Kamu lagi ada masalah?”
“Bukan, bukan itu. Aku mau ngomong tapi enggak enak, aku malu.”
“Kenapa harus malu?”
“Janji yah kamu enggak akan ketawa atau bilang ini ke orang lain?” tanyaku sambil menatap matanya.
“Iya Ra, aku janji, kenapa?”
Syahra tertawa cukup keras. Segera aku menjadi malu, karena beberapa teman dan junior lainnya melihat ke arahku dan dia. Aku yang diliputi rasa malu dan wajah yang memerah, ingin segera bangkit darisana dan pergi. Tapi, Syahra menahan tanganku.
“Eh, eh mau kemana kamu Ra?” cegahnya memegang tanganku. “Aku belum ngomong apa-apa.”
“Habisnya kamu ngetawain aku begitu sih,” kataku kesal sambil kembali duduk.
“Maaf, maaf, habisnya kamu lucu sih Ra.”
“Lucu kenapa?”
“Itu artinya kamu suka sama dia, tapi kamu enggak mau ngakuin kan?” tanya dia kembali. “Kalau ada dia kamu nyaman, kalau lihat dia kamu suka senyum-senyum sendiri, apa lagi yang kamu tunggu?”
“Maksud kamu yang aku tunggu?” tanyaku penuh keheranan.
“Iya, kamu tunggu apa lagi, tunggu dia nembak kamu gitu Ra?”
“Eh, kok kamu bisa berpikiran begitu?”
“Kamu ini gimana, kalau kamu suka sama dia, buat apa nunggu lagi? Keburu diambil orang nanti Ra, yang ada kamu nyesel belakangan.”
“Tapi aku kan cewe...” kataku.
“Terus, cewe gak boleh nembak gitu? Kuno amat sih kamu! Kalau aku jadi kamu sih, aku akan tembak dia segera, dan nyatain perasaan sama dia. Sebentar lagi valentine nih, aku sih akan beli cokelat terus nyatain perasaanku sama dia deh, tapi sebelum itu aku cari tau dulu bagaimana perasaan dia sama kamu.”
“Terus, kalau ternyata dia gak suka sama aku? Setelah aku nyatain perasaan malah gak bisa sedeket kaya begini gimana dong?”
“Ra, Ra, kamu ini terlalu medok ya? Soal diterima atau enggaknya itu belakangan, yang penting kamu enggak sakit nahan perasaan yang kamu miliki buat dia, setelah nyatain kamu akan lega, soal nantinya itu terserah dia mau jawab apa kan?”
Memang benar kata temanku ini, aku memang tak bisa menyimpan perasaan ini lebih lama lagi. Rasanya bercampur aduk antara suka, khawatir, takut dan penasarannya. Syahra benar, aku harus menyatakan perasaan ini, aku harus berani. Setidaknya itu yang ada di pikiranku sekarang. Tapi bagaimana nanti aku bercerita sama Azka, Adel dan Meli? Mereka mendukungku atau tidak.
Malam pun kembali tiba, bintang-bintang bersinar kelap-kelip di angkasa, dengan sang rembulan mengawasi setiap gerakannya. Waktu telah menunjukkan pukul 8, lagi-lagi kesepian menghantuiku. Rasa bosan mendekapku dalam, karena tak ada sms dari Raden, hanya sms dari Azka yang menanyakan ulangan besok dan sms dari Meli yang membicarakan hape barunya. “Ayo dong Den, kamu kemana? Sms aku dong.”
Beberapa menit setelahnya, hpku berdering, memecah kesunyian malam. Segera aku melompat dari ranjangku dan membuka sms itu. Dari Raden! Astaga telah kunantikan sms dari dia, namun kali ini bukan sms seperti biasa, dia mengirimkan sepotong puisi kepadaku dengan judul Semanis Lautan Madu, yang cukup panjang juga. Begitu menyentuh kata-kata yang ia kirimkan, setelah itu aku segera membalas sms darinya, “Puisinya bagus Den.” Setelah itu kami kembali smsan hingga larut malam, betapa senangnya aku bisa kembali smsan dengan dia. Aku bertanya kemana dia dua hari ini baru bisa sms sekarang, dia berkata bahwa dia sedang sibuk dengan tugas-tugas, seolah mengiyakan aku juga menjawab bahwa tugas-tugas pelajar sekarang sangat membebani. Aku pun seperti biasa, tertidur duluan.
Hari Valentine tinggal beberapa hari lagi, tak sabar rasanya aku memberikan hadiah sekotak cokelat kepada Raden, sekaligus untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Saat itu, seperti biasanya kami ber-empat duduk di kantin dan ngobrol. Kali ini senyuman terus menghiasi wajahku.
“Duh, si Ira baru dapat bonus dari ortunya nih,” kata Meli memulai pembicaraan.
“Iya, daritadi senyum-senyum terus, bonusnya banyak yah Ra? Traktir kita-kita dong,” pinta Azka.
“Ih apasih kalian? Enggak kok, aku lagi seneng aja,” jawabku.
“Seneng kenapa sih?” tanya Meli.
“Ada deh pokoknya.”
“Tapi, dibalik senyummu ada yang cemberut tuh,” kata Azka sambil melirik ke arah Adel. Adel terlihat diam saja, dengan wajah yang tidak seceria Adel yang biasa.
“Kamu kenapa Del?” tanyaku.
“Enggak kenapa-kenapa kok, cuma cape aja,” jawabnya singkat.
“Yakin? Kamu gak seperti biasanya Del.”
“Enggak kenapa-kenapa kok temen-temen, sudah ya aku duluan ke kelas,” katanya seraya meninggalkan kami bertiga. Aneh, pikirku. Adel yang biasanya ceria, kini menjadi pendiam.
“Ada apa ya sama Adel?” tanya Meli.
“Tau deh, mungkin dia lagi males ngomong sama kita-kita, aku denger-denger Adel lagi suka sama seseorang,” jelas Azka.
“Sama siapa Zka?” tanyaku.
“Tau deh, coba aja kamu cari tau.”
“Hah sudah, daripada ngomongin Adel, gimana kalau kalian temenin aku nanti pulang sekolah? Mau nggak?” tanya Meli.
“Kemana Mel?” tanya Azka, “Kayaknya aku enggak bisa deh, soalnya mamaku ngajak aku jalan-jalan sore nanti.
“Ih, kamu kok begitu sih Azka, aku mau beli hadiah buat adikku, kalo kamu gimana Ra?” tanyanya kepadaku. “Bisa kan temenin aku?”
“Duh maaf ya Mel,” jawabku, “Nanti sore aku mau ke dokter gigi sama ibu, aku udah janji jauh-jauh hari.” Sebenarnya, sore nanti aku mau membelikan cokelat sebagai hadiah untuk Raden. Aku terpaksa berbohong sama teman-temanku.
“Yaudah deh, aku sendiri aja,” kata Meli.
Maka sore harinya, setelah izin kepada ayah dan ibu, aku pergi sendirian ke mall di dekat rumahku. Sambil melirik-lirik setiap toko kue dan cokelat yang ada disana, aku memilih cokelat yang baik untuk hadiah. Langkahku terhenti di sebuah toko cokelat kecil di lantai tiga, tepat di sebelah toko buku. Aku membeli sekotak cokelat berbentuk hati, yang menggambarkan perasaan hatiku untuk Raden. “Semoga dia suka,” kataku dalam hati lalu aku berjalan pulang meninggalkan toko tersebut.
Hari yang kunantikan telah tiba, hari Valentine yang penuh dengan nuansa cinta. Walau aku bukan seorang perempuan yang terlalu “feminim” tapi untuk acara malam ini, aku memilih untuk berdandan. Tepat hari Sabtu, malam minggu, akan diadakan acara rapat perpisahan untuk kelas 3, dan aku termasuk salah seorang panitia kelas. Raden pun akan datang, dan kesempatan ini akan aku manfaatkan untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Kalau tidak salah, rapat dimulai jam setengah tujuh malam, aku segera menyiapkan kotak cokelat yang kubungkus rapi dengan pita berwarna merah dan kumasukkan ke dalam tasku. Hanya dengan memakai kaos coklat dan jeans, beserta bando favoritku, aku segera melangkahkan kaki menuju sekolahku.
Jam tanganku menunjukkan pukul 6.20 tepat, ketika aku tiba di pintu gerbang. Ketika berjalan masuk, aku melihat motor Meli diparkirkan di parkiran sekolah, apa yang dia lakukan sesore ini di sekolah, pikirku. Ah sudah tak usah ambil pusing soal dia. Aku berjalan melewati lapangan dan kudapati Azka yang baru selesai latihan karate, dia hanya melambaikan tangannya dari kejauhan. Kubalas lambaian tangannya itu. Tetapi, sudah sesore ini, kenapa dia belum pulang? Setahuku, latihan karate telah selesai setengah jam yang lalu. Tapi sudahlah, kenapa aku malah memikirkan dia?
Aku segera berjalan ke arah aula untuk berkumpul dengan yang lainnya. Disana sudah ada beberapa teman yang telah tiba, dan Raden pun sudah disana. Aku duduk di dekat pintu keluar, dan mengamati dirinya dari kejauhan, sayangnya aku tidak bisa mendekat saat itu. Dia terlihat sedang bercengkrama dengan beberapa temannya.
Rapat dimulai, semua siswa dan siswi segera duduk berkumpul membentuk lingkaran. Aku dan Raden tepat duduk berhadapan, bergetar rasanya hatiku ketika menatap matanya. Dia tersenyum kembali ketika melihatku. Antara ragu dan yakin, untuk mengatakan perasaan yang sebenarnya. Rapat dibuka oleh ketua panitia, dan rapat itu berlangsung semu. Waktu berjalan sangat lambat bagiku, satu menit bagaikan satu jam rasanya. Tanpa berpikir ke arah rapat, aku hanya berpikir kata-kata apa yang cocok untuk kusampaikan kepada Raden nanti.
Mereka bertiga mengangguk. Kemudian aku mulai tertawa dengan keras. Ketiga sahabatku itu melihatku penuh keheranan. “Kenapa kamu Ra?” tanya Azka.
“Hahaha lucu yah, kita semua begini, gara-gara Raden seorang...” jawabku.
“Ya, karena seorang cowo, kita semua jadi tidak sedekat dulu,” sambung Meli. “Maafkan aku ya teman.”
“Aku juga,” susul Azka. “Bodohnya kita berlomba-lomba mendapatkan hati satu orang laki-laki, toh cowo yang ganteng dan tajir tidak hanya dia kok.”
“Setuju!” sambung Meli.
“Aku juga ya teman,” kataku sambil merangkul ketiga sahabatku itu. “Maafkan kalian selama ini aku diam saja dan tidak bercerita, bahkan aku berbohong kepada kalian.”
Memang, tak terasa waktu yang kuhabiskan ketika aku berada dalam kamar mandi. Segera aku membilas diri, sambil tetap bernyanyi dan dalam hitungan detik aku sudah berjalan menuju kamar. “Cepat sedikit! Kamu belum sarapan juga!” menggelegar kembali suara ibu dari balik pintu kamar. “Ya bu!” kataku sambil memakai seragam putih abu-abu, hari ini hari Senin, aku harus memakai seragam yang lengkap. Topi, dasi, sepatu hitam harus siap sedia.
Dalam hitungan menit, aku telah
rapi berpakaian. Tas berisi buku pelajaran hari ini telah siap dalam
genggamanku, sebelum aku keluar kamar, kutengok sebentar cermin di
kamar. “Bercermin terus, nanti juga cerminnya pecah!” kata seseorang di
luar kamarku. “Duh, berisik kamu de! Bisanya ganggu kakak aja,” kataku
sambil keluar kamar, hendak mengejarnya namun ia telah masuk ke kamarnya
terlebih dahulu. “Bu, ade tuh!” rengekku.
“Irama! Masih di sana kamu? Sudah cepat makan rotimu! Kalian ini, adik-kakak kenapa bertengkar terus? Nanti kalau sudah jauh, baru kangen-kangenan.” Aku hanya tersenyum malu kepada ibu, memang aku dan adikku tidak akur. Kami sering bertengkar. Walau ia laki-laki dan aku perempuan, tak pernah akur rasanya. Pertengkaran kami biasanya dimulai dengan hal-hal sepele, seperti ketika ia mengejek atau sengaja menyembunyikan barang-barang milikku. Duh, adik seperti itu bikin gemes sekaligus kesel!
Tak sempat duduk di meja makan, aku mengambil setangkap roti bakar isi selai cokelat buatan ibu, sebenarnya tidak cukup untuk dijadikan sarapan, tetapi apa boleh buat, waktu mengejarku. Sambil mengunyah roti itu, aku memakai kedua sepatuku, merapikan dasiku dan segera berlari menuju bapak yang sedang baca koran di depan. “Pak, aku pergi dulu yah,” kataku berpamitan. “Sudah mau berangkat? Tak bareng ademu toh?”
Aku menggelengkan kepala, “Dia masih beres-beres di kamar,” kataku menunjuk ke dalam.
“Pamit dulu sana sama ibu.”
“Ya pak,” kataku sambil beralih kepada ibu yang sedang membawakan secangkir kopi panas untuk ayah. “Bu, aku pergi dulu ya.”
“Rotinya sudah dimakan?” tanya ibu.
“He-eh sudah kok, aku sudah telat nih, dadah,” kataku seraya berlari ke arah teras.
“Eh, sebentar Irama!” panggil bapak.
“Ya, kenapa pak ?”
“Ini uang jajanmu,” kata bapak sambil memberikan dua lembar sepuluh ribuan kepadaku. “Cukup hingga makan siang kan?”
“Irama! Masih di sana kamu? Sudah cepat makan rotimu! Kalian ini, adik-kakak kenapa bertengkar terus? Nanti kalau sudah jauh, baru kangen-kangenan.” Aku hanya tersenyum malu kepada ibu, memang aku dan adikku tidak akur. Kami sering bertengkar. Walau ia laki-laki dan aku perempuan, tak pernah akur rasanya. Pertengkaran kami biasanya dimulai dengan hal-hal sepele, seperti ketika ia mengejek atau sengaja menyembunyikan barang-barang milikku. Duh, adik seperti itu bikin gemes sekaligus kesel!
Tak sempat duduk di meja makan, aku mengambil setangkap roti bakar isi selai cokelat buatan ibu, sebenarnya tidak cukup untuk dijadikan sarapan, tetapi apa boleh buat, waktu mengejarku. Sambil mengunyah roti itu, aku memakai kedua sepatuku, merapikan dasiku dan segera berlari menuju bapak yang sedang baca koran di depan. “Pak, aku pergi dulu yah,” kataku berpamitan. “Sudah mau berangkat? Tak bareng ademu toh?”
Aku menggelengkan kepala, “Dia masih beres-beres di kamar,” kataku menunjuk ke dalam.
“Pamit dulu sana sama ibu.”
“Ya pak,” kataku sambil beralih kepada ibu yang sedang membawakan secangkir kopi panas untuk ayah. “Bu, aku pergi dulu ya.”
“Rotinya sudah dimakan?” tanya ibu.
“He-eh sudah kok, aku sudah telat nih, dadah,” kataku seraya berlari ke arah teras.
“Eh, sebentar Irama!” panggil bapak.
“Ya, kenapa pak ?”
“Ini uang jajanmu,” kata bapak sambil memberikan dua lembar sepuluh ribuan kepadaku. “Cukup hingga makan siang kan?”
Aku mengangguk, lalu tersenyum kepada bapak dan ibu. Sungguh baik memiliki kedua orangtua yang selalu pengertian kepada anaknya. “Dadah!” kataku melambaikan tangan dari balik pagar. Kemudian aku mulai berlari-lari kecil dari depan rumahku. Letak sekolahku memang tidak begitu jauh dari sekolah, hanya terpaut sekitar 1 kilometer. Jadi setiap pagi aku berjalan kaki, terkadang bersama adikku, atau dengan temanku, Azka namanya. “Oh ya Azka! Aku kan janjian dengan dia untuk berangkat bareng!” kataku agak panik. Jam tanganku menunjukkan pukul 06.42, sekitar sepuluh menit lagi sekolahku akan masuk. “Aku harus lari pagi nih!” kataku setelah mengikat rambutku lalu mengambil start layaknya seorang pelari. “Aku tak boleh telat! Bisa-bisa kena hukum lagi sama Bapak Surdi!” Peraturan di sekolahku, siswa-siswi yang telat diharuskan membersihkan lapangan sekolah dan tidak boleh masuk jam pertama. “Hari ini ulangan Fisika juga jam pertama, aku tak boleh telat!”
Nafasku berpacu dengan langkahku, rokku yang panjang membuat laju lariku agak terhambat, ingin rasanya aku memakai celana saja karena tidak merepotkan. Lagi-lagi peraturan sekolah yang mewajibkanku. “Peduli amat dengan rok panjang, yang pasti aku tak boleh telat!” Gedung sekolahku sudah terlihat, hanya tinggal berjarak beberapa ratus meter dari gang depan. Aku mengambil nafas sebentar, dan melihat jam tanganku kembali. Pukul 06.48. Masih ada cukup waktu, pikirku. Ketika aku mulai berlari kembali, sesosok wajah yang kukenal lewat di depan wajahku, yang wajahnya sudah tidak asing lagi bagiku. Siswi itu berlari juga seperti aku, hanya saja ia berlari lebih cepat karena tubuhnya yang lebih kecil daripadaku. “Hei, Azka!” teriakku kepadanya. Ya, nama siswi itu adalah Azka, teman sekelasku sekaligus teman rumahku. Dia adalah seorang yang cekatan, lincah, ahli dalam berbicara. Hampir sama denganku, ia juga seorang yang cuek. Berdasarkan kecocokan itulah, kami cepat akrab.
Azka sejenak menoleh, lalu kembali berteriak kepadaku, “Hah? Ira? Kamu juga terlambat?” Aku berlari menghampirinya, “Terlambat? Masih ada waktu kok.” Azka menggelengkan kepalanya, “Kau ini pelupa yah, hari ini hari Senin, upacara tau!”
Seperti tersengat jutaan voltase listrik, aku kaget mendengar. Ya hari Senin! Upacara akan segera dimulai, sekolah pasti masuk sepuluh menit lebih cepat. Untuk itu tadi aku menyiapkan topi, astaga bagaimana aku bisa lupa! “Astaga! Aku lupa Zka!” Azka memang sudah tidak terkejut lagi melihat aku yang pelupa ini. Begitupun dia, bangun kesiangan karena semalam nonton bola bersama ayahnya, begitulah sekiranya ia menjelaskan kepadaku. Tak berbasa-basi lagi, kami berdua berlari menuju pintu gerbang sekolah.
Dugaanku benar.
Kami berdua telat masuk pagi itu. Ketika siswa dan siswi yang lain
tengah melaksanakan upacara bendera, kami berdua dan beberapa siswa yang
terlambat berdiri di halaman depan sekolah, berbaris menunggu hukuman
yang akan diberikan. Kulihat satu persatu wajah mereka, ada yang masih
mengantuk, ada seorang siswa yang belum menyisir rambutnya, tak pakai
dasi, gesper atau bahkan lupa memakai kaos kaki. Aku hanya tertawa
sendiri saja melihat hal itu, walau aku sendiri bernasib sama seperti
mereka. Dari sekian banyak wajah yang kulihat, di barisan depan aku
mengenali seseorang. Seorang siswi berkulit sawo matang dengan rambut
lurus tergerai, siapa lagi kalau bukan teman sekelasku, Meli namanya.
Dia memang langganan terlambat, wajar saja rumahnya sangat jauh dari
sekolah. Dia pernah berkata kepadaku bahwa untuk sampai ke sekolah saja
ia membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan, belum dihitung dengan
macetnya. “Bakal ramai nih pagi ini!” kataku kepada Azka yang berbaris
di sebelahku, Azka sendiri hanya menatapku bingung.
“Fiuhhh.... apa tidak ada tugas yang lebih berat selain belajar?” kataku sambil memunguti sampah di dekat pohon bambu, di halaman depan sekolah. “Kalau bapak ibuku melihat ini, mereka akan menangis kurasa.”
“Ya Ra, aku setuju. Masa kita disuruh mungutin sampah sih?” lanjut Azka sejalan dengan perkataanku.
“Sudah ah Zka, aku capek! Habis lari disuruh pungutin sampah juga!” Kataku sambil memasukkan sampah plastik dan beberapa dedaunan kering ke dalam tempat sampah. Segera aku duduk di sebelah pohon bambu itu dan membuka tasku, mencari saputanganku untuk menyeka keringat yang bercucuran. “Astaga! Kita melewatkan ulangan Fisika Zka!”
Azka hanya terdiam, dia memang tidak peduli mengenai ulangan pelajaran yang membingungkan itu. “Peduli amat sama itu Ra! Menyusul nanti juga bisa, Bu Yaya baik ini sama kita.”
“Iya sih, Zka tapi percuma dong aku belajar semalaman...” kataku meratapi buku paket fisika yang kupegang itu. “Lagi-lagi berdua menyusul yah?”
“Ehem! Bertiga!” kata Meli yang tiba-tiba bergabung bersama kami. “Kalian jahat melupakan aku!”
“Hehehe, aku lupa ada kamu Mel...” kataku.
“Eh, ngapain kamu disini? Nanti Pak Surdi tau lho kita gak ngambilin sampah,” jawab Azka yang kini turut duduk di sebelahku.
“Sudah tenang saja,” jelas Meli. “Pak Surdi gak bisa lihat kita disini, tuh dia berdiri di sana, terlalu jauh untuk melihat kita di ujung sini.” Lalu setelah merasa aman untuk berbincang, kami bertiga sudah larut dalam pembicaraan ala remaja putri.
Tidak terasa hari Senin itu berlalu dengan cepat, bel berbunyi nyaring seakan menyegarkan pikiranku dari pelajaran yang rumit. Ingin segera aku merebahkan diri pada kasur tempat tidurku, menikmati segelas es teh manis dan membaca majalah favoritku, namun sekali lagi aku harus memacu otakku di siang hari yang panas itu. Kami bertiga harus mengikuti ulangan susulan Fisika siang itu juga, bertempat di ruang guru. Untung saja aku sudah belajar, entah dengan kedua temanku itu. Kami duduk berjauhan dalam ruang guru, dengan mata Bu Yaya mengawasi gerak-gerik kami. Setelah setengah jam berlalu, selesai sudah aku berkelut dengan soal-soal Fisika. Azka dan Meli pun mengumpulkan soal mereka beberapa menit setelah aku. Lalu kami berjalan pulang bersama, Aku dan Azka meneruskannya dengan berjalan kaki sementara Meli segera menuju motornya di parkiran sekolah.
“Zka, daritadi kok aku tidak lihat Adel ya?” kataku memulai pembicaraan.
“Entahlah,” jawab Azka mengangkat bahunya. “Setahuku dia masuk kok, kalau gak salah dia tadi dijemput sama supirnya.”
“Sekarang dia sibuk yah,” sambungku, “Kalo ingat dulu kita suka main sama-sama rasanya kangen deh.”
“Itu sudah 2 tahun lalu Ra, sekarang kita sudah kelas 3, sudah punya kesibukan masing-masing.” Memang benar, kami ber-empat sudah merupakan teman sejak kelas 1 SMA. Saat itu kami masih lucu-lucunya bila dibandingkan sekarang. Temanku yang seorang lagi bernama Adelia, aku biasa memanggilnya dengan Adel.
“Fiuhhh.... apa tidak ada tugas yang lebih berat selain belajar?” kataku sambil memunguti sampah di dekat pohon bambu, di halaman depan sekolah. “Kalau bapak ibuku melihat ini, mereka akan menangis kurasa.”
“Ya Ra, aku setuju. Masa kita disuruh mungutin sampah sih?” lanjut Azka sejalan dengan perkataanku.
“Sudah ah Zka, aku capek! Habis lari disuruh pungutin sampah juga!” Kataku sambil memasukkan sampah plastik dan beberapa dedaunan kering ke dalam tempat sampah. Segera aku duduk di sebelah pohon bambu itu dan membuka tasku, mencari saputanganku untuk menyeka keringat yang bercucuran. “Astaga! Kita melewatkan ulangan Fisika Zka!”
Azka hanya terdiam, dia memang tidak peduli mengenai ulangan pelajaran yang membingungkan itu. “Peduli amat sama itu Ra! Menyusul nanti juga bisa, Bu Yaya baik ini sama kita.”
“Iya sih, Zka tapi percuma dong aku belajar semalaman...” kataku meratapi buku paket fisika yang kupegang itu. “Lagi-lagi berdua menyusul yah?”
“Ehem! Bertiga!” kata Meli yang tiba-tiba bergabung bersama kami. “Kalian jahat melupakan aku!”
“Hehehe, aku lupa ada kamu Mel...” kataku.
“Eh, ngapain kamu disini? Nanti Pak Surdi tau lho kita gak ngambilin sampah,” jawab Azka yang kini turut duduk di sebelahku.
“Sudah tenang saja,” jelas Meli. “Pak Surdi gak bisa lihat kita disini, tuh dia berdiri di sana, terlalu jauh untuk melihat kita di ujung sini.” Lalu setelah merasa aman untuk berbincang, kami bertiga sudah larut dalam pembicaraan ala remaja putri.
Tidak terasa hari Senin itu berlalu dengan cepat, bel berbunyi nyaring seakan menyegarkan pikiranku dari pelajaran yang rumit. Ingin segera aku merebahkan diri pada kasur tempat tidurku, menikmati segelas es teh manis dan membaca majalah favoritku, namun sekali lagi aku harus memacu otakku di siang hari yang panas itu. Kami bertiga harus mengikuti ulangan susulan Fisika siang itu juga, bertempat di ruang guru. Untung saja aku sudah belajar, entah dengan kedua temanku itu. Kami duduk berjauhan dalam ruang guru, dengan mata Bu Yaya mengawasi gerak-gerik kami. Setelah setengah jam berlalu, selesai sudah aku berkelut dengan soal-soal Fisika. Azka dan Meli pun mengumpulkan soal mereka beberapa menit setelah aku. Lalu kami berjalan pulang bersama, Aku dan Azka meneruskannya dengan berjalan kaki sementara Meli segera menuju motornya di parkiran sekolah.
“Zka, daritadi kok aku tidak lihat Adel ya?” kataku memulai pembicaraan.
“Entahlah,” jawab Azka mengangkat bahunya. “Setahuku dia masuk kok, kalau gak salah dia tadi dijemput sama supirnya.”
“Sekarang dia sibuk yah,” sambungku, “Kalo ingat dulu kita suka main sama-sama rasanya kangen deh.”
“Itu sudah 2 tahun lalu Ra, sekarang kita sudah kelas 3, sudah punya kesibukan masing-masing.” Memang benar, kami ber-empat sudah merupakan teman sejak kelas 1 SMA. Saat itu kami masih lucu-lucunya bila dibandingkan sekarang. Temanku yang seorang lagi bernama Adelia, aku biasa memanggilnya dengan Adel.
Kami ber-empat cukup eksis di sekolah, bukan karena hal buruk lho. Kami ber-empat adalah siswi-siswi yang telah mengharumkan nama baik sekolah, mulai dari Adel yang jago renang; dia adalah seorang atlit renang dan telah memenangkan tiga kompetisi besar sampai saat ini, dan meraih dua emas dan satu perak di antaranya, dia juga jago bermain piano. Kemudian, Meli, walau sekilas dia terlihat biasa saja, sebenarnya dia itu mengikuti olimpiade debat bahasa Inggris dan sudah dua kali membawa nama baik sekolah kami hingga ke tingkat provinsi. Lalu Azka, selain dia yang paling “tomboi” di antara kami, Azka yang seorang atlit karate juga mahir soal berhitung, dia juga dijuluki Mak Pedit, karena setiap meminjamkan uang kepada temannya akan dikenakan bunga, sungguh orang yang perhitungan sekali. Tapi itulah teman-temanku, dan aku sendiri? Irama Melodwi, itulah namaku. “Irama” berarti nada, dan “Melodwi” adalah permainan kata dari “melodi” dan “dwi” yang artinya alunan nada kedua, karena aku anak kedua di keluargaku, setidaknya itu yang bapak pernah bilang padaku. Selain aktif di Paskriba sekolahku, aku pernah mewakili sekolahku hingga tingkat kota, sungguh menyenangkan. Selain itu aku hobi bernyanyi dan kata teman-temanku, suaraku bagus dan merdu. Bukan berarti sombong lho.
Kami semua berteman baik sejak kelas 1 SMA, kemana-mana selalu bersama, suka duka kami cicipi bersama. Dari disanjung oleh satu sekolah hingga ditertawakan oleh satu sekolah pun pernah kami rasakan. Kalau dibilang sahabat tak abadi, bisa dibilang benar bisa dibilang salah, apapun pendapat orang, bagiku mereka adalah sahabatku selama SMA ini. Tapi hubungan persahabatan kami mulai berubah, sejak kedatangan seorang siswa baru, Raden namanya. Entah kenapa karena seorang ini, hubungan kami yang tadinya baik-baik saja kini berubah menjadi “tidak baik-baik” lagi.
Keesokan harinya, saat bel istirahat berbunyi, aku mengajak kedua sahabatku, Azka dan Meli untuk makan ke kantin. Kebetulan aku belum sarapan, karena kesiangan lagi. Namun di tempat kami biasa makan, sudah duduk menanti Adel bersama semangkuk bakso dan segelas es teh di depannya. “Kita telat satu ronde nih,” kataku.
Dengan segera, aku memesan indomie rebus lengkap dengan telor kesukaanku, diikuti oleh Azka dan juga Meli. Tak lupa aku memesan es teh manis sebagai minumannya. Sambil makan, kami mulai larut dalam perbincangan.
“Del, kamu kemana saja sih? Kok gak main sama kita-kita lagi?” tanyaku.
“Maaf Ra, aku sibuk les piano, soalnya akan ada lomba, ayahku memintaku untuk meningkatkan latihanku.”
“Lomba? Kapan Del?” tanya Meli.
“Tepatnya dua minggu dari sekarang, di Jakarta, aku diikutsertakan sama papaku.”
“Pantes saja, jadi kamu latihan setiap hari?”
“Iya Ra, aku gak mau mengecewakan papa.” Aku tersenyum kepadanya, sungguh Adel adalah seorang yang patuh kepada kedua orangtuanya. Tak seperti aku.
“Ngomong-ngomong soal lomba, kalian udah denger belum soal anak baru yang ganteng itu?” sambung Meli. “Aku denger, siswi-siswi di sini berlomba cari tahu tentang dia lho.”
“Ah kamu ini,” kataku, “Kalo enggak ngomongin hape, pasti ngomongin cowo, huuu.”
“Ih biarin, emang kamu enggak penasaran apa sama dia?”
“Enggak tuh,” jawabku dingin.
“Huuu, judes amat sih kamu Ra,” balas Meli. Aku hanya menyendok bakso ke dalam mulutku saja, menurutku apa pentingnya membicarakan masalah “cowo”.
“Oh ya aku tau,” sambung Azka, “Anak cowo pindahan baru itu yah? Kalau gak salah namanya...”
“Raden!” jawab Adel secepat kilat. “Itu dia anaknya!” katanya sambil menunjuk ke arah seberang meja makan kami, terlihat beberapa anak cowo berjalan ke arah sana, aku kenal beberapa dari mereka. Yang berkacamata di depan adalah Ubay, terus ketua kelas kami Andra, dibelakangnya disusul Evan dan wajah yang ini baru kulihat, laki-laki tinggi berkulit cokelat muda, sudah pasti dia Raden yang dibicarakan.
“Tuh kan ganteng banget,” kata Meli. “Lihat deh badannya tinggi, mukanya manis dan gayanya itu deh oke banget!”
“Setuju, aku langsung luluh nih,” Kata Adel sejalan dengan Meli.
“Ih apasih kalian? Biasa aja tuh dia,” jawabku. “Iya kan Zka?”
“Akan beda ceritanya kalau Raden itu laki-laki yang punya mobil BMW yang menjemputnya dan selalu traktir siapa saja.”
“Huuu, kamu juga ikut-ikutan mereka.”
Raden, oh ya aku ingat, murid baru pindahan di kelas sebelah. Tempo hari, Bu Yaya memberitahukannya ketika sedang mengajar, beliau bilang Raden pindahan dari Jakarta, dan sekarang tinggal di sini untuk bersekolah. “Mohon ya kalian menerima dia dan membuatnya nyaman di sekolah kita, walau dia tidak sekelas dengan kalian,” pesan Bu Yaya kepada kami. Sebenarnya aku melihat dia biasa saja, tapi entah kenapa waktu aku melihat dia seolah matanya menyapa mataku, atau mungkin aku hanya berlebihan.
Sepulang sekolah, aku dan Azka kembali jalan berdua. Siang itu cukup terik, jadi aku dan Azka berjalan di balik bayang-bayang gedung sekolah. Aku yang berjalan tanpa melihat ke depan tiba-tiba, BRUK! Aku menabrak seseorang hingga tubuhku jatuh ke belakang, Azka segera menolongku.
“Oh, maaf ya, aku tak sengaja...” kataku sambil bangun dan astaga! Itu Raden! Itu Raden yang aku tabrak baru saja.
“Enggak, enggak, aku yang salah, maaf ya...” katanya dengan suara yang terdengar lembut di telingaku. Dia mencoba melihat bed namaku untuk mengetahui siapa yang baru ditabraknya. “Hem, maaf ya... Irama?” katanya.
“Iya, tak apa kok.”
“Aku sedikit meleng tadi,” jelasnya. “Kamu gak apa-apa?”
“Iya, paling Cuma lecet sedikit, sisanya baik-baik aja kok, iya kan Zka?” kataku kepada Raden.
“Oh, jadi kamu yang bernama Azka?” tanya Raden kepada Azka yang berdiri di sebelahku. Singkat cerita kami berkenalan dan berbincang sebentar, Raden adalah anak yang sopan, baik dan halus kepada perempuan. Bahkan dia menawarkan diri untuk menemani kami pulang, tapi aku menolaknya.
“Lain kali saja ya Den, aku dan Azka mau buru-buru ke warnet,” jelasku.
“Baik, tak apa kok,” katanya dengan tersenyum. Segera aku berpamitan dengannya dan menarik tangan temanku, Azka untuk segera berlalu daripadanya.
“Hei Ra, kok ditolak sih tawarannya? Kan lumayan naik mobil BMW.”
“Kamu ini, sudahlah biasanya kita pulang jalan kaki juga, jangan males!” kataku sambil berjalan diikuti langkah dari Azka.
Mungkin sejak saat itu, aku baru menyadari bahwa Raden adalah laki-laki yang baik, oh tidak apakah aku suka padanya? Baru saja pertama bertemu, aku langsung teringat terus kepadanya, bagaimana suaranya terdengar atau tatapan matanya yang berbicara kepadaku. Kenapa ini? Rasanya jantungku berdegup cepat, ingin rasanya aku ngobrol dengan Raden lagi. Setiap malam, aku dan ketiga sahabatku itu curhat satu sama lain, tapi kami tidak pernah ngobrol tentang Raden. Jadi aku rasa aku simpan sendiri saja cerita ini buatku.
Kini
setiap pagi aku berjalan menuju kelasku, atau ketika makan di kantin,
pandanganku tertuju pada Raden. Mengapa ia terlihat begitu baik di
mataku? Aku rasa aku menyukai dia. Aku tidak pernah bercerita kepada
siapapun mengenai hal ini, kecuali pada Andra, ketua kelasku. Aku
menanyakan nomor Hp Raden kepadanya, dengan kedok ingin bertanya soal
pelajaran Bu Yaya kemarin. Untung saja Andra tak banyak bertanya, segera
setelah itu aku sudah mendapatkan nomor Hp Raden. “Malam ini aku sms
dia ah,” kataku dalam hati.
Waktu menunjukkan pukul setengah 8 malam, rasanya sudah berat kedua mataku. Kututup saja buku pelajaran sejarah yang sedari tadi kubaca untuk ulangan besok. Kurebahkan diriku pada ranjang, dan kuambil Hpku. “Ah, aku sms enggak ya Raden? Gimana kalo enggak dibales?” tanyaku. Aku takut mengganggunya, karena sejujurnya aku belum kenal dia, mungkin saja ia sudah lupa sama aku. Tapi akhirnya aku sms dia juga, “Hai Raden, lagi apa? Masih ingat aku, Irama?” Kok aku jadi berdebar-debar yah? Jadi gugup sendirian, gak salah kan sms begitu sama seseorang?
Tak lama, Hpku berdering, satu pesan masuk. Segera saja kubuka, dari Raden ternyata! “Hai juga Irama, iya aku ingat kok, maaf yah soal waktu itu, ada apa?” tanyanya dalam sms. Kuputuskan untuk berbalas sms dengan dia, mulai dari hal-hal kecil hingga yang mendalam. Cukup lama kami berdua smsan. Aku jadi mengetahui, kalau Raden itu pindah ke sini karena ayahnya yang seorang arsitek sedang dinas di kota ini, tapi dia juga tidak tau sampai kapan akan tinggal disini. Tak kusadari jam menunjukkan pukul 9 kurang, aku sudah mengantuk berat rasanya, hingga aku lupa membalas sms darinya kembali.
Hari Sabtu tiba, hari ini tidak ada kegiatan belajar mengajar di sekolahku. Aku diminta oleh adik kelasku untuk melatih junior-junior Paskibra. Jadi sudah sejak pukul 7 pagi aku berada di sekolah. Sampai kira-kira jam 9, aku yang sedang beristirahat, melihat Hpku dan baru menyadari kalau sms dari Raden semalam belum dibalas. Maka aku mengirimkan pesan kepadanya, “Maaf yah semalam aku ketiduran, hehehe.” Kami pun mulai smsan lagi, dan aku juga baru tau kalau Raden tidak ke sekolah hari itu. Dia bersama teman-temannya sedang bermain di rumah Andra. Cukup lama kami smsan, hingga malam pun masih aku tekuni. Dia itu tidak membosankan orangnya, asik diajak bicara dan sopan sekali. Aku juga bercerita kepada ibu mengenai hal ini, ibu hanya berpesan, “Jangan terlalu terlena dengan laki-laki, kalau sudah jatuh nanti sakit rasanya.”
Sudah satu bulan ini setiap hari aku smsan sama Raden, walau aku masih bermain dengan Azka, Adel dan Meli, sedikitpun tak pernah aku singgung masalah ini dengan mereka. Cukup aku saja yang mengetahuinya. Tapi, entah kenapa aku merasa nyaman sama Raden, apa karena dia baik dan sopan ya? Dia juga terkenal baik di antara guru. Tetapi aku masih bingung, sebenarnya aku suka sama dia atau tidak? Ketika di sekolah kami jarang bertemu, karena aku bersama-sama dengan teman-temanku, sementara dia bersama teman-temannya. Kadang, ketika aku dan teman-teman melihat dia, dia seolah melirik kepadaku dan tersenyum, atau karena perasaanku saja ya?
Malam itu, setelah selesai mengerjakan tugas bahasa Inggris, aku kembali sibuk dengan Hpku. Tapi dari jam makan malam, hingga sudah mengantuk, tidak kuterima sms dari Raden. Ingin aku mengirim sms kepadanya dan kembali berbincang seperti biasa, tapi aku malu, dan kenapa harus aku terus yang sms dia duluan? Malam itu terasa sepi, tanpa sms dari dia yang aku tunggu.
Keesokan harinya, ketika sedang berkumpul dengan teman Paskibra, aku memutuskan untuk bercerita dengan seorang temanku yang lain. Aku yakin dia tidak bermulut ember dan bisa menyimpan rahasia ini antara kami berdua.
“Hei, Syahra, bisa ngobrol sebentar?” tanyaku.
Syahra, yang sedang duduk sendirian segera mempersilahkanku, “Kenapa Ra? Sini duduk disebelahku.”
Kutaruh tasku disebelahku, “Begini, aku bingung mau mulai cerita darimana sama kamu...”
“Tentang apa Ra? Kamu lagi ada masalah?”
“Bukan, bukan itu. Aku mau ngomong tapi enggak enak, aku malu.”
“Kenapa harus malu?”
“Janji yah kamu enggak akan ketawa atau bilang ini ke orang lain?” tanyaku sambil menatap matanya.
“Iya Ra, aku janji, kenapa?”
Lalu
aku mulai bercerita kepada Syahra, mulai dari aku bertabrakan dengan
Raden hingga kemarin malam aku tidak smsan dengan dia. Syahra
mendengarkan dengan seksama, hingga aku selesai bercerita, dia
mendengarkannya dengan penuh perhatian dan serius.
“Jadi, gimana menurutmu?” tanyaku.
“Jadi, gimana menurutmu?” tanyaku.
Syahra tertawa cukup keras. Segera aku menjadi malu, karena beberapa teman dan junior lainnya melihat ke arahku dan dia. Aku yang diliputi rasa malu dan wajah yang memerah, ingin segera bangkit darisana dan pergi. Tapi, Syahra menahan tanganku.
“Eh, eh mau kemana kamu Ra?” cegahnya memegang tanganku. “Aku belum ngomong apa-apa.”
“Habisnya kamu ngetawain aku begitu sih,” kataku kesal sambil kembali duduk.
“Maaf, maaf, habisnya kamu lucu sih Ra.”
“Lucu kenapa?”
“Itu artinya kamu suka sama dia, tapi kamu enggak mau ngakuin kan?” tanya dia kembali. “Kalau ada dia kamu nyaman, kalau lihat dia kamu suka senyum-senyum sendiri, apa lagi yang kamu tunggu?”
“Maksud kamu yang aku tunggu?” tanyaku penuh keheranan.
“Iya, kamu tunggu apa lagi, tunggu dia nembak kamu gitu Ra?”
“Eh, kok kamu bisa berpikiran begitu?”
“Kamu ini gimana, kalau kamu suka sama dia, buat apa nunggu lagi? Keburu diambil orang nanti Ra, yang ada kamu nyesel belakangan.”
“Tapi aku kan cewe...” kataku.
“Terus, cewe gak boleh nembak gitu? Kuno amat sih kamu! Kalau aku jadi kamu sih, aku akan tembak dia segera, dan nyatain perasaan sama dia. Sebentar lagi valentine nih, aku sih akan beli cokelat terus nyatain perasaanku sama dia deh, tapi sebelum itu aku cari tau dulu bagaimana perasaan dia sama kamu.”
“Terus, kalau ternyata dia gak suka sama aku? Setelah aku nyatain perasaan malah gak bisa sedeket kaya begini gimana dong?”
“Ra, Ra, kamu ini terlalu medok ya? Soal diterima atau enggaknya itu belakangan, yang penting kamu enggak sakit nahan perasaan yang kamu miliki buat dia, setelah nyatain kamu akan lega, soal nantinya itu terserah dia mau jawab apa kan?”
Memang benar kata temanku ini, aku memang tak bisa menyimpan perasaan ini lebih lama lagi. Rasanya bercampur aduk antara suka, khawatir, takut dan penasarannya. Syahra benar, aku harus menyatakan perasaan ini, aku harus berani. Setidaknya itu yang ada di pikiranku sekarang. Tapi bagaimana nanti aku bercerita sama Azka, Adel dan Meli? Mereka mendukungku atau tidak.
Malam pun kembali tiba, bintang-bintang bersinar kelap-kelip di angkasa, dengan sang rembulan mengawasi setiap gerakannya. Waktu telah menunjukkan pukul 8, lagi-lagi kesepian menghantuiku. Rasa bosan mendekapku dalam, karena tak ada sms dari Raden, hanya sms dari Azka yang menanyakan ulangan besok dan sms dari Meli yang membicarakan hape barunya. “Ayo dong Den, kamu kemana? Sms aku dong.”
Beberapa menit setelahnya, hpku berdering, memecah kesunyian malam. Segera aku melompat dari ranjangku dan membuka sms itu. Dari Raden! Astaga telah kunantikan sms dari dia, namun kali ini bukan sms seperti biasa, dia mengirimkan sepotong puisi kepadaku dengan judul Semanis Lautan Madu, yang cukup panjang juga. Begitu menyentuh kata-kata yang ia kirimkan, setelah itu aku segera membalas sms darinya, “Puisinya bagus Den.” Setelah itu kami kembali smsan hingga larut malam, betapa senangnya aku bisa kembali smsan dengan dia. Aku bertanya kemana dia dua hari ini baru bisa sms sekarang, dia berkata bahwa dia sedang sibuk dengan tugas-tugas, seolah mengiyakan aku juga menjawab bahwa tugas-tugas pelajar sekarang sangat membebani. Aku pun seperti biasa, tertidur duluan.
Hari Valentine tinggal beberapa hari lagi, tak sabar rasanya aku memberikan hadiah sekotak cokelat kepada Raden, sekaligus untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Saat itu, seperti biasanya kami ber-empat duduk di kantin dan ngobrol. Kali ini senyuman terus menghiasi wajahku.
“Duh, si Ira baru dapat bonus dari ortunya nih,” kata Meli memulai pembicaraan.
“Iya, daritadi senyum-senyum terus, bonusnya banyak yah Ra? Traktir kita-kita dong,” pinta Azka.
“Ih apasih kalian? Enggak kok, aku lagi seneng aja,” jawabku.
“Seneng kenapa sih?” tanya Meli.
“Ada deh pokoknya.”
“Tapi, dibalik senyummu ada yang cemberut tuh,” kata Azka sambil melirik ke arah Adel. Adel terlihat diam saja, dengan wajah yang tidak seceria Adel yang biasa.
“Kamu kenapa Del?” tanyaku.
“Enggak kenapa-kenapa kok, cuma cape aja,” jawabnya singkat.
“Yakin? Kamu gak seperti biasanya Del.”
“Enggak kenapa-kenapa kok temen-temen, sudah ya aku duluan ke kelas,” katanya seraya meninggalkan kami bertiga. Aneh, pikirku. Adel yang biasanya ceria, kini menjadi pendiam.
“Ada apa ya sama Adel?” tanya Meli.
“Tau deh, mungkin dia lagi males ngomong sama kita-kita, aku denger-denger Adel lagi suka sama seseorang,” jelas Azka.
“Sama siapa Zka?” tanyaku.
“Tau deh, coba aja kamu cari tau.”
“Hah sudah, daripada ngomongin Adel, gimana kalau kalian temenin aku nanti pulang sekolah? Mau nggak?” tanya Meli.
“Kemana Mel?” tanya Azka, “Kayaknya aku enggak bisa deh, soalnya mamaku ngajak aku jalan-jalan sore nanti.
“Ih, kamu kok begitu sih Azka, aku mau beli hadiah buat adikku, kalo kamu gimana Ra?” tanyanya kepadaku. “Bisa kan temenin aku?”
“Duh maaf ya Mel,” jawabku, “Nanti sore aku mau ke dokter gigi sama ibu, aku udah janji jauh-jauh hari.” Sebenarnya, sore nanti aku mau membelikan cokelat sebagai hadiah untuk Raden. Aku terpaksa berbohong sama teman-temanku.
“Yaudah deh, aku sendiri aja,” kata Meli.
Baru
kali ini aku menolak ajakan teman-temanku, untuk seorang cowo. Aku rela
meninggalkan waktu bersama teman-teman, hanya untuk membelikan hadiah
untuk Raden. Tetapi inilah kata hatiku, aku tidak dengan teman-temanku,
akan tetapi ini harus aku lakukan. Sesekali saja aku mengikuti apa yang
hatiku katakan.
Maka sore harinya, setelah izin kepada ayah dan ibu, aku pergi sendirian ke mall di dekat rumahku. Sambil melirik-lirik setiap toko kue dan cokelat yang ada disana, aku memilih cokelat yang baik untuk hadiah. Langkahku terhenti di sebuah toko cokelat kecil di lantai tiga, tepat di sebelah toko buku. Aku membeli sekotak cokelat berbentuk hati, yang menggambarkan perasaan hatiku untuk Raden. “Semoga dia suka,” kataku dalam hati lalu aku berjalan pulang meninggalkan toko tersebut.
Hari yang kunantikan telah tiba, hari Valentine yang penuh dengan nuansa cinta. Walau aku bukan seorang perempuan yang terlalu “feminim” tapi untuk acara malam ini, aku memilih untuk berdandan. Tepat hari Sabtu, malam minggu, akan diadakan acara rapat perpisahan untuk kelas 3, dan aku termasuk salah seorang panitia kelas. Raden pun akan datang, dan kesempatan ini akan aku manfaatkan untuk menyatakan perasaanku kepadanya. Kalau tidak salah, rapat dimulai jam setengah tujuh malam, aku segera menyiapkan kotak cokelat yang kubungkus rapi dengan pita berwarna merah dan kumasukkan ke dalam tasku. Hanya dengan memakai kaos coklat dan jeans, beserta bando favoritku, aku segera melangkahkan kaki menuju sekolahku.
Jam tanganku menunjukkan pukul 6.20 tepat, ketika aku tiba di pintu gerbang. Ketika berjalan masuk, aku melihat motor Meli diparkirkan di parkiran sekolah, apa yang dia lakukan sesore ini di sekolah, pikirku. Ah sudah tak usah ambil pusing soal dia. Aku berjalan melewati lapangan dan kudapati Azka yang baru selesai latihan karate, dia hanya melambaikan tangannya dari kejauhan. Kubalas lambaian tangannya itu. Tetapi, sudah sesore ini, kenapa dia belum pulang? Setahuku, latihan karate telah selesai setengah jam yang lalu. Tapi sudahlah, kenapa aku malah memikirkan dia?
Aku segera berjalan ke arah aula untuk berkumpul dengan yang lainnya. Disana sudah ada beberapa teman yang telah tiba, dan Raden pun sudah disana. Aku duduk di dekat pintu keluar, dan mengamati dirinya dari kejauhan, sayangnya aku tidak bisa mendekat saat itu. Dia terlihat sedang bercengkrama dengan beberapa temannya.
Rapat dimulai, semua siswa dan siswi segera duduk berkumpul membentuk lingkaran. Aku dan Raden tepat duduk berhadapan, bergetar rasanya hatiku ketika menatap matanya. Dia tersenyum kembali ketika melihatku. Antara ragu dan yakin, untuk mengatakan perasaan yang sebenarnya. Rapat dibuka oleh ketua panitia, dan rapat itu berlangsung semu. Waktu berjalan sangat lambat bagiku, satu menit bagaikan satu jam rasanya. Tanpa berpikir ke arah rapat, aku hanya berpikir kata-kata apa yang cocok untuk kusampaikan kepada Raden nanti.
Rapat
selesai tepat pukul 7.15 malam, yang menghasilkan ketidaksetujuan.
Panitia yang hadir belum dapat menemukan titik temu antara
pendapat-pendapat yang masuk, sehingga rapat ditunda dan akan
dilaksanakan segera setelah pengumuman diberikan. Ini saatnya, kataku.
Setelah melihat suasana agak sepi, aku yang sudah dari tadi menanti di
intu gerbang, menunggu Raden untuk berjalan keluar. Kotak cokelat itu
masih kusimpan di dalam tasku. “Aku harap dia menyukainya, tetapi dia
mau enggak ya?” tanyaku berulang-ulang dalam hati, gusar rasanya menanti
ketidakpastian ini. Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya
keluarlah Raden dari dalam. Segera aku menghampirinya.
“Hei, Raden,” sapaku dengan senyuman.
“Oh hei Ira, lagi apa kamu disini? Belum pulang?” tanyanya agak terkejut.
“Iya, aku lagi nunggu seseorang,” kataku malu-malu.
“Oh ya? Siapa yang kamu tunggu?”
“Kamu Raden.”
“Aku? Kamu nunggu aku? Ada apa memangnya?”
“Hei, Raden,” sapaku dengan senyuman.
“Oh hei Ira, lagi apa kamu disini? Belum pulang?” tanyanya agak terkejut.
“Iya, aku lagi nunggu seseorang,” kataku malu-malu.
“Oh ya? Siapa yang kamu tunggu?”
“Kamu Raden.”
“Aku? Kamu nunggu aku? Ada apa memangnya?”
Jantungku
berdegup kencang, seperti mobil balap yang sedang berpacu menuju garis
finish. Tak ada waktu untuk mundur lagi, sekaranglah waktu untuk
mengatakannya.
“Sebenernya, aku... sebenernya...”
“Ya, apa sebenernya Ra?” tanyanya dengan halus. Sungguh membuat bulu romaku berdiri.
“Den, aku... aku suka sama kamu...” kataku terputus-putus. Rasanya jantungku semakin berdetak cepat. “Sudah lama, ya sudah lama.... aku ingin mengatakan itu, aku... aku suka sama kamu Den. Ini... ini untuk kamu...” kataku seraya memberikan sekotak cokelat dari dalam tasku kepadanya.
Raden yang pandangannya penuh kelembutan, mendadak terdiam. Matanya membelalak seakan kaget, dan mulutnya mulai terbuka lebar. Dia tertawa dengan kencang.
“Hahahaha, kenapa rupanya kalian ini?” katanya sambil tertawa.
“Sebenernya, aku... sebenernya...”
“Ya, apa sebenernya Ra?” tanyanya dengan halus. Sungguh membuat bulu romaku berdiri.
“Den, aku... aku suka sama kamu...” kataku terputus-putus. Rasanya jantungku semakin berdetak cepat. “Sudah lama, ya sudah lama.... aku ingin mengatakan itu, aku... aku suka sama kamu Den. Ini... ini untuk kamu...” kataku seraya memberikan sekotak cokelat dari dalam tasku kepadanya.
Raden yang pandangannya penuh kelembutan, mendadak terdiam. Matanya membelalak seakan kaget, dan mulutnya mulai terbuka lebar. Dia tertawa dengan kencang.
“Hahahaha, kenapa rupanya kalian ini?” katanya sambil tertawa.
Aku
agak kaget, yang tadinya jantungku berdegup kencang, kini menjadi
hilang ketegangan itu. Kini aku merasa kesal bercampur malu. “Kenapa?
Kenapa kamu tertawa Den? Memangnya lucu yah?”
Raden masih saja tertawa. “Hahaha, dengarkan. Dengarkan aku dulu Ira, pertama, aku ini sudah memiliki pacar, kedua, aku hanya menganggapmu sebagai teman, janganlah kamu beranggapan lebih, dan ketiga...”
Raden masih saja tertawa. “Hahaha, dengarkan. Dengarkan aku dulu Ira, pertama, aku ini sudah memiliki pacar, kedua, aku hanya menganggapmu sebagai teman, janganlah kamu beranggapan lebih, dan ketiga...”
Entah mengapa aku
tidak kaget mendengar hal itu, apa karena aku telah menyatakan
perasaanku kepadanya? Atau karena aku berhasil menebak apa yang akan dia
katakan.
“Apa yang ketiga?” tanyaku penasaran.
“Hari ini kamu adalah perempuan ke-empat yang menembak aku dengan cara yang sama seperti yang sebelumnya...”
“Hah?” kataku kaget. “Maksud kamu?”
“Itu lihatlah di dalam,” katanya menunjuk ke arah lapangan sekolah. Disana aku melihat ketiga sahabatku, Azka, Adel dan Meli sedang berdiri di pinggir lapangan.
“Sekali lagi maaf ya Ra, aku tak menganggapmu lebih.”
“Oh, ya tak apa, maafkan aku juga.” Lalu aku pamit kepada Raden, sejujurnya aku tidak sedih, tidak kecewa dan juga tidak senang. Hanya saja aku merasa sangat lega, karena telah menyatakan perasaanku kepadanya. Mungkin Raden bukan pilihan yang tepat untukku.
“Apa yang ketiga?” tanyaku penasaran.
“Hari ini kamu adalah perempuan ke-empat yang menembak aku dengan cara yang sama seperti yang sebelumnya...”
“Hah?” kataku kaget. “Maksud kamu?”
“Itu lihatlah di dalam,” katanya menunjuk ke arah lapangan sekolah. Disana aku melihat ketiga sahabatku, Azka, Adel dan Meli sedang berdiri di pinggir lapangan.
“Sekali lagi maaf ya Ra, aku tak menganggapmu lebih.”
“Oh, ya tak apa, maafkan aku juga.” Lalu aku pamit kepada Raden, sejujurnya aku tidak sedih, tidak kecewa dan juga tidak senang. Hanya saja aku merasa sangat lega, karena telah menyatakan perasaanku kepadanya. Mungkin Raden bukan pilihan yang tepat untukku.
Aku
segera berlari menuju ke arah sahabat-sahabatku itu. Terlihat Meli dan
Azka sedang duduk bersama Adel yang tertunduk diam. Aku menghampirinya,
“Hei, sedang apa kalian disini?”
Kaget
dengan kehadiranku, Meli dan Azka segera bangkit berdiri, sementara
Adel yang tadinya tertunduk diam segera melirik ke arahku, menghapus air
matanya dan berhenti menangis. “Kamu kenapa Del?” tanyaku.
“Lho? Kamu juga rupanya?” tanya Meli.
“Juga apanya?” tanyaku kembali.
“Raden,” kata Adel yang masih merah matanya. “Kamu juga ditolak sama Raden kan?”
Aku diam sejenak, jangan-jangan ketiga sahabatku ini juga berpikiran yang sama seperti aku. “Tunggu sebentar... jadi kalian juga?”
“Lho? Kamu juga rupanya?” tanya Meli.
“Juga apanya?” tanyaku kembali.
“Raden,” kata Adel yang masih merah matanya. “Kamu juga ditolak sama Raden kan?”
Aku diam sejenak, jangan-jangan ketiga sahabatku ini juga berpikiran yang sama seperti aku. “Tunggu sebentar... jadi kalian juga?”
Mereka bertiga mengangguk. Kemudian aku mulai tertawa dengan keras. Ketiga sahabatku itu melihatku penuh keheranan. “Kenapa kamu Ra?” tanya Azka.
“Hahaha lucu yah, kita semua begini, gara-gara Raden seorang...” jawabku.
“Ya, karena seorang cowo, kita semua jadi tidak sedekat dulu,” sambung Meli. “Maafkan aku ya teman.”
“Aku juga,” susul Azka. “Bodohnya kita berlomba-lomba mendapatkan hati satu orang laki-laki, toh cowo yang ganteng dan tajir tidak hanya dia kok.”
“Setuju!” sambung Meli.
“Aku juga ya teman,” kataku sambil merangkul ketiga sahabatku itu. “Maafkan kalian selama ini aku diam saja dan tidak bercerita, bahkan aku berbohong kepada kalian.”
Meli tersenyum padaku, begitu
juga Azka. Namun Adel masih terlihat sedih. “Sudahlah Del,” kataku,
“Kamu itu cantik, banyak cowo lain yang suka sama kamu.”
Adel kembali tersenyum dan mendekapku kini. “Kamu benar Ra, aku bodoh ya menangis untuk hal yang tidak diperlukan.”
“Mungkin kita semua bodoh ya,” kataku kepada mereka. “Karena Raden kita jadi begini dan melupakan persahabatan kita, mulai saat ini, ayo kita lupakan sejenak masalah cowo dan kembali bersama-sama lagi seperti dulu.”
“Kau benar, aku setuju,” kata Meli diikuti yang lainnya. Kemudian kami tertawa bersama karena menyadari kekeliruan kami. Meninggalkan sahabat untuk seorang lelaki? Tidak akan pernah lagi.
“Sebentar Ra, terus cokelat ini buat apa?” tanya Meli. “Kalian masing-masing bawa satu kan?” Kami semua mengangguk.
“Mungkin kita semua bodoh ya,” kataku kepada mereka. “Karena Raden kita jadi begini dan melupakan persahabatan kita, mulai saat ini, ayo kita lupakan sejenak masalah cowo dan kembali bersama-sama lagi seperti dulu.”
“Kau benar, aku setuju,” kata Meli diikuti yang lainnya. Kemudian kami tertawa bersama karena menyadari kekeliruan kami. Meninggalkan sahabat untuk seorang lelaki? Tidak akan pernah lagi.
“Sebentar Ra, terus cokelat ini buat apa?” tanya Meli. “Kalian masing-masing bawa satu kan?” Kami semua mengangguk.
Aku memutar otakku sebentar dan
mendapatkan ide yang baik. “Begini saja, bagaimana kalau kita makan
cokelat yang kita punya bersama-sama? Itulah arti sahabat yang
sesungguhnya, cokelat persahabatan sebagai hadiah terindah di hari
Valentine ini, hari kasih sayang sahabat.” Mereka semua setuju, dan kami
pun bertukaran cokelat dan memakannya bersama-sama. Inilah makna
Valentine yang sesungguhnya, bukanlah cinta, bukanlah cokelat, akan
tetapi kehadiran kita sebagai seorang sahabat yang selalu dibutuhkan
bagi orang lain.
Seminggu setelahnya, kami sudah
berteman baik kembali bahkan semakin dekat. Soal Raden? Ya, biarlah dia
mengurus urusannya sendiri. Aku dan Raden hanya berteman saja kini.
Tetapi aku, Azka, Adel dan Meli adalah sahabat selamanya. Janji kami
disaksikan oleh “sahabat cokelat”.
Siang itu ketika istirahat, kami
ber-empat kembali makan di kantin. Sedang asyik-asyiknya makan
datanglah Syahra bergabung bersama kami. “Eh, kalian sudah dengar cerita
baru belum?” Aku mengangkat bahuku mendengarnya.
“Apa memangnya?” tanyaku.
“Itu lho, murid pindahan baru, Edo namanya, ganteng dan manis banget, tuh orangnya,” katanya kembali. Kami ber-empat segera melirik satu sama lain, dan kemudian berkata, “Enggak akan kena lagi tuh!” Lalu kami tertawa bersama. Syahra hanya heran melihatnya.
“Apa memangnya?” tanyaku.
“Itu lho, murid pindahan baru, Edo namanya, ganteng dan manis banget, tuh orangnya,” katanya kembali. Kami ber-empat segera melirik satu sama lain, dan kemudian berkata, “Enggak akan kena lagi tuh!” Lalu kami tertawa bersama. Syahra hanya heran melihatnya.
Di menit ke 45
“Hha..hha..hha..” terdengar suara
desahan nafas dari mulut Lukas yang sedang ngos-ngosan berlari dalam
rangka pengambilan nilai lari estafet. Pukul 09:35 WIB cuaca lagi berada
pada titik terbaik, sinar matahari bagaikan jarum-jarum yang menghujani
tubuh, langit yang begitu menyilaukan seperti bidadari ingin turun dari
singgasananya untuk melihat bumi. Saat semuanya mengambil posisi untuk
lari, Lukas bersiap mengambil ancang-ancang dan segera melihat jam
tangannya. Itulah kebiasaan yang selalu dilakukan Lukas setiap ingin
melakukan sesuatu, bukannya iy Mr. Perfect atau Mr. On Time tapi, hanya
elergi dengan menit ke 45 karena pada menit itulah selalu terjadi hal
yang aneh dalam hidupnya.
09:40
WIB, “bersedia….siiaap…yaa” seketika semua pelari pertama berlari
bersamaan. Semua perempuan bersorak menyemangati teman-temannya yang
sedang berlari demi sebuah nilai dan tibalah saat dimana tongkat estafet
akan diberikan pada Lukas yang bersiap sambil melihat jamnya itu. Tepat
pada pukul 09:43 WIB Lukas menerima tongkat itu dan berlari secepat
mungkin untuk mencapai garis finis sebelum menit ke 45 namun, beberapa
saat sebelum menggapai garis finis tiba-tiba 09:45 WIB “bruk..” tanpa
sadar tongkat estafet terlepas dari tangan Lukas. “yah..yah..yah…
akhirnya menit ke 45 tak menghalangiku tuk menjadi sang juara, akhirnya
^_^…” kesenangan terpancar dari mulut Lukas. 09:50 WIB, “baiklah ankku
sekalian, yang jadi juaranya adalah kelompoknya Lukas..” “hore..” lukas
yang menyelan perkataan pak guru. “tapi..tapi, karena saat mencapai
finis tanpa memegang tongkat jadi, kalian dianggap tak memasuki finis”.
“yah…” dengan bersamaan teman lkas berteriak. “makan tuh menit ke 45 mu
yang bikin sial itu Luk”. “huff… iy..iy.. nh gue ambil celaka-celaka
skalian dengan percikan-percikannya yang mengenai kalian, Puass…???”
kata Lukas yang sedikit emosi.
08:10 petang, Lukas lagi
asyik-asyiknya telponan dengan dengan seorang gadis yang menarik hatinya
yang dipanggilnya Ipe. Ditengah malam yang berselimutkan kegelapan, di
tirai langit yang berhiaskan bintang-bintang, dan diantara jendela
mungil Lukas larut dalam pembicaraan namun, “tiiit..tiiit..tiiit..tiiit”
sambungan telepon terputus, seperti biasanya, pada menit ke 45
panggilan akan terputus jadi, bagi mereka berdua itu adalah hal yang
lumrah. Tanpa canggung Lukas kembali menelpon sampai menit ke 45
berikutnya tiba.
07:13 pagi, saat
mentari menyapa dengan cahayanya yang hangat dan langin yang terlihat
serasi bersama awan yang berlarian di angkasa, Lukas telah bersiap tuk
berangkat ke sekolah ditemani senyuman yang berharap agar tak banyak hal
yang nyebelin pada menit-menit ke 45 hari ini. Belum beberapa saat
setelah ngucapin kalimat itu, mata yang tak berdosa Lukas melihat
sesuatu yang memacu adrenalin dan buat penasaran. Matanya tak sengaja
melihat segerombolan orang yang memakai pakaina formal memasuki salah
satu bank yang berada 2 blok dari sekolahnya. Namun, bukan pakaiannya
itu yang buat penasaaaran tapi, apa yang ada di dalamnya itu yang
membuat Lukas bertanya-tanya. Gelagat mereka itu mengingatkan akan film
action yang Lukas nonton beberapa jam lalu sebelum iya pergi ke sekolah.
“sikap mereka seperti para bandit-bandit texas yang masuk ke kasino
untuk merampok, apalagi mereka memakai rompi anti peluru dan mengantongi
pistol dan memasukkan AK 47 dalam tas raketnya”. Dugaan Lukas. Karena
penasaran, akhirnya Lukas mengikuti orang-orang itu dan iya melihat
salah satu dari mereka bergerak ke arah lain sambil membawa sebuah tas
besar, karena Lukas lebih mencurigai isi tas itu makanya, iya dengan
cegatan mengikutinya. Teryata dugaannya benar, orang itu menaruh bom
pada 4 pilar utama gedung.
Pukul 08:21 WIB, dengan hati
yang sedikit ragu, akhirnya Lukas memberanikan diri untuk menyabotase
rencana para bandit-bandit itu. Iya berusaha mendekati meja kasir untuk
bisa mengambil telpon dan menelpon polisi. “Duk..duk..duk..duk..” dengan
hati yang dek-dekan iya berusaha agar tidak ketahuan saat berbicara
namun, baru saja telpon mau diangkat, salah satu dari bandit itu datang
tuk mengontrol area sekitar gedung. Akhirnya Lukas berlari ke ruangan
lain tapi, ternyata tempat yang dimasukinya adalah tempat penyekapan
para sandera, “upps…!!! Bisa-bisa tembus nih kepala kalau ketahuan,
hati-hati Luk..hati-hati…”. Lukas segera bersembunyi di bawah meja yang
ada di dekatnya. “treng..treng..treng..” suara alarm jam berbunyi.
“adduh…!! Nih bener-bener sial nih menit ke 45” katanya dalam hati.
“bos, sekarang sudah waktunya kita pergi”. Kata seseorang dari mereka.
08:33
WIB, “astaga.. kelihatannya harus memakai trik dari Arnold (actor film
action kesukaan Lukas), cepat, tepat, akurat, dan kuat”. Dengan percaya
diri Lukas keluar dari persembunyiaannya dan berlari dengan cepat keluar
dari ruangan itu sambil mengambil sebuah heandphone yang tergeletak di
lantai. “huff, ayoo Luk kamu pasti bisa, 911 aku menghubungimu..”
berusaha menyemangati dirinya. Sambil menelpon polisi iya terus berlari
sambil melihat jamnya yang telah menunjukkan pukul 08:38 WIB.
“wadduh…!!! Keberuntunganku hampir habis nih, aku tidak mau mati di
tempat seperti ini, saatnya rencana B..” keyakinan Lukas yang telah
ngos-ngosan berlari. Rencana B adalah bersembunyi ke tempat yang tak
mungkin orang lain bisa menemukanmu. Itulah yang sedang iya kerjakan dan
akhirnya iy menemukan juga tempat yang tepat yaitu, di fentilasi udara.
“hehehehehe… tak sia-sia gue nonton film action terus.” Membanggakan
diri. “anak sialan, cepet banget tuh larinya, itu manusia apa
monyet..???” kata bandit yang mengejarnya.
08:43 WIB, terdengar sirine
mobil polisi telah meraba telinga Lukas dan setelah merasa aman iya
keluar dari fentilasi dan iya segera ketempat bom yang tinggal beberapa
menit lagi. Setelah sampai di tempat itu, Lukas baru sadar bahwa apa
yang di hadapannya itu adalah bom plastik yang paling berbahaya.
“waddduh…!!! Salah sedikit bisa rugi 3 M nih orang tua, huff..” cemas
Lukas. Mengingat cara Arnold mematikan bom dalam filmnya, akhirnya
Lukas mencoba untuk memotong kabelnya. “ngeeng” suara air liur yang
tertelan karena kecemasan. Ada berbagai macam kabel yang ada di bom itu
dan salah sedikit aja bisa memicu ledakan lainnya, beberapa menit Lukas
bediri di tempat itu namun, iya masih berfikir, kabel apa yang harus iya
potong. “tuff..tufff” suara senjata api yang saling beradu. Karena
kaget melihat suara itu, tangannya tak sengaja memotong sebuah kabel
yang membuat waktunya menjadi 5 detik pada Jam bom tersebut.
“addduh..!!!! Selamat tinggal ayah, selamat tinggal ibu, selamat tinggal
orang yang menyayangiku, selamat tinggal orang-orang yang membenciku
dan selamat tinggal kesialan.” Kepasrahan Lukas. 5 4 3 2 1…
“tidakk..” teriak Lukas sambil menutup telinganya.
08:45:10 WIB, “loh koq tidak
meledak..???” Lukas keheranan. Iya baru tersadar bahwa pada saat
kabelnya terpotong tepat pada menit yang ke 45. “Yes.. akhirnya menit ke
45 telah membawakan kemurahan hatinya padaku…,,, ALHAMDULILLAH..
>_< ,,!!!”. Lukas pun segera melarikan diri dari tempat itu
sebelum ada yang melihatnya dan segera kesekolahnya. Walaupun terlambat
tapi, iya telah membuat menit ke 45 menjadi sahabatnya… ^_^
THE AND
Nyanyian Sahabat
Sudah setengah jam Fia menunggu
sahabatnya di bangku taman. Dengan perasaan tak menentu Fia tetap
menunggu dan nggak lama lagi orang yang dinanti telah tiba.
“Put, lo kemana aja sih lama banget gue pikir lo nggak dateng,” kata Fia.
“Ya maafin gue datengnya terlambat, di jalan motor gue mogok,” kata Putri dengan menunjuk motornya.
“Ya deh nggak papa Put, yang penting lo dateng.”
“Emang ada apa sih, kok kayaknya penting banget?” tanya Putri heran.
“Put,
gue baru dapet kabar dari temanya Raffi katanya dia bakal pindah kuliah
ke Samarinda ngikut kakaknya,” kata Fia dengan wajah kecewa.
“Kok gitu .Apa dia nggak sayang lagi sama lo. Maaf Fi, gue keceplosan,” kata Putri.
“Terus
gue harus gimana? Apa gue harus berhubungan sama Raffi dengan jarak
jauh. Samarinda itu jauh banget Put?” kata Fia dengan wajah bingung.
“Ya gak papa lagi Fi, toh dia kan juga punya alasan,” lanjut Putri seraya menduduki kursi taman itu.
“Put, gue balik duluan ya, Thank’s Put saran lo?” kata Fia sambil berlari menuju sepeda motornya.
“Yah
Fia, gue baru aja duduk belom ada semenit. Mending buka account di
twitter aja deh. Hehe,” kata Putri dengan membuka laptop yang dibawanya.
Di
malam hari yang sepi. Tidak ada sms atau pun telpon dari sang kekasih.
Fia terus memandangi layar HP-nya berharap ada tanda-tanda Raffi memberi
informasi. Namun itu hanya harapan semata. Fia dengan jengkelnya
menekan tombol-tombol lalu meleponya.
“Kenapa sih HP lo nggak aktif?” Fia bergumam dengan jengkelnya.
Satu jam telah berlalu. Malam terasa semakin larut. Tak lama HP Fia berbunyi.
“Halo Raf, kenapa lo matiin HP lo tadi? Apa lo udah nggak sayang lagi sama gue?”
“Fi, ini gue Putri, lo jangan terlalu mikirin Raffi deh. Emang dari tadi Raffi belum ngabarin lo ya?” tanya Putri.
“Belum Put, mungkin dia udah nggak peduli sama gue lagi.”
“Mungkin
dia terlalu sibuk di sana, sampai nggak sempet ngabarin lo. Mending lo
jangan terlalu mikirin itu deh nanti lo sakit lagi,” kata Putri
menghibur.
“Oke Put.”
“Udah cepet gih sono tidur, besok kan ada kuis nanti lo telat lagi. Lo kalau tidur kan kayak kebo?” ledek Putri.
“Ah, lo tuh tau aja deh Put? Lo ada dimana-mana gitu?” kata Fia tersenyum.
Pagi hari yang cerah. Badan Fia
terus menggigil kedinginan. Dengan demam yang cukup tinggi membuatnya
tidak bisa berangkat kuliah. Jam dindingnya menunjukkan pukul 08.45
pertanda limabelas menit kuis akan di mulai. HP-nya yang tergeletak
tiba-tiba bergetar. Fia harap itu Raffi.
“Halo…,” jawab Fia dengan suara yang lemah.
“Fi, lo kemana aja sih? Gue cari-cari kesono kemari nggak ada juga. Kuis mau mulai nih?”, tanya Putri.
“Put, gue hari ini absen. Asma gue kambuh lagi,” jawab Fia dengan suara yang hampir hilang.
“Gue anterin lo ke rumah sakit ya Fi?”, tawar Putri dengan cemas.
“Nggak usah Put. Lo ikut kuis aja. Di sini kan ada Bibi,” jawab Fia yang hampir pinsan.
“Ya udah deh. Jaga kesehatan lo aja ya jangan sampai ngedrop. Gue masuk kelas dulu ya,” jawab Putri cemas.
“Iya Put.”
Pulang
kuliah Putri terburu-buru menuju rumah Fia. Dengan hati yang cemas
Putri berharap keadaan Fia lebih membaik dari sebelumnya.
“Fi, Fia…!!!,” teriak Putri mengetuk pintu.
“Non cari siapa?”, tanya Bibi.
“Aku cari Fia Bi, ada?”.
“Maaf non, non Fianya dilarikan ke Rumah Sakit Mutiara Hati tadi pagi oleh keluarganya.”
“Memang parah ya Bi?, di rawat di kamar apa?” tanya Putri.
“Iya non, non Fia tadi pingsan dan sekarang di rawat di kamar Melati.”
“Terima kasih ya Bi,” jawab Putri terburu-buru menuju Rumah Sakit.
Setibanya di Rumah Sakit, Putri langsung menuju kamar Melati, tempat sahabatnya di rawat.
“Fia…!!!”
“Put, lo kok tau kalau gue di sini?” tanya Fia dengan suara lemah.
“Gue tadi ke rumah lo. Terus Bibi yang kasih tau kalau lo di sini. Jadi gue ke sini Fi,” jawab Putri sedikit lega.
“Thank’s ya Put, lo dah dateng nemenin gue di sini.”
“Lo kan sahabat gue Fi. Lo gak papa kan? Lo sakit apa sih?” tanya Putri.
“Gue udah baikan kok Put, lo nggak usah khawatirin gue kayak gitu. Gue hanya sakit asma Put.”
“Lo bilang sakit asma? Kok sampai kayak gini? Bilang sama gue yang sebenernya Fi?”
“Fia
mengalami serangan jantung. Dokter bilang umur Fia nggak lama lagi.
Kita di sini hanya bisa berdo’a,” jawab Mama Fia meneteskan air mata.
Sekejab air mata mengalir dari wajah manis Putri.
“Lo kenapa sih Fi nggak dengerin omongan gue?”
“Gue
nggak papa Put. Lo jangan khawatir gitu. Put, lo mau enggak nyanyiin
lagu persahabatan kita, gue pengen denger untuk yang terakhir.”
“Iya, tapi lo jangan bilang ini lagu terakhir yang lo denger,” jawab Putri.
Kebersamaan janganlah pernah usai
Sedih atau senang
Say hello don’t say good bye
Percaya padaku semua akan berlalu
Genggam tanganku
Hapuslah air matamu…
Putri menyanyikan lagu persahabatanya untuk Fia dengan meneteskan air mata. Perlahan Fia menutup kedua matanya.
“Fi, lo enggak papa kan?”, tanya Putri.
“Nggak, jangan berhenti menyanyikan lagu itu Put,” kata Fia dengan tersenyum.
Berhentilah manyun
Mukamu jadi culun
Mandi atau belum
Berikan aku senyum
(ost. SM*SH-Selalu Bersama)
Lagu yang di nyanyikan Putri dengan suara merdunya sudah usai di nyanyikanya.
“Fi…!!!”
“Sayang…,” Mama Fia panik memanggil dokter.
“Fi,
lo harus sadar Fi, lo jangan pergi tinggalin gue Fi. Gue nggak mau
kehilangan sahabat seperti lo Fi?” kata Putri juga panik.
Dokter datang untuk memeriksa Fia. Tak lama lagi dokter menemui keluarga yang menunggu di depan ruang ICU.
“Maaf sekali, Fia sudah tidak bisa tertolong lagi. Kita di sini hanya bisa mendo’akan agar Fia di terima di sisi-NYA.”
“Fia……!!!!” teriak Putri.
Putri
menyaksikan tubuh sahabatnya yang terbujur dingin. Sejak sahabatnya
meninggalkanya, Putri hanya bisa mengenang lagu itu sepanjang hari. Dan
tak lama setelah kematian Fia, Putri mendapat kabar bahwa Raffi kekasih
Fia di Samarinda tidaklah pindah kuliah melainkan membaringkan tubuh tak
bernyawanya di sana. Putri hanya menelan kesedihanya karena
ditinggalkan oleh dua sahabatnya itu.
(By : Wahyu D. Pertiwi)Awas Tembok
Kebaktian
dukacita untuk mengenang seorang istri yang baru saja meninggal baru
saja selesai. Lalu beberapa orang diminta
menggotong peti jenazah itu menuju ke
pekuburan. Tetapi, saat hendak keluar dari gereja, tanpa disengaja, peti
itu menyenggol
tembok dan jatuh terbanting dengan keras.
Para tamu terkejut semuanya, karena mereka mendengar erangan dari dalam peti jenazah itu. Ternyata sang wanita masih hidup dan bertahan hingga sepuluh tahun kemudian. Nah, sepuluh tahun kemudian sang istri meninggal lagi.
Kebaktian dukacita berlangsung di tempat yang sama. Saat selesai kebaktian, ketika peti itu hendak digotong ke luar gereja dan menuju pemakaman, si suami berteriak-teriak, "AWAS TEMBOK! AWAS TEMBOK!"
Para tamu terkejut semuanya, karena mereka mendengar erangan dari dalam peti jenazah itu. Ternyata sang wanita masih hidup dan bertahan hingga sepuluh tahun kemudian. Nah, sepuluh tahun kemudian sang istri meninggal lagi.
Kebaktian dukacita berlangsung di tempat yang sama. Saat selesai kebaktian, ketika peti itu hendak digotong ke luar gereja dan menuju pemakaman, si suami berteriak-teriak, "AWAS TEMBOK! AWAS TEMBOK!"
Sejarah
Bu Ida, guru SD kelas VI memberi tahu muridnya bahwa besok ulangan Sejarah. Dede salah seorang murid SD tersebut,
sepulangnya dari sekolah terus menghapal pelajaran tersebut.
Hasil ulangan telah di kumpulkan dan Ibu Ida menguji murid-muridnya. "Dede, coba kamu sebutkan perang Diponegoro tahun berapa?" "Tahun 1825 sampai 1830, Bu."
"Sekarang coba Udi, di mana Pangeran Diponegoro gugur?" "Di halaman 30, Bu!" jawab Udi sambil menggosok matanya karena sedang ngantuk.
Hasil ulangan telah di kumpulkan dan Ibu Ida menguji murid-muridnya. "Dede, coba kamu sebutkan perang Diponegoro tahun berapa?" "Tahun 1825 sampai 1830, Bu."
"Sekarang coba Udi, di mana Pangeran Diponegoro gugur?" "Di halaman 30, Bu!" jawab Udi sambil menggosok matanya karena sedang ngantuk.
Egoku
Aku menghela nafas dengan berat. Merasakan perihnya duri yang
tertancap di hatiku. Lama aku termenung dalam kamar. Tak tau harus
berbuat apalagi untuk mengobati rasa perih ini. Bibirku tertutup rapat.
Mataku sayu tapi tak berani mengeluarkan air mata. Aku memang tak ingin
menangis. Aku tak mau lemah. Tapi sakit, perih, sesak semakin memuncak
di hatiku.
“jangan ngambek terus dong, Ris! Kamu kok jadi manja gini sih…” kata Aim dengan nada kesal.
“apa sih? Memangnya salah kalau manja?” jawabku nggak mau kalah.
“salah. Ini bukan Risa yang kukenal.”
“bilang aja kamu nggak peduli. Sana pergi! Nggak usah sok perhatian lagi sama aku.”
Kepingan cerita bersama Aim terbayang tanpa sadar. Aim memang hanya teman bagiku. Walau aku tak tau dia menganggapku sebagai apa. aku terlanjur terbiasa dengan semua perhatian yang dia berikan. Tapi entah kenapa aku tak pernah melihat semua kebaikannya. Mataku terlalu buta dengan sikap ego yang terus bersinggah di dalam diriku.
Kemudian kepingan kisahku yang lainnya terbayang secara bergantian. Kepingan bersama orang-orang yang telah menyayangiku dengan tulus tapi sedikitpun aku tak pernah melihat mereka. Melihat semua ketulusan yang harusnya kubalas dengan sepantasnya.
“kamu tau nggak? Walau aku sibuk tapi yang paling membuatku sibuk adalah memikirkanmu.” Kata kak Miftah dengan mengeluarkan jurus rayuannya.
“iyakah? Aku jadi pengen jatuh saking terharunya denger ucapan kamu, kak.” Kataku sambil nyengir kecut ketika menatap matanya.
Aku selalu menganggap semua kata-kata yang dilontarkannya hanyalah kebohongan. Itu terlalu berlebihan untuk cowok yang sudah memiliki pacar seperti kak Miftah. Aku heran kenapa dia melakukan hal bodoh yang hanya akan menjatuhkan harga dirinya. Pikir saja, dia sudah mempunyai pacar tapi masih menginginkanku? Yang benar saja!
“aku sayang Lia, Ris. Tapi aku juga sayang kamu. Aku nggak bisa lupain kamu sampai sekarang. Aku masih nggak rela lepasin kamu.” Kata Adit dengan nada lirih.
“huh, masih sayang malah jadian sama orang lain.” Kataku dengan ketus.
“kamu yang putusin aku kan? Aku jadian sama Lia awalnya Cuma buat lupain kamu!.”
“apa? jadi mau nyalahin aku ya?”
“huft.. iya maaf.. jangan marah lagi. Mau kan kamu tetep disampingku walau bukan jadi milikku?”
Aku menatapnya dan terdiam. Si mantan yang bodohnya masih menyimpan perasaan untukku. Walau aku pun masih menyayanginya. Otakku berputar dan muncul sebuah rencana untuk membalas semua kejahatan yang telah dia perbuat padaku. Aku tersenyum manis kepadanya. Senyum palsu untuk membuatnya menangis.
“Ris, beneran kamu nggak mau balikan sama Adit? Aku relain dia kalau kamu memang masih sayang.” Lia tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tak ingin kudengar.
“Aku memang masih sayang. Tapi aku nggak mau balikan.”
“kenapa?”
“aku nggak suka cowok gampangan.” Kataku ketus.
Semuanya teringat jelas dalam ingatnku. Dan itu membuatku sangat bersalah. Kesepian yang memuncak karena mereka mulai meninggalkanku. Dan kalut yang semakin menyertaiku. Mereka banyak berbuat baik padaku walau cacat sikap kadang muncul tapi apa yang telah aku lakukan untuk mereka? Aku merenung dan kembali berpikir. Air mata mulai menyapaku. Nggak! Nggak boleh lemah. Nggak boleh nangis! Teriakku dalam hati.
Aku membuka ponsel yang beberapa hari kubiarkan tergeletak di meja rias dengan keadaan non aktif. Dering SMS terus berbunyi ketika aku baru menyakan ponselku. Puluhan pesan masuk dalam kotak masukku. Perlahan aku membacanya satu per satu. Rasanya aku tak percaya. Mereka yang mengirim pesan padaku. Mereka yang kupikir jenuh kepadaku atas sikap ego yang selama ini hinggap dalam diriku. Dan yang membuat tak percaya lagi, mereka mengkhawatirkanku! Aku yang beberapa hari ini tak melihat dunia. Hatiku terenyuh.
Senyumku merekah saking senangnya. Semangatku perlahan bangkit. Otakku mulai rileks merangkai kata-kata maaf untuk mereka. Mengenyahkan egoku. Menghapus kesendirianku. Mengobati rasa bersalahku. Memperbaiki semuanya. Tak ada ego lagi. Tak ada dendam lagi. Janjiku dalam hati. Ya, kurasa aku tau apa yang akan aku lakukan setelah ini.
“jangan ngambek terus dong, Ris! Kamu kok jadi manja gini sih…” kata Aim dengan nada kesal.
“apa sih? Memangnya salah kalau manja?” jawabku nggak mau kalah.
“salah. Ini bukan Risa yang kukenal.”
“bilang aja kamu nggak peduli. Sana pergi! Nggak usah sok perhatian lagi sama aku.”
Kepingan cerita bersama Aim terbayang tanpa sadar. Aim memang hanya teman bagiku. Walau aku tak tau dia menganggapku sebagai apa. aku terlanjur terbiasa dengan semua perhatian yang dia berikan. Tapi entah kenapa aku tak pernah melihat semua kebaikannya. Mataku terlalu buta dengan sikap ego yang terus bersinggah di dalam diriku.
Kemudian kepingan kisahku yang lainnya terbayang secara bergantian. Kepingan bersama orang-orang yang telah menyayangiku dengan tulus tapi sedikitpun aku tak pernah melihat mereka. Melihat semua ketulusan yang harusnya kubalas dengan sepantasnya.
“kamu tau nggak? Walau aku sibuk tapi yang paling membuatku sibuk adalah memikirkanmu.” Kata kak Miftah dengan mengeluarkan jurus rayuannya.
“iyakah? Aku jadi pengen jatuh saking terharunya denger ucapan kamu, kak.” Kataku sambil nyengir kecut ketika menatap matanya.
Aku selalu menganggap semua kata-kata yang dilontarkannya hanyalah kebohongan. Itu terlalu berlebihan untuk cowok yang sudah memiliki pacar seperti kak Miftah. Aku heran kenapa dia melakukan hal bodoh yang hanya akan menjatuhkan harga dirinya. Pikir saja, dia sudah mempunyai pacar tapi masih menginginkanku? Yang benar saja!
“aku sayang Lia, Ris. Tapi aku juga sayang kamu. Aku nggak bisa lupain kamu sampai sekarang. Aku masih nggak rela lepasin kamu.” Kata Adit dengan nada lirih.
“huh, masih sayang malah jadian sama orang lain.” Kataku dengan ketus.
“kamu yang putusin aku kan? Aku jadian sama Lia awalnya Cuma buat lupain kamu!.”
“huft.. iya maaf.. jangan marah lagi. Mau kan kamu tetep disampingku walau bukan jadi milikku?”
Aku menatapnya dan terdiam. Si mantan yang bodohnya masih menyimpan perasaan untukku. Walau aku pun masih menyayanginya. Otakku berputar dan muncul sebuah rencana untuk membalas semua kejahatan yang telah dia perbuat padaku. Aku tersenyum manis kepadanya. Senyum palsu untuk membuatnya menangis.
“Ris, beneran kamu nggak mau balikan sama Adit? Aku relain dia kalau kamu memang masih sayang.” Lia tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sebenarnya tak ingin kudengar.
“Aku memang masih sayang. Tapi aku nggak mau balikan.”
“kenapa?”
“aku nggak suka cowok gampangan.” Kataku ketus.
Semuanya teringat jelas dalam ingatnku. Dan itu membuatku sangat bersalah. Kesepian yang memuncak karena mereka mulai meninggalkanku. Dan kalut yang semakin menyertaiku. Mereka banyak berbuat baik padaku walau cacat sikap kadang muncul tapi apa yang telah aku lakukan untuk mereka? Aku merenung dan kembali berpikir. Air mata mulai menyapaku. Nggak! Nggak boleh lemah. Nggak boleh nangis! Teriakku dalam hati.
Aku membuka ponsel yang beberapa hari kubiarkan tergeletak di meja rias dengan keadaan non aktif. Dering SMS terus berbunyi ketika aku baru menyakan ponselku. Puluhan pesan masuk dalam kotak masukku. Perlahan aku membacanya satu per satu. Rasanya aku tak percaya. Mereka yang mengirim pesan padaku. Mereka yang kupikir jenuh kepadaku atas sikap ego yang selama ini hinggap dalam diriku. Dan yang membuat tak percaya lagi, mereka mengkhawatirkanku! Aku yang beberapa hari ini tak melihat dunia. Hatiku terenyuh.
Senyumku merekah saking senangnya. Semangatku perlahan bangkit. Otakku mulai rileks merangkai kata-kata maaf untuk mereka. Mengenyahkan egoku. Menghapus kesendirianku. Mengobati rasa bersalahku. Memperbaiki semuanya. Tak ada ego lagi. Tak ada dendam lagi. Janjiku dalam hati. Ya, kurasa aku tau apa yang akan aku lakukan setelah ini.
THE WHALEY HOUSE, PALING BERHANTU
Dunia hantu” memang selalu menarik perhatian, lantaran ada lorong-lorong
misteri yang membuat orang penasaran. Dalam buku Why People Believe
Weird Things (1997), pada kata pengantarnya Stephen Jay Gould menulis,
konstruksi pikiran manusia seperti tanaman ilalang. Gampang
diombang-ambingkan. Itu membuat manusia skeptis terhadap segala sesuatu
yang dihadapi. Ragu tapi percaya. Tak terkecuali soal hantu.
Sebuah dunia yang tidak terang benar tetapi mengusik keingintahuan, itulah yang kini banyak diekspos oleh media cetak dan elektronik. Acara-acara di televisi macam O, Seram, Misteri, Percaya Nggak Percaya, The Scariest Places in The World, Would You Believe It, atau Misteri Kisah Nyata digemari pemirsa. Kendati mereka menikmatinya dengan cara aneh, menonton sambil menjerembapkan bantal ke muka.
Di Amerika Serikat, negara yang sanggup mengirimkan misi ke angkasa luar, kepercayaan pada hal-hal yang aneh pun lumayan tinggi. Fenomena hantu dipercaya oleh 38% responden. Sebanyak 40% tidak percaya. Sisanya, 17% tidak yakin. Sementara mereka yang percaya adanya rumah hantu mencapai 50%, 20% tidak yakin, dan 27% tidak percaya.
Situs di jagat maya yang mengupas soal hantu pun bukan main banyaknya. Kelompok ini bahkan telah melangkah jauh. Misalnya, membuat daftar gedung atau rumah paling berhantu di berbagai negara. Juga mendeteksi keberadaan hantu dan mendokumentasikannya dengan cara-cara tertentu. Ghostweb.com, misalnya, telah diklik oleh 3,2 juta orang sejak diluncurkan pada Juli 1996.
Berangkat dari perburuan hantu ini, hauntedhouse.com mencatat sebuah rumah tepat di persimpangan jalan raya San Diego dan jalan Harney sebagai rumah paling berhantu di Amerika. ”The Whaley House,” kata Hans Holver, pemburu hantu beken yang mengamati rumah itu. Rumah di ”kota tua” San Diego itu kini menjadi museum dan dibuka setiap hari dari pukul 10.00 – 17.30.
Sejumlah hantu menempati rumah itu. Seperti Yankee Jim, Whaley dan istrinya, serta beberapa hantu lain yang tidak dikenal. Ada juga anak kecil, anak Whaley yang meninggal karena demam tinggi.
Rumah Whaley dibangun oleh Thomas Whaley pada 1856. Thomas yang berwatak sosial sangat dikenal di San Diego. Sebelum dijadikan museum rumah hantu, salah satu lantainya digunakan sebagai gedung teater, sementara ruang tamu di lantai satu menjadi kantor kehakiman.
Corinne Lilian Whaley, keturunan terakhir Whaley yang menempati rumah itu. Ia putri bungsu Keluarga Whaley yang berjumlah enam orang. Ia meninggal dalam usia 89 tahun pada 1953. Thomas wafat pada 14 Desember 1890 pada usia 67 tahun. Istrinya, Anna, meninggal pada 24 Februari 1913. Mereka berdua dimakamkan di Mount Hope, San Diego.
Sejak itu Whaley House merana selama bertahun-tahun. Untuk memulihkan kondisinya pemerintah kota San Diego membentuk Historical Shrine Foundation. Whaley House dibeli dan dijadikan museum sejarah dengan merestorasi sesuai kondisi aslinya.
Tahun 1960, ketika Whaley House dibuka untuk umum, banyak peristiwa aneh dialami oleh para penjaga dan pengunjung. Mereka mengaku, merasa ada hantu di sana.
Sebagian besar pengunjung mengaku, mendengar musik dan suara sejumlah orang mendendangkan lagu. Ada juga suara anak-anak yang tertawa atau menangis di lantai atas. Kadang kala tercium bau asap rokok, minyak wangi, atau aroma masakan dari dapur pada minggu-minggu menjelang Natal. Anak kecil yang sedang menangis itu barangkali adalah anak yang meninggal terenggut demam tinggi.
Hantu di Gedung Putih
The International Ghost Hunters Society mencatat, hantu memang ada di mana-mana. Juga di rumah tua atau kuburan tua. Namun, juga tidak menafikan kalau hantu terdapat di bangunan atau rumah baru. Kenyataan yang barangkali sulit diterima bagi yang belum pernah memergokinya.
Penyelidikan terawal tentang hantu mungkin yang dilakukan oleh filsuf Yunani Athenodorus. Pemikir yang hidup pada abad pertama itu sedang mencari-cari rumah di Athena. Kebetulan ia mendengar ada rumah dijual supermurah. Ternyata belakangan pemiliknya mengakui, rumah itu berhantu. Athenodorus bukan filsuf, kalau langsung jeri. Ia membeli rumah itu dengan tekad akan memecahkan misteri itu.
Malam sudah larut ketika ia asyik bekerja. Athenodorus benar didatangi sang hantu yang menampakkan dirinya sebagai pria berjubah dengan dua tangan dirantai. Athenodorus tidak menjerit dan lari terbirit-birit, ia malah bangkit dan membuntuti si makhluk halus! Gerak hantu dan bunyi rantainya yang bergemerincing tak menciutkan nyalinya. Ternyata hantu itu melayang ke kebun, lalu lenyap.
Esok harinya Athenodorus menyuruh orang menggali tempat di mana hantu itu menghilang. Mereka menemukan seonggok tulang belulang dan rantai. Kemudian Athenodorus menguburkannya dengan upacara yang pantas, dan sejak itu sang hantu tak muncul lagi.
Yang sering terjadi, hantu berkaitan dengan rumah dan gedung tua, tak terkecuali Gedung Putih, di Washington D.C. Semasa Walter Mondale masih menjabat wakil presiden di masa kepresidenan Jimmy Carter, suatu malam, putrinya, Eleanor, dikunjungi seseorang. Saking takutnya, ia pun pingsan! Begitu siuman ia segera menelepon posko Secret Service. Datanglah dua agen rahasia bersenjata lengkap. Celakanya, begitu ia mengatakan telah melihat hantu, mereka dengan kesal menjawab, ”Jangan pernah melakukan hal itu lagi!”
Soal makhluk halus memang bukan urusan bagian keamanan, meski itu tidak menepis kenyataan munculnya Presiden Abraham Lincoln dan James Garfield di Gedung Putih setelah mereka wafat. Bahkan Thomas Jefferson, presiden ke-3 AS dan salah satu penyusun Deklarasi Kemerdekaan Amerika di abad ke-18, konon suka muncul juga di Gedung Putih, tengah bermain biola.
Pernahkah kita berpikir bahwa makhluk halus tak selalu ”sosok” dari orang yang meninggal? Fenomena ”hantu” dari orang hidup bahkan sudah dijuluki khusus sebagai ”phantasms of the living” oleh British Society of Psychical Research pada 1886. (The Field Guide to Ghosts and Other Appiritions, 2002)
Dikisahkan pengalaman sejati seseorang bernama Ny. Boulton. Selama bertahun-tahun ia sering bermimpi mengunjungi sebuah rumah. Demikian sering sampai ia mampu menggambarkan sosok rumah itu luar-dalam. Namun, ia tak tahu di mana lokasi rumah itu.
Nah, suatu hari tahun 1883 ia dan suaminya memutuskan menyewa rumah di Skotlandia sepanjang musim gugur. Suaminya berangkat lebih dulu untuk meneken perjanjian sewa-menyewa dan mempersiapkan rumah itu. Istrinya menyusul kemudian. Si pemilik rumah, Lady Beresford, memberi peringatan bahwa kamar tidurnya berhantu, ”Tapi hantu seorang perempuan kecil yang baik, kok.”
Ketika Ny. Boulton tiba di rumah itu, segera ia mengenali rumah itu sebagai rumah yang sering tampak dalam mimpinya, meski ada sedikit perbedaan pengaturan ruangan. Yang paling aneh, saat ia berjumpa dengan Lady Beresford, sang nyonya segera berseru, ”Lo, Anda ’kan wanita yang menghantui kamar tidur saya!”
Ada lagi, pengalaman melihat ”hantu” dari diri sendiri, seperti dialami oleh penyair Jerman, Goethe. Dalam autobiografinya ia mengisahkan bagaimana suatu malam saat hujan turun di Weimar, ia melihat dirinya sendiri. Meski akunya, ia melihat dengan mata pikirannya. Fenomena bilokasi tampaknya cocok dengan pemahaman berdasarkan banyak bukti bahwa sebagian dari diri kita – yang sering disebut tubuh astral – bisa memisahkan diri dari tubuh fisik kita. Kadang-kadang tubuh astral itu pun terlihat orang lain.
Sebuah dunia yang tidak terang benar tetapi mengusik keingintahuan, itulah yang kini banyak diekspos oleh media cetak dan elektronik. Acara-acara di televisi macam O, Seram, Misteri, Percaya Nggak Percaya, The Scariest Places in The World, Would You Believe It, atau Misteri Kisah Nyata digemari pemirsa. Kendati mereka menikmatinya dengan cara aneh, menonton sambil menjerembapkan bantal ke muka.
Di Amerika Serikat, negara yang sanggup mengirimkan misi ke angkasa luar, kepercayaan pada hal-hal yang aneh pun lumayan tinggi. Fenomena hantu dipercaya oleh 38% responden. Sebanyak 40% tidak percaya. Sisanya, 17% tidak yakin. Sementara mereka yang percaya adanya rumah hantu mencapai 50%, 20% tidak yakin, dan 27% tidak percaya.
Situs di jagat maya yang mengupas soal hantu pun bukan main banyaknya. Kelompok ini bahkan telah melangkah jauh. Misalnya, membuat daftar gedung atau rumah paling berhantu di berbagai negara. Juga mendeteksi keberadaan hantu dan mendokumentasikannya dengan cara-cara tertentu. Ghostweb.com, misalnya, telah diklik oleh 3,2 juta orang sejak diluncurkan pada Juli 1996.
Berangkat dari perburuan hantu ini, hauntedhouse.com mencatat sebuah rumah tepat di persimpangan jalan raya San Diego dan jalan Harney sebagai rumah paling berhantu di Amerika. ”The Whaley House,” kata Hans Holver, pemburu hantu beken yang mengamati rumah itu. Rumah di ”kota tua” San Diego itu kini menjadi museum dan dibuka setiap hari dari pukul 10.00 – 17.30.
Sejumlah hantu menempati rumah itu. Seperti Yankee Jim, Whaley dan istrinya, serta beberapa hantu lain yang tidak dikenal. Ada juga anak kecil, anak Whaley yang meninggal karena demam tinggi.
Rumah Whaley dibangun oleh Thomas Whaley pada 1856. Thomas yang berwatak sosial sangat dikenal di San Diego. Sebelum dijadikan museum rumah hantu, salah satu lantainya digunakan sebagai gedung teater, sementara ruang tamu di lantai satu menjadi kantor kehakiman.
Corinne Lilian Whaley, keturunan terakhir Whaley yang menempati rumah itu. Ia putri bungsu Keluarga Whaley yang berjumlah enam orang. Ia meninggal dalam usia 89 tahun pada 1953. Thomas wafat pada 14 Desember 1890 pada usia 67 tahun. Istrinya, Anna, meninggal pada 24 Februari 1913. Mereka berdua dimakamkan di Mount Hope, San Diego.
Sejak itu Whaley House merana selama bertahun-tahun. Untuk memulihkan kondisinya pemerintah kota San Diego membentuk Historical Shrine Foundation. Whaley House dibeli dan dijadikan museum sejarah dengan merestorasi sesuai kondisi aslinya.
Tahun 1960, ketika Whaley House dibuka untuk umum, banyak peristiwa aneh dialami oleh para penjaga dan pengunjung. Mereka mengaku, merasa ada hantu di sana.
Sebagian besar pengunjung mengaku, mendengar musik dan suara sejumlah orang mendendangkan lagu. Ada juga suara anak-anak yang tertawa atau menangis di lantai atas. Kadang kala tercium bau asap rokok, minyak wangi, atau aroma masakan dari dapur pada minggu-minggu menjelang Natal. Anak kecil yang sedang menangis itu barangkali adalah anak yang meninggal terenggut demam tinggi.
Hantu di Gedung Putih
The International Ghost Hunters Society mencatat, hantu memang ada di mana-mana. Juga di rumah tua atau kuburan tua. Namun, juga tidak menafikan kalau hantu terdapat di bangunan atau rumah baru. Kenyataan yang barangkali sulit diterima bagi yang belum pernah memergokinya.
Penyelidikan terawal tentang hantu mungkin yang dilakukan oleh filsuf Yunani Athenodorus. Pemikir yang hidup pada abad pertama itu sedang mencari-cari rumah di Athena. Kebetulan ia mendengar ada rumah dijual supermurah. Ternyata belakangan pemiliknya mengakui, rumah itu berhantu. Athenodorus bukan filsuf, kalau langsung jeri. Ia membeli rumah itu dengan tekad akan memecahkan misteri itu.
Malam sudah larut ketika ia asyik bekerja. Athenodorus benar didatangi sang hantu yang menampakkan dirinya sebagai pria berjubah dengan dua tangan dirantai. Athenodorus tidak menjerit dan lari terbirit-birit, ia malah bangkit dan membuntuti si makhluk halus! Gerak hantu dan bunyi rantainya yang bergemerincing tak menciutkan nyalinya. Ternyata hantu itu melayang ke kebun, lalu lenyap.
Esok harinya Athenodorus menyuruh orang menggali tempat di mana hantu itu menghilang. Mereka menemukan seonggok tulang belulang dan rantai. Kemudian Athenodorus menguburkannya dengan upacara yang pantas, dan sejak itu sang hantu tak muncul lagi.
Yang sering terjadi, hantu berkaitan dengan rumah dan gedung tua, tak terkecuali Gedung Putih, di Washington D.C. Semasa Walter Mondale masih menjabat wakil presiden di masa kepresidenan Jimmy Carter, suatu malam, putrinya, Eleanor, dikunjungi seseorang. Saking takutnya, ia pun pingsan! Begitu siuman ia segera menelepon posko Secret Service. Datanglah dua agen rahasia bersenjata lengkap. Celakanya, begitu ia mengatakan telah melihat hantu, mereka dengan kesal menjawab, ”Jangan pernah melakukan hal itu lagi!”
Soal makhluk halus memang bukan urusan bagian keamanan, meski itu tidak menepis kenyataan munculnya Presiden Abraham Lincoln dan James Garfield di Gedung Putih setelah mereka wafat. Bahkan Thomas Jefferson, presiden ke-3 AS dan salah satu penyusun Deklarasi Kemerdekaan Amerika di abad ke-18, konon suka muncul juga di Gedung Putih, tengah bermain biola.
Pernahkah kita berpikir bahwa makhluk halus tak selalu ”sosok” dari orang yang meninggal? Fenomena ”hantu” dari orang hidup bahkan sudah dijuluki khusus sebagai ”phantasms of the living” oleh British Society of Psychical Research pada 1886. (The Field Guide to Ghosts and Other Appiritions, 2002)
Dikisahkan pengalaman sejati seseorang bernama Ny. Boulton. Selama bertahun-tahun ia sering bermimpi mengunjungi sebuah rumah. Demikian sering sampai ia mampu menggambarkan sosok rumah itu luar-dalam. Namun, ia tak tahu di mana lokasi rumah itu.
Nah, suatu hari tahun 1883 ia dan suaminya memutuskan menyewa rumah di Skotlandia sepanjang musim gugur. Suaminya berangkat lebih dulu untuk meneken perjanjian sewa-menyewa dan mempersiapkan rumah itu. Istrinya menyusul kemudian. Si pemilik rumah, Lady Beresford, memberi peringatan bahwa kamar tidurnya berhantu, ”Tapi hantu seorang perempuan kecil yang baik, kok.”
Ketika Ny. Boulton tiba di rumah itu, segera ia mengenali rumah itu sebagai rumah yang sering tampak dalam mimpinya, meski ada sedikit perbedaan pengaturan ruangan. Yang paling aneh, saat ia berjumpa dengan Lady Beresford, sang nyonya segera berseru, ”Lo, Anda ’kan wanita yang menghantui kamar tidur saya!”
Ada lagi, pengalaman melihat ”hantu” dari diri sendiri, seperti dialami oleh penyair Jerman, Goethe. Dalam autobiografinya ia mengisahkan bagaimana suatu malam saat hujan turun di Weimar, ia melihat dirinya sendiri. Meski akunya, ia melihat dengan mata pikirannya. Fenomena bilokasi tampaknya cocok dengan pemahaman berdasarkan banyak bukti bahwa sebagian dari diri kita – yang sering disebut tubuh astral – bisa memisahkan diri dari tubuh fisik kita. Kadang-kadang tubuh astral itu pun terlihat orang lain.
Berdamai pada hantu
Dalam pandangan Dr. Tb. Erwin Kusuma, Sp.KJ. hantu termasuk kategori
makhluk halus. Masyarakat Jawa punya sebutan yang kaya untuk makhluk
itu. Gendruwo, wewe gombel, banaspati, tuyul, dsb.
Tidak seperti manusia yang punya badan kasar dan badan halus, hantu cuma memiliki badan halus, sehingga sering disebut makhluk halus. Dengan energi sinarnya makhluk halus dapat menggetarkan diri dan masuk dalam gelombang sinar tampak. Pada saat itulah pancaindera kita bisa menangkapnya.
Orang yang meninggal, setelah badan kasarnya membusuk, bakal menjadi makhluk halus juga. Sama dengan sifat manusia yang beragam, makhluk halus pun bisa baik atau jahat. ”’Kan kita boleh memilih, mau jahat atau mau baik,” ujar psikiater yang juga mendalami hipnoterapi ini.
Menurut Erwin, golongan orang waskita bisa melihat makhluk halus dengan menggunakan badan halusnya. Demikian pula mereka yang terlatih atau berbakat. ”Saat melihat itu bukan berarti mata yang melihat, tetapi badan halus dengan extra sensory perception (ESP). Kalau kita pakai sensory perception (SP), ya enggak akan kelihatan,” tutur Erwin.
Soal wujud yang menakutkan, Erwin yang berpraktik di Klinik Prorevital Jakarta itu mengungkapkan, semua itu lantaran manusia jarang melihatnya. ”Kalau Anda seumur-umur enggak pernah melihat sapi lantas tiba-tiba ada sapi besar di depan Anda, pasti Anda takut, padahal sapi itu diam saja,” katanya menganalogikan.
Ia berpendapat, kita sebenarnya tak usah takut dengan makhluk halus, karena diri kita juga makhluk halus yang jauh lebih sempurna karena punya badan kasar. Malah disarankan untuk hidup berdampingan secara damai. ”Kalau ia iseng tinggal dibicarakan, asal jangan diusir. Caranya dengan omong lisan atau dengan niat,” jelas Erwin.
Jadi, untuk apa takut, kalau kita bisa hidup damai berdampingan?
Tidak seperti manusia yang punya badan kasar dan badan halus, hantu cuma memiliki badan halus, sehingga sering disebut makhluk halus. Dengan energi sinarnya makhluk halus dapat menggetarkan diri dan masuk dalam gelombang sinar tampak. Pada saat itulah pancaindera kita bisa menangkapnya.
Orang yang meninggal, setelah badan kasarnya membusuk, bakal menjadi makhluk halus juga. Sama dengan sifat manusia yang beragam, makhluk halus pun bisa baik atau jahat. ”’Kan kita boleh memilih, mau jahat atau mau baik,” ujar psikiater yang juga mendalami hipnoterapi ini.
Menurut Erwin, golongan orang waskita bisa melihat makhluk halus dengan menggunakan badan halusnya. Demikian pula mereka yang terlatih atau berbakat. ”Saat melihat itu bukan berarti mata yang melihat, tetapi badan halus dengan extra sensory perception (ESP). Kalau kita pakai sensory perception (SP), ya enggak akan kelihatan,” tutur Erwin.
Soal wujud yang menakutkan, Erwin yang berpraktik di Klinik Prorevital Jakarta itu mengungkapkan, semua itu lantaran manusia jarang melihatnya. ”Kalau Anda seumur-umur enggak pernah melihat sapi lantas tiba-tiba ada sapi besar di depan Anda, pasti Anda takut, padahal sapi itu diam saja,” katanya menganalogikan.
Ia berpendapat, kita sebenarnya tak usah takut dengan makhluk halus, karena diri kita juga makhluk halus yang jauh lebih sempurna karena punya badan kasar. Malah disarankan untuk hidup berdampingan secara damai. ”Kalau ia iseng tinggal dibicarakan, asal jangan diusir. Caranya dengan omong lisan atau dengan niat,” jelas Erwin.
Jadi, untuk apa takut, kalau kita bisa hidup damai berdampingan?
Hotel Berhantu
Kita bersama temen saya Nur berangkat dari Malang ke Bali dlm rangka
berwisata. kita bermalam di Sebuah Hotel di Bali. Kita smpai di sana
pada waktu sore hari, dan kita waktu di HOTEL diberi kamar nom.103.
Karna Nur punya indra ke 6, katanya di kamar itu ada 4 macam hantu
hiiiii.... bulu kuduk saya semua langsung bediri tegak.
Nah waktu ayah saya mw mandi (ayah saya sudah biasa mandi malam), waktu ayah saya di kmar mandi ayah saya bingung padahal ya kliatan, contoh:tempat handuk,tempat sabun. Terus ayah saya tanya ke Nur "Nur ini dimana tempat sabun dan handuk?" si Nur menjawab "Itu kan om, masa g keliatan siec??" Stlh itu ayah saya beli nasi bungkus di luar. Trus makan dan ngumpul di halaman HOTEL. Nah pda waktu ngumpul di halaman itu kedengeran suara buanter bgt, ternyata kata Nur para makhluk halus yg ada di kamar masing2 nggrumbuli kita smua.. trus ada orang dgn muka menunduk melintas di dpn kita, dan si Nur melihat bahwa kaki orang tersebut tdk ada, sampai menghilang dikegelapan, dan si Nur memberitahukan bahwa ada kejadian itu td.. salah satu dari kami ada yg pengen pipis, pada waktu pipis itu dia sgt lama hingga berjamjam. Dan akhirnya di bukakan oleh beberapa orang dan akhirnya bisa keluar.
Setelah pergi dari hotel, kita menuju kota Banyuwangi. Waktu perjalanan kita pergi, kita ke hutan dlu. Nah di dpn mobil kita ada truk. Trus di dpn truk itu ktnya tmen saya banyak hantu yg nempel krna di beri bunga kamboja.hiiiii. mengerikan bgt ya……
Trus qta masuk kapal yg bisa mengangkut mobil, truk, motor, dll. Mobil truk itu ikut, terus ayah saya bilang ke Nur "Nur tlg kmu liat tu truk msi ada yg hantu yg nempel g??" dan si Nur ngeliat ternyata uda ilang, trus si Nur bilang ke ayah saya "Om uda g papa kog hantu nya uda ilang" perjalanannya siec masih berjamjam lagi, stlh sampai di Banyuwangi bagian/kelompok truk dan mobil yg besar2 di dulukn spy longgar tmptnya, trus giliran mobil kita yg kluar, uda perjalanan lagi mobil truk tu ikut lagi ma kita. widihhh ……. Hantunya tmbh buanyak qata si nur. Trus akhirnya saya uda kapok pergi ke Bali.
Nah waktu ayah saya mw mandi (ayah saya sudah biasa mandi malam), waktu ayah saya di kmar mandi ayah saya bingung padahal ya kliatan, contoh:tempat handuk,tempat sabun. Terus ayah saya tanya ke Nur "Nur ini dimana tempat sabun dan handuk?" si Nur menjawab "Itu kan om, masa g keliatan siec??" Stlh itu ayah saya beli nasi bungkus di luar. Trus makan dan ngumpul di halaman HOTEL. Nah pda waktu ngumpul di halaman itu kedengeran suara buanter bgt, ternyata kata Nur para makhluk halus yg ada di kamar masing2 nggrumbuli kita smua.. trus ada orang dgn muka menunduk melintas di dpn kita, dan si Nur melihat bahwa kaki orang tersebut tdk ada, sampai menghilang dikegelapan, dan si Nur memberitahukan bahwa ada kejadian itu td.. salah satu dari kami ada yg pengen pipis, pada waktu pipis itu dia sgt lama hingga berjamjam. Dan akhirnya di bukakan oleh beberapa orang dan akhirnya bisa keluar.
Setelah pergi dari hotel, kita menuju kota Banyuwangi. Waktu perjalanan kita pergi, kita ke hutan dlu. Nah di dpn mobil kita ada truk. Trus di dpn truk itu ktnya tmen saya banyak hantu yg nempel krna di beri bunga kamboja.hiiiii. mengerikan bgt ya……
Trus qta masuk kapal yg bisa mengangkut mobil, truk, motor, dll. Mobil truk itu ikut, terus ayah saya bilang ke Nur "Nur tlg kmu liat tu truk msi ada yg hantu yg nempel g??" dan si Nur ngeliat ternyata uda ilang, trus si Nur bilang ke ayah saya "Om uda g papa kog hantu nya uda ilang" perjalanannya siec masih berjamjam lagi, stlh sampai di Banyuwangi bagian/kelompok truk dan mobil yg besar2 di dulukn spy longgar tmptnya, trus giliran mobil kita yg kluar, uda perjalanan lagi mobil truk tu ikut lagi ma kita. widihhh ……. Hantunya tmbh buanyak qata si nur. Trus akhirnya saya uda kapok pergi ke Bali.
Pasien Aneh
Ada kejadian aneh di rumah sakit Perawatan Intensif (ICU) ini dimana
para pasien selalu meninggal di tempat tidur pada kamar yang sama dan
selalu pada Jumat pagi tanpa peduli umur, kelamin, kondisi kesehatan
mereka ataupun latar belakang kesehatan.
Hal ini sangat membingungkan para dokter dan beberapa bahkan berpikir bahwa hal ini ada hubungannya dengan supranatural. Mengapa selalu pada hari Jumat dan pada tempat tidur yang sama. Lalu para dokter memutuskan untuk menuntaskan kasus ini dan menyelidiki penyebab dari beberapa kejadian ini...
Begitu tiba hari Jumatnya, semua orang di rumah sakit tersebut dengan tegang menunggu akankah kejadian buruk itu terulang kembali. Lalu terbaringlah pasien baru rumah sakit itu Di sana. Beberapa dokter sudah memegang tasbih, quran, bible bahkan sebagian lagi memegang salib kayu dan benda-benda suci lainnya untuk menangkal iblis... Sementara sang pasien masih terbaring di sana.
Seiring waktu berputar...... pukul 08:00.... 08:30.... tepat sebelum
Waktu keramat itu tiba ...... pintu kamar tersebut terbuka...............
Kemudian masuklah Tukimin...part timer cleaning service untuk hari Jumat...
Ia langsung mencabut peralatan untuk nafas bantuan dari stop kontaknya lalu
menggantinya dengan vacuum cleaner dan mulai membersihkan ruangan....
Hal ini sangat membingungkan para dokter dan beberapa bahkan berpikir bahwa hal ini ada hubungannya dengan supranatural. Mengapa selalu pada hari Jumat dan pada tempat tidur yang sama. Lalu para dokter memutuskan untuk menuntaskan kasus ini dan menyelidiki penyebab dari beberapa kejadian ini...
Begitu tiba hari Jumatnya, semua orang di rumah sakit tersebut dengan tegang menunggu akankah kejadian buruk itu terulang kembali. Lalu terbaringlah pasien baru rumah sakit itu Di sana. Beberapa dokter sudah memegang tasbih, quran, bible bahkan sebagian lagi memegang salib kayu dan benda-benda suci lainnya untuk menangkal iblis... Sementara sang pasien masih terbaring di sana.
Seiring waktu berputar...... pukul 08:00.... 08:30.... tepat sebelum
Waktu keramat itu tiba ...... pintu kamar tersebut terbuka...............
Kemudian masuklah Tukimin...part timer cleaning service untuk hari Jumat...
Ia langsung mencabut peralatan untuk nafas bantuan dari stop kontaknya lalu
menggantinya dengan vacuum cleaner dan mulai membersihkan ruangan....
Uang Palsu
Satu hari,
seorang kakek pergi ke rumah sakit berniat untuk memasang gigi palsu. Setelah
beberapa saaat, gigi si kakek selesai di pasang. Si kakek bertanya”berapa
biayanya dok”????????
dokter menjawab”
: hanya 50 ribu saja”.
Lalu si kakek
memberikan uang dan pergi beranjakl pulang. Tak jauh dari ruang periksa, sang
kakek di panggil oleh sang dokter.
“Kakek,, ini
uangnya palsu”????
Sikakek menjawab
dengan tenangnya, “iya memang benar”.
Sidokter
heran,kenapa????
kan benar, dokter juga memasang gigi palsu bukan gigi asli.
kan benar, dokter juga memasang gigi palsu bukan gigi asli.
hehehehhehehehehhe.,..,.,,.,.,.,.,.,,,.,.,.,.,.,.
Lupa
Seorang perawat
rumah sakit yang sedang bertugas ingin melihat para pasiennya. Salah satu
pasiennya ternyata sedang mengalami kejang-kejang. Lalu sang perawat memeriksa
keadaan si pasien ternyata tidak ada tanda-tanda ada keluhan apa-apa.
Si perawat
heran, lalu bertanya kepada pasien??
“kenapa
anda”???????
Si pasien
menjawab:
Saya lupa
setelah meminum obat itu saya tidak membaca bahwa ada aturannya”kocok dahulu
sebelum dimunum”.
Jadi, karna saya
telah meminumnya. Saya kocok aja di dalam perut.
Hahahhahaha.,.,.,.,,.,..,.,.,.,
Seorang wanita tua naik lift di gedung kantor yang sangat mewah. Seorang wanita muda dan cantik masuk ke dalam lift dan berbau wangi lalu menoleh kepada wanita tua dan berkata angkuh "Giorgio-Beverly hills, $100 per ounce"
Wanita muda dan cantik berikutnya naik lift dan juga sangat arogan menatap wanita tua itu dan berkata " Chanel no 5 ,$150 per ounce".
Sekitar 3 lantai kemudian , wanita tua itu telah mencapai tujuannya dan akan turun lift, ketika turun lift , sebelum dia pergi dan melihat ke 2 wanita itu, tersenyum, lalu membungkuk dan mengeluarkan kentut yang paling busuk.
Sambil mengatakan "brokoli 50 sen sekilo".
Dia itu sahabatku
Seminggu yang lalu ada seorang lelaki yang sedang berjalan sendiri
melangkahkan kakinya di hamparan jalan yang berdebu. Terlihat di matanya
setetes air mata yang berlinang dan seakan akan jatuh ke bumi, entah
apa yang sedang dipikirkannya. Tak ada satu katapun diucapkannya, ia
hanya berjalan dan berjalan tanpa suatu kepastian.
Aku lalu mendekati lelaki itu dengan penuh rasa ingin tahu. Aku bertanya padanya kenapa ia mengangis dan berjalan dengan lamun pikirannya. Tapi ia tak menjawab, aku lalu bertanya lagi dengan nada yang sedikit memaksa.
Ia hanya diam menatap ku, mungkin ia terkejut melihat seorang yang tak ia kenal bertanya kepadanya. Tapi aku tak peduli karena aku seakan mengerti apa yang dirasakannya. Perlahan ia bangkit dari diamnya dan berkata "aku...aku kini mengerti...".
Aku semakin bingung apa maksudnya, aku kemudian melihat dirinya yang seakan ingin berlari ke tengah jalan yang sedang ramai. Tanpa pikir panjang aku mengejarnya dan meraih tangannya, kutarik tangan itu dengan segenap kekuatan yang kumiliki.
Tapi ia kemudian marah dan kesal dengan apa yang telah kulakukan, seakan ia tak ingin aku menyelamatkan dirinya dari maut yang sudah mengincarnya. "Apa kamu sudah gila!!!", kataku padanya sambil berteriak. Ia lalu terduduk, diam dan diam...
Matanya menatap ke arah langit yang sedang meredup, perlahan ia lalu bercerita dan berkata kepada diriku. "Aku dulu adalah seorang yang bahagia", katanya. Kemudian ia melanjutkan ceritanya kepadaku.
Aku sangat bahagia dengan apa yang kumiliki, tak ada seorangpun yang bisa merebut senyum yang selalu terpancar di wajahku. Walaupun aku tak memiliki seorang pacar tapi aku tetap merasa senang karena aku merasa memiliki seorang teman yang selalu menemani hari-hariku. Temanku itu sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri.
Hari itu kami jalan ke sebuah mal di kota tempat kami tinggal, aku melihat seorang cewek yang menarik bagiku. Temanku lalu menyuruh aku untuk berkenalan dengan dia. Awalnya aku malu, tapi setelah sahabatku memaksa dan terus memaksa, akhirnya aku memberanikan diri untuk berkenalan.
Tapi cewek itu seakan tak menganggap diriku, ia hanya cuek dan terus berjalan tak menanggapiku. Aku pun kembali ke tempat temanku sambil sedikit tersenyum dan berkata "udah biasa sob, mana ada cewek yang amu ama gua, hahaaha...". Temanku lalu tersenyum kepadaku, o ya nama teman ku itu adalah tia. Ya sahabatku itu adalah seoarang wanita, yang selalu setia mendengar keluh kesah yang kurasakan.
Beberapa hari dari kejadian itu, seakan tia selalu ingin mencarikan seorang pacar untuk aku, tapi tetap saja semua cewek yang ia kenalkan kepada ku selalu menolak saat akan berkenalan dengan aku. Mungkin karena wajahku yang jelek dan pas-pasan.
Namun aku tetap merasa senang karena aku masih memiliki seorang sahabat seperti tia, seorang sahabat yang cantik, baik, dan perhatian. Tapi walaupun demikian tak pernah terlintas di otakku ingin memiliki dia sebagai pacar. Dan aku tahu aku tak pantas untuk menjadi cowoknya karena aku tak layak untuk dirinya.
Semakin lama aku menemani dia, semakin besar rasa yang kurasakan, entah apa itu. Aku merasa bila dia tak ada disampingku, aku merasa sepi dan gundah, apa aku jatuh cinta kepadanya?. Tapi ia seakan tak menyadari apa yang kurasakan dan terus menjodohkan aku dengan teman-teman ceweknya, aku hanya tersenyum ketika melihatnya menatap mataku.
Hari itu aku sedang memetik gitar dengan alunan nada yang indah, tiba-tiba handphone ku berdering dengan kerasnya, ketika kujawab ternyata dari sahabatku tia. Aku sangat senang menerima telephone darinya. Tapi ketika kujawab, kudengar suaranya serak seakan sedang menangis. Aku lalu bertanya kepadanya, dia hanya menjawab dengan sebuah kalimat "aku akan pergi...".
Aku bingung, aku lalu mengambil kunci mobilku dan bergegas menuju rumahnya, Ketika aku tiba di rumahnya, aku tak melihat mobilnya disana. Aku lalu mengetuk pintu rumahnya, dan hanya seorang penjaga rumah yang menyambut kedatanganku. Ia lalu mengatakan padaku bahwa tia dan papanya barusan berangkat ke bandara karena akan pindah ke luar negeri.
Tanpa pikir lagi, aku menuju ke bandara walaupun aku tak tahu ia akan kemana dan naik pesawat apa. Setiba disana aku kemudian berlari menuju pintu keberangkatan, dari kejauhan mataku menatap sosok tia yang sedang berdiri diam dan menunggu di depan pintu keberangkatan.
Kulangkahkan kakiku, kuberlari dan kuberteriak memanggil namanya. Tia!!!...aku yakin dia mendengar suaraku, ketika aku sampai di depan pintu keberangkatan, aku tak melihat sahabatku itu. Aku terus mencari dengan air mata yang berlinang di mataku, tapi tetap tak kutemui. Aku terus berteriak dan berteriak, Tia!!!...Tia!!!...
Tak ada yang menjawab, hanya orang-orang yang menatap diriku dan berpikir bahwa aku sudah gila!. Aku terduduk di lantai yang dingin itu, tak kusadari air mata mengalir dari pipiku jatuh ke bumi seakan terbang bersayap.
Tapi dalam tangisku itu aku terus memanggil nama tia dan perlahan berkata "aku cinta kamu tia, aku cinta kamu...". Baru kusadari bahwa cinta yang telah lama kucari selama ini ternyata selalu ada di dekatku, tapi aku tak pernah menyadarinya hingga ia pergi meninggalkanku.
Sampai saat ini aku ga pernah lagi ketemu dengan sahabatku itu, itulah yang membuat aku merasa sedih seperti sekarang ini. Walaupun waktu sudah berjalan hampir satu tahun semenjak dia pergi dari hari-hariku tapi aku ga pernah melupakan dia. Senyumnya, tawanya dan candanya selalu terbayang di ingatanku.
Mendengar cerita dari laki-laki ini, aku terdiam dan kemudian bertanya padanya "memang kamu ga pernah dihubungi oleh tia itu?". Ia lalu menjawab, "dia pernah sekali mengirimkan sms ke hp ku, katanya sekarang dia lagi di bandung".
"Loh bagus donk, kan kamu bisa ketemu dengan dia", kataku kepada lelaki itu. "Ya memang aku bisa bertemu dengan dia sekarang, tapi untuk apa aku bertemu dengan dia kalau cuma akan menyakiti", jawabnya.
Ia lalu memperlihatkan isi sms yang dikirimkan oleh tia kepada laki-laki itu...isinya seperti ini.
Hallo romi, gimana kabarnya?...aku lagi ada dibandung nih, o ya datang ya ke pesta ulang tahun aku ntar malam, o ya nanti malam sekalian aku kenalin kamu ke pacar aku hehehe...gimana kamu udah dapat cewek blum?, jangan jomblo mulu donk, malu ama umur huhuuhuh...
Ternyata nama laki-laki itu adalah romi, aku kemudian berkata padanya setelah membaca isi sms itu "aku tahu kamu cinta dia, dan aku tahu seperti apa sakit yang kamu rasakan, mungkin aku ga berhak memberikan pendapat karena kamu pasti mengira bahwa aku ga pernah mengerti sedih yang kamu rasakan saat ini, tapi percayalah...jalan satu-satunya dan yang terbaik adalah kamu datang ke pesta ulang tahunnya dan katakan bahwa kamu cinta dia, apapun keputusannya kamu harus menerimanya...aku bakal nemenin kamu ntar malam kalau kamu mau...".
Romi awalnya diam dan kemudian perlahan menjawab "mungkin kamu benar,,,ok ntar malam kamu temenin aku ya...", jawabnya sambil tersenyum.
Ketika malam datang, romi telah menungguku di tempat kami bertemu tadi, dengan dandanan yang rapi dan gagah dia mendatangiku dan langsung mengajakku untuk naik ke mobilnya, tanpa menunggu lagi kami langsung berangkat menuju ke rumah tia.
Terlihat suasana yang sangat ramai dan meriah di sana. Romi terlihat ragu ketika akan melangkah ke dalam rumah itu, tapi aku terus memberikan semangat kepadanya. Kemudian ia memberanikan dirinya untuk masuk, ia lalu menunjukkan kepadaku tia seorang sahabat dan seorang gadis yang sangat dicintainya.
Aku melihat sosok tia itu sangat cantik dan menarik, senyumnya seakan membiusku. Aku lalu membisikkan kepada romi untuk memberikan kado yang sudah dipersiapkannya kepada tia, dan jangan lupa untuk mengatakan bahwa kamu cinta dia.
Namun ketika romi akan melangkah ke arah tia, tiba-tiba terdengar suara pembawa acara, kita sambut tia yang akan menyanyikan sebuah lagu. Mendengar suara tersebut, romi berhenti melangkah dan terdiam. Tia lalu bernyanyi dengan suara yang indah dan membuat seluruh tamu terpana, di akhir lagunya ketika tia selesai melantunkan sebuah lagu, ia lalu berkata, lagu ini untuk seorang yang sangat aku sayangi.
Para tamu yang hadir kemudian berteriak "Huuuu...siapa tu!!!"...Tia melihat seorang lelaki yang wajahnya terlihat bukan dari negara kita, mungkin ia adalah cowok yang dikenal tia di luar negeri sana.
Setelah tia bernyanyi, papa tia pun berjalan ke arahnya dan menyampaikan beberapa kata, aku terkejut ketika mendengar kata-kata papanya, "hari ini tia akan memperkenalkan seoarang cowok yang sangat dicintainya, dan hari ini juga saya akan meresmikan hubungan mereka dengan pertunangan.
Aku menatap ke arah romi, terlihat tatapan kosong di matanya...aku tahu apa yang ia rasakan. Tia lalu berkata melalui sebuah mikropon yang digenggamnya, "hari ini saya akan memperkenalkan seorang cowok yang sangat saya cintai, berhubung papa saya memaksa saya untuk langsung saja tunangan dengan cowok itu hehehe...tapi kan ga bisa maksa juga, kali aja tu cowok ga suka dengan aku...", kata tia sambil tertawa.
Ketika tia sedang berbicara, seoarang cowok bule tadi berjalan ke arah tia, "apakah cowok itu yang tia maksud?", tanyaku dalam hati. Melihat hal ini, romi datang ke arahku dan berkata padaku, "ayo kita pulang, ga ada gunanya kita disini...".
Tapi tiba-tiba ketika kami akan berjalan keluar rumah itu, aku mendengar tia berkata "benerkan ga bisa maksa untuk tunangan hari ini, kali aja tu cowok ga nerima aku untuk jadi tunangan dia, buktinya dia ga datang malam ini". Aku semakin bingung mendengar kata-kata tia,,,dan aku terdiam sejenak di sana walaupun romi terus melangkah ke arah mobilnya.
Karena sudah tak tahan lagi, aku lalu memberanikan diri berteriak "memang siapa cowok itu!!!". mendengar kata-kataku para tamu yang hadir pun ikut berteriak memaksa "Ya...Siapa!!!"...
Tia lalu terdiam sejenak dan perlahan berkata "dia itu sahabatku...romi....". Mendengar perkataan tia aku langsung berlari ke arah tia berdiri dan menghampirinya, kemudian aku berkata "romi datang kok,,,dari tadi dia pengen...". Belum selesai aku bicara, tia langsung memotong kata-kataku , "mana romi?...kamu siapa?!!!...jangan bohong ah!!!", kata tia dengan wajah yang penasaran. "Kamu ga perlu tahu aku siapa, yuk ke tempat romi...".
Aku lalu menarik tangan tia ke tempat mobil romi diparkirkan, ketika aku dan tia sampai disana, kami tidak melihat romi, hanya sebuah kado yang terletak disana. Tia lalu mengambil kado itu dan membaca kata-kata yang ditulis romi,,,
Tia selamat ulang tahun ya...semoga kamu panjang umur dan selalu bahagia, o ya hari ini aku sangat senang bisa melihat kamu, walaupun aku ga bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan,,,tapi aku bahagia kok, karena kamu sudah memiliki seorang pilihan dan akan tunangan...
Membaca tulisan itu, air mata tia seakan berjatuhan tanpa henti...ia kemudian memeluk kado itu dengan segenap hatinya. Lalu ia berjalan sambil menangis ke dalam rumahnya, para tamu sangat bingung melihat tia, papa tia langsung memeluk tia yang sedang menangis itu. Terlihat suasana sangat mengarukan...
Tapi ketika kesunyian sedang menyelimuti saat itu, terdengar suara nyanyian seorang laki-laki dengan petikan gitar yang memecah kesepian. Seakan aku mengenal suara itu, semua orang disana menatap arah suara yang merdu itu, lantunan nada-nada indah terdengar ketika itu. Setelah ia selesai bernyanyi, ia berkata "lagu ini untuk orang yang sangat aku cintai...dia itu sahabatku...".
Wah ternyata itu romi, teriakku dalam hati. Tia langsung berlari ke arah romi dan langsung memeluknya. "Maafin aku romi...", kata tia kepada romi. "Kamu ga salah kok, aku aja yang ga pernah berani untuk mengakui kalau selama ini cewek yang aku cari itu adalah kamu...", jawab romi. Tia lalu tersenyum menatap wajah romi. Semua terdiam, tak ada sedikitpun suara yang terdengar...
Hingga ketika romi berkata "Aku cinta kamu tia", kata romi yang kemudian mengecup kening tia dengan indahnya. Aku pun seakan tak bisa berkata, tak ada sebuah kata yang mampu kuucapkan. "Aku juga cinta kamu romi...", jawab tia dengan perlahan yang kemudian memeluk tubuh romi.
Terdengar riuh tepuk tangan para tamu yang hadir, aku melihat ke arah papa tia, ia meneteskan air mata dari matanya yang sangat memerah.
Mungkin inilah takdir yang sudah dituliskan oleh yang maha kuasa, di mana cinta tak akan pernah hilang bila manusia tersebut benar-benar menginginkannya...
Aku lalu mendekati lelaki itu dengan penuh rasa ingin tahu. Aku bertanya padanya kenapa ia mengangis dan berjalan dengan lamun pikirannya. Tapi ia tak menjawab, aku lalu bertanya lagi dengan nada yang sedikit memaksa.
Ia hanya diam menatap ku, mungkin ia terkejut melihat seorang yang tak ia kenal bertanya kepadanya. Tapi aku tak peduli karena aku seakan mengerti apa yang dirasakannya. Perlahan ia bangkit dari diamnya dan berkata "aku...aku kini mengerti...".
Aku semakin bingung apa maksudnya, aku kemudian melihat dirinya yang seakan ingin berlari ke tengah jalan yang sedang ramai. Tanpa pikir panjang aku mengejarnya dan meraih tangannya, kutarik tangan itu dengan segenap kekuatan yang kumiliki.
Tapi ia kemudian marah dan kesal dengan apa yang telah kulakukan, seakan ia tak ingin aku menyelamatkan dirinya dari maut yang sudah mengincarnya. "Apa kamu sudah gila!!!", kataku padanya sambil berteriak. Ia lalu terduduk, diam dan diam...
Matanya menatap ke arah langit yang sedang meredup, perlahan ia lalu bercerita dan berkata kepada diriku. "Aku dulu adalah seorang yang bahagia", katanya. Kemudian ia melanjutkan ceritanya kepadaku.
Aku sangat bahagia dengan apa yang kumiliki, tak ada seorangpun yang bisa merebut senyum yang selalu terpancar di wajahku. Walaupun aku tak memiliki seorang pacar tapi aku tetap merasa senang karena aku merasa memiliki seorang teman yang selalu menemani hari-hariku. Temanku itu sudah kuanggap sebagai saudaraku sendiri.
Hari itu kami jalan ke sebuah mal di kota tempat kami tinggal, aku melihat seorang cewek yang menarik bagiku. Temanku lalu menyuruh aku untuk berkenalan dengan dia. Awalnya aku malu, tapi setelah sahabatku memaksa dan terus memaksa, akhirnya aku memberanikan diri untuk berkenalan.
Tapi cewek itu seakan tak menganggap diriku, ia hanya cuek dan terus berjalan tak menanggapiku. Aku pun kembali ke tempat temanku sambil sedikit tersenyum dan berkata "udah biasa sob, mana ada cewek yang amu ama gua, hahaaha...". Temanku lalu tersenyum kepadaku, o ya nama teman ku itu adalah tia. Ya sahabatku itu adalah seoarang wanita, yang selalu setia mendengar keluh kesah yang kurasakan.
Beberapa hari dari kejadian itu, seakan tia selalu ingin mencarikan seorang pacar untuk aku, tapi tetap saja semua cewek yang ia kenalkan kepada ku selalu menolak saat akan berkenalan dengan aku. Mungkin karena wajahku yang jelek dan pas-pasan.
Namun aku tetap merasa senang karena aku masih memiliki seorang sahabat seperti tia, seorang sahabat yang cantik, baik, dan perhatian. Tapi walaupun demikian tak pernah terlintas di otakku ingin memiliki dia sebagai pacar. Dan aku tahu aku tak pantas untuk menjadi cowoknya karena aku tak layak untuk dirinya.
Semakin lama aku menemani dia, semakin besar rasa yang kurasakan, entah apa itu. Aku merasa bila dia tak ada disampingku, aku merasa sepi dan gundah, apa aku jatuh cinta kepadanya?. Tapi ia seakan tak menyadari apa yang kurasakan dan terus menjodohkan aku dengan teman-teman ceweknya, aku hanya tersenyum ketika melihatnya menatap mataku.
Hari itu aku sedang memetik gitar dengan alunan nada yang indah, tiba-tiba handphone ku berdering dengan kerasnya, ketika kujawab ternyata dari sahabatku tia. Aku sangat senang menerima telephone darinya. Tapi ketika kujawab, kudengar suaranya serak seakan sedang menangis. Aku lalu bertanya kepadanya, dia hanya menjawab dengan sebuah kalimat "aku akan pergi...".
Aku bingung, aku lalu mengambil kunci mobilku dan bergegas menuju rumahnya, Ketika aku tiba di rumahnya, aku tak melihat mobilnya disana. Aku lalu mengetuk pintu rumahnya, dan hanya seorang penjaga rumah yang menyambut kedatanganku. Ia lalu mengatakan padaku bahwa tia dan papanya barusan berangkat ke bandara karena akan pindah ke luar negeri.
Tanpa pikir lagi, aku menuju ke bandara walaupun aku tak tahu ia akan kemana dan naik pesawat apa. Setiba disana aku kemudian berlari menuju pintu keberangkatan, dari kejauhan mataku menatap sosok tia yang sedang berdiri diam dan menunggu di depan pintu keberangkatan.
Kulangkahkan kakiku, kuberlari dan kuberteriak memanggil namanya. Tia!!!...aku yakin dia mendengar suaraku, ketika aku sampai di depan pintu keberangkatan, aku tak melihat sahabatku itu. Aku terus mencari dengan air mata yang berlinang di mataku, tapi tetap tak kutemui. Aku terus berteriak dan berteriak, Tia!!!...Tia!!!...
Tak ada yang menjawab, hanya orang-orang yang menatap diriku dan berpikir bahwa aku sudah gila!. Aku terduduk di lantai yang dingin itu, tak kusadari air mata mengalir dari pipiku jatuh ke bumi seakan terbang bersayap.
Tapi dalam tangisku itu aku terus memanggil nama tia dan perlahan berkata "aku cinta kamu tia, aku cinta kamu...". Baru kusadari bahwa cinta yang telah lama kucari selama ini ternyata selalu ada di dekatku, tapi aku tak pernah menyadarinya hingga ia pergi meninggalkanku.
Sampai saat ini aku ga pernah lagi ketemu dengan sahabatku itu, itulah yang membuat aku merasa sedih seperti sekarang ini. Walaupun waktu sudah berjalan hampir satu tahun semenjak dia pergi dari hari-hariku tapi aku ga pernah melupakan dia. Senyumnya, tawanya dan candanya selalu terbayang di ingatanku.
Mendengar cerita dari laki-laki ini, aku terdiam dan kemudian bertanya padanya "memang kamu ga pernah dihubungi oleh tia itu?". Ia lalu menjawab, "dia pernah sekali mengirimkan sms ke hp ku, katanya sekarang dia lagi di bandung".
"Loh bagus donk, kan kamu bisa ketemu dengan dia", kataku kepada lelaki itu. "Ya memang aku bisa bertemu dengan dia sekarang, tapi untuk apa aku bertemu dengan dia kalau cuma akan menyakiti", jawabnya.
Ia lalu memperlihatkan isi sms yang dikirimkan oleh tia kepada laki-laki itu...isinya seperti ini.
Hallo romi, gimana kabarnya?...aku lagi ada dibandung nih, o ya datang ya ke pesta ulang tahun aku ntar malam, o ya nanti malam sekalian aku kenalin kamu ke pacar aku hehehe...gimana kamu udah dapat cewek blum?, jangan jomblo mulu donk, malu ama umur huhuuhuh...
Ternyata nama laki-laki itu adalah romi, aku kemudian berkata padanya setelah membaca isi sms itu "aku tahu kamu cinta dia, dan aku tahu seperti apa sakit yang kamu rasakan, mungkin aku ga berhak memberikan pendapat karena kamu pasti mengira bahwa aku ga pernah mengerti sedih yang kamu rasakan saat ini, tapi percayalah...jalan satu-satunya dan yang terbaik adalah kamu datang ke pesta ulang tahunnya dan katakan bahwa kamu cinta dia, apapun keputusannya kamu harus menerimanya...aku bakal nemenin kamu ntar malam kalau kamu mau...".
Romi awalnya diam dan kemudian perlahan menjawab "mungkin kamu benar,,,ok ntar malam kamu temenin aku ya...", jawabnya sambil tersenyum.
Ketika malam datang, romi telah menungguku di tempat kami bertemu tadi, dengan dandanan yang rapi dan gagah dia mendatangiku dan langsung mengajakku untuk naik ke mobilnya, tanpa menunggu lagi kami langsung berangkat menuju ke rumah tia.
Terlihat suasana yang sangat ramai dan meriah di sana. Romi terlihat ragu ketika akan melangkah ke dalam rumah itu, tapi aku terus memberikan semangat kepadanya. Kemudian ia memberanikan dirinya untuk masuk, ia lalu menunjukkan kepadaku tia seorang sahabat dan seorang gadis yang sangat dicintainya.
Aku melihat sosok tia itu sangat cantik dan menarik, senyumnya seakan membiusku. Aku lalu membisikkan kepada romi untuk memberikan kado yang sudah dipersiapkannya kepada tia, dan jangan lupa untuk mengatakan bahwa kamu cinta dia.
Namun ketika romi akan melangkah ke arah tia, tiba-tiba terdengar suara pembawa acara, kita sambut tia yang akan menyanyikan sebuah lagu. Mendengar suara tersebut, romi berhenti melangkah dan terdiam. Tia lalu bernyanyi dengan suara yang indah dan membuat seluruh tamu terpana, di akhir lagunya ketika tia selesai melantunkan sebuah lagu, ia lalu berkata, lagu ini untuk seorang yang sangat aku sayangi.
Para tamu yang hadir kemudian berteriak "Huuuu...siapa tu!!!"...Tia melihat seorang lelaki yang wajahnya terlihat bukan dari negara kita, mungkin ia adalah cowok yang dikenal tia di luar negeri sana.
Setelah tia bernyanyi, papa tia pun berjalan ke arahnya dan menyampaikan beberapa kata, aku terkejut ketika mendengar kata-kata papanya, "hari ini tia akan memperkenalkan seoarang cowok yang sangat dicintainya, dan hari ini juga saya akan meresmikan hubungan mereka dengan pertunangan.
Aku menatap ke arah romi, terlihat tatapan kosong di matanya...aku tahu apa yang ia rasakan. Tia lalu berkata melalui sebuah mikropon yang digenggamnya, "hari ini saya akan memperkenalkan seorang cowok yang sangat saya cintai, berhubung papa saya memaksa saya untuk langsung saja tunangan dengan cowok itu hehehe...tapi kan ga bisa maksa juga, kali aja tu cowok ga suka dengan aku...", kata tia sambil tertawa.
Ketika tia sedang berbicara, seoarang cowok bule tadi berjalan ke arah tia, "apakah cowok itu yang tia maksud?", tanyaku dalam hati. Melihat hal ini, romi datang ke arahku dan berkata padaku, "ayo kita pulang, ga ada gunanya kita disini...".
Tapi tiba-tiba ketika kami akan berjalan keluar rumah itu, aku mendengar tia berkata "benerkan ga bisa maksa untuk tunangan hari ini, kali aja tu cowok ga nerima aku untuk jadi tunangan dia, buktinya dia ga datang malam ini". Aku semakin bingung mendengar kata-kata tia,,,dan aku terdiam sejenak di sana walaupun romi terus melangkah ke arah mobilnya.
Karena sudah tak tahan lagi, aku lalu memberanikan diri berteriak "memang siapa cowok itu!!!". mendengar kata-kataku para tamu yang hadir pun ikut berteriak memaksa "Ya...Siapa!!!"...
Tia lalu terdiam sejenak dan perlahan berkata "dia itu sahabatku...romi....". Mendengar perkataan tia aku langsung berlari ke arah tia berdiri dan menghampirinya, kemudian aku berkata "romi datang kok,,,dari tadi dia pengen...". Belum selesai aku bicara, tia langsung memotong kata-kataku , "mana romi?...kamu siapa?!!!...jangan bohong ah!!!", kata tia dengan wajah yang penasaran. "Kamu ga perlu tahu aku siapa, yuk ke tempat romi...".
Aku lalu menarik tangan tia ke tempat mobil romi diparkirkan, ketika aku dan tia sampai disana, kami tidak melihat romi, hanya sebuah kado yang terletak disana. Tia lalu mengambil kado itu dan membaca kata-kata yang ditulis romi,,,
Tia selamat ulang tahun ya...semoga kamu panjang umur dan selalu bahagia, o ya hari ini aku sangat senang bisa melihat kamu, walaupun aku ga bisa mengungkapkan apa yang aku rasakan,,,tapi aku bahagia kok, karena kamu sudah memiliki seorang pilihan dan akan tunangan...
Membaca tulisan itu, air mata tia seakan berjatuhan tanpa henti...ia kemudian memeluk kado itu dengan segenap hatinya. Lalu ia berjalan sambil menangis ke dalam rumahnya, para tamu sangat bingung melihat tia, papa tia langsung memeluk tia yang sedang menangis itu. Terlihat suasana sangat mengarukan...
Tapi ketika kesunyian sedang menyelimuti saat itu, terdengar suara nyanyian seorang laki-laki dengan petikan gitar yang memecah kesepian. Seakan aku mengenal suara itu, semua orang disana menatap arah suara yang merdu itu, lantunan nada-nada indah terdengar ketika itu. Setelah ia selesai bernyanyi, ia berkata "lagu ini untuk orang yang sangat aku cintai...dia itu sahabatku...".
Wah ternyata itu romi, teriakku dalam hati. Tia langsung berlari ke arah romi dan langsung memeluknya. "Maafin aku romi...", kata tia kepada romi. "Kamu ga salah kok, aku aja yang ga pernah berani untuk mengakui kalau selama ini cewek yang aku cari itu adalah kamu...", jawab romi. Tia lalu tersenyum menatap wajah romi. Semua terdiam, tak ada sedikitpun suara yang terdengar...
Hingga ketika romi berkata "Aku cinta kamu tia", kata romi yang kemudian mengecup kening tia dengan indahnya. Aku pun seakan tak bisa berkata, tak ada sebuah kata yang mampu kuucapkan. "Aku juga cinta kamu romi...", jawab tia dengan perlahan yang kemudian memeluk tubuh romi.
Terdengar riuh tepuk tangan para tamu yang hadir, aku melihat ke arah papa tia, ia meneteskan air mata dari matanya yang sangat memerah.
Mungkin inilah takdir yang sudah dituliskan oleh yang maha kuasa, di mana cinta tak akan pernah hilang bila manusia tersebut benar-benar menginginkannya...
Pencinta alam
Badrun dan poli, 2 orang pencinta alam sedang menjelajah suatu hutan.
Suatu ketika, Badrun yang kebelet kencing langsung menuntaskan hajatnya
di semak-semak. Tapi betapa sialnya karena ia tidak melihat ada seekor
ular kobra yang langsung mematuk penis Badrun.
Badrun langsung berteriak minta tolong kepada temannya. "Poli, penisku digigit ular kobra! Cepat ambil ponsel dan hubungi dokter, dan coba minta petunjuk!" ujar Badrun panik.
Poli segera menelepon dokter. "Tenangkan kawanmu, dia masih bisa ditolong asal kamu melakukan ini. Ambil pisau tajam, buatlah irisan berbentuk silang di sekitar luka bekas gigitan ular, lalu hisap keluar bisa ular dari penis si korban sampe betul-betul habis, ikat penisnya kuat-kuat untuk menahan pendarahannya dan langsung bawa ke dokter terdekat," jelas si dokter.
"Baik dok", kata Poli, "akan saya sampaikan". Badrun berkata dengan tidak sabar, "Jadi apa kata dokter?". Poli menjawab, "Maaf Badrun, tapi menurut dokter kamu sudah tak tertolong lagi dan akan mati."
Badrun langsung berteriak minta tolong kepada temannya. "Poli, penisku digigit ular kobra! Cepat ambil ponsel dan hubungi dokter, dan coba minta petunjuk!" ujar Badrun panik.
Poli segera menelepon dokter. "Tenangkan kawanmu, dia masih bisa ditolong asal kamu melakukan ini. Ambil pisau tajam, buatlah irisan berbentuk silang di sekitar luka bekas gigitan ular, lalu hisap keluar bisa ular dari penis si korban sampe betul-betul habis, ikat penisnya kuat-kuat untuk menahan pendarahannya dan langsung bawa ke dokter terdekat," jelas si dokter.
"Baik dok", kata Poli, "akan saya sampaikan". Badrun berkata dengan tidak sabar, "Jadi apa kata dokter?". Poli menjawab, "Maaf Badrun, tapi menurut dokter kamu sudah tak tertolong lagi dan akan mati."
Penumpang Wanita Misterius Tengah Malam
Astaga!Misteri-Kejadian ini sudah lama terjadi. sekitar tahun 1998
pasca kerusuhan. Saat itu saya sedang dalam perjalanan pulang dari
kampus yang terletak di kawasan Jakarta Pusat sedangkan rumah saya
berada di Sawangan, Depok.
Waktu itu, pikiran saya memang sedang kosong karena siangnya bekerja cukup lelah di sebuah showroom mobil kemudian malamnya harus kuliah. Apalagi setelah jam kuliah berakhir, saya dan teman-teman masih kongkow-kongkow di rumah teman yang kebetulan tidak jauh letaknya dari kampus.
Biasanya saya pulang naik kereta terakhir dari stasiun Cikini, tapi pada hari kamis itu saya terpaksa membawa mobil karena siangnya saya ada meeting dengan customer. Saat itu, jam menunjukkan pukul 23.30 ketika saya pamit pulang dengan diiringi cemoohan dari teman-teman yang lain.
"Bences aja pulang pagi," begitu kata mereka. "Sori man gue capek banget, pengen istirahat nih." "Iye deh, ati-ati udah malem ntar ada yang numpang" canda temanku yang punya rumah."Biarin, apalagi kalo cewek gue ajak tidur sekalian," jawabku sekenanya yang disambut tawa teman-teman yang lain akhirnya dengan menguap beberapa kali aku jalankan mobilku menuju Depok.
Jam sudah menunjukkan pukul 00.30 pada saat saya melewati jalan yang kanan kirinya masih banyak pohon rimbun dan tanah lapang yang luas. Hanya kurang sekitar 2 km lagi saya sampai di rumah. Tiba-tiba saya merasakan bulu kuduk merinding dari ujung kepala sampai ujung kaki dan udara dalam mobilku sontak menjadi lebih dingin.
Spontan saya meraih tombol AC untuk mengurangi dingin. Pas saat itulah saya melihat sesosok wanita berambut panjang berumur sekitar 25 tahunan dengan baju terusan putih compang-camping dipenuhi bercak darah duduk di jok sebelah saya. Saya langsung istighfar dan membaca ayat-ayat Al Quran yang saya bisa, tapi sosok itu tetap berada di sana.
Kemuddian ketika saya mengintip ke spion dalam, saya juga melihat ada 3 banyangan hitam laki-laki duduk di jok belakang dan saya merasakan saat itu juga mobil saya bertambah berat lajunya. "Maafkan kalau saya mengganggu Anda sekalian dan sekarang saya minta anda semua turun dari mobil saya" kataku dalam hati sambil tetap berdoa.
Kemuidan satu persatu bayangan itu turun tinggal sosok wanita yang di sebelahku saja yang masih betah menemani sampai rumah. Kemudian mobil langsung saya masukkan ke garasi dan mesin langsung saya matikan tapi saya tidak langsung turun. Dengan mengumpulkan keberanian, saya hanya berucap dalam hati semoga mahluk ini cepat pergi.
Tak lama kemudian dengan diiringi senyum dari wajah yang pucat dan penuh bercak darah, mahluk itu menghilang, hanya meninggalkan asap putih yang keluar melalui jendela mobil. Saya tak henti-hentinya berucap syukur kepada Allah Swt karena dijauhkan dari godaan mahluk halus.
Waktu itu, pikiran saya memang sedang kosong karena siangnya bekerja cukup lelah di sebuah showroom mobil kemudian malamnya harus kuliah. Apalagi setelah jam kuliah berakhir, saya dan teman-teman masih kongkow-kongkow di rumah teman yang kebetulan tidak jauh letaknya dari kampus.
Biasanya saya pulang naik kereta terakhir dari stasiun Cikini, tapi pada hari kamis itu saya terpaksa membawa mobil karena siangnya saya ada meeting dengan customer. Saat itu, jam menunjukkan pukul 23.30 ketika saya pamit pulang dengan diiringi cemoohan dari teman-teman yang lain.
"Bences aja pulang pagi," begitu kata mereka. "Sori man gue capek banget, pengen istirahat nih." "Iye deh, ati-ati udah malem ntar ada yang numpang" canda temanku yang punya rumah."Biarin, apalagi kalo cewek gue ajak tidur sekalian," jawabku sekenanya yang disambut tawa teman-teman yang lain akhirnya dengan menguap beberapa kali aku jalankan mobilku menuju Depok.
Jam sudah menunjukkan pukul 00.30 pada saat saya melewati jalan yang kanan kirinya masih banyak pohon rimbun dan tanah lapang yang luas. Hanya kurang sekitar 2 km lagi saya sampai di rumah. Tiba-tiba saya merasakan bulu kuduk merinding dari ujung kepala sampai ujung kaki dan udara dalam mobilku sontak menjadi lebih dingin.
Spontan saya meraih tombol AC untuk mengurangi dingin. Pas saat itulah saya melihat sesosok wanita berambut panjang berumur sekitar 25 tahunan dengan baju terusan putih compang-camping dipenuhi bercak darah duduk di jok sebelah saya. Saya langsung istighfar dan membaca ayat-ayat Al Quran yang saya bisa, tapi sosok itu tetap berada di sana.
Kemuddian ketika saya mengintip ke spion dalam, saya juga melihat ada 3 banyangan hitam laki-laki duduk di jok belakang dan saya merasakan saat itu juga mobil saya bertambah berat lajunya. "Maafkan kalau saya mengganggu Anda sekalian dan sekarang saya minta anda semua turun dari mobil saya" kataku dalam hati sambil tetap berdoa.
Kemuidan satu persatu bayangan itu turun tinggal sosok wanita yang di sebelahku saja yang masih betah menemani sampai rumah. Kemudian mobil langsung saya masukkan ke garasi dan mesin langsung saya matikan tapi saya tidak langsung turun. Dengan mengumpulkan keberanian, saya hanya berucap dalam hati semoga mahluk ini cepat pergi.
Tak lama kemudian dengan diiringi senyum dari wajah yang pucat dan penuh bercak darah, mahluk itu menghilang, hanya meninggalkan asap putih yang keluar melalui jendela mobil. Saya tak henti-hentinya berucap syukur kepada Allah Swt karena dijauhkan dari godaan mahluk halus.




