Astaga!Misteri-Kejadian ini terjadi saat ibuku pulang kuliah,
bersama adik ibu. Iya, kisah ini memang sudah lama banget. Namun
kejadian itu, bagi ibuku tetap berkesan sampai sekarang, meski ada
kengerian tidak langsung yang menyangkut nyawa dia.
Begini, saat itu di stasiun kereta, mereka (ibu dan adiknya) hendak
pulang kuliah. Mereka berjalan di batas jalur penumpang, sangat dekat
dengan rel kereta, karena saat itu tidak ada kereta yang akan lewat.
Namun tiba-tiba sebuah kereta express akan melesat lewat.
Lalu orang-orang di sekitar sudah berteriak-teriak memperingati mereka
agar minggir, namun entah apa yang membuat mereka jadi buta dan tuli
karena sama sekali tidak mendengar. Mereka masih saja saja jalan seakan
tidak ada apa-apa.
Sangat aneh, aneh sekali, namun tidak diduga, secara bersamaan mereka
melihat ke atas trowongan tua, ada sesuatu di sana. Makhluk itu
berpakaian seperti petugas pembersih stasiun ,namun wajah orangnya
sangat merah, merah padam, agak kehitaman, kurus dan hampir keliatan
tulangnya.
Dia terlihat tanpa kaki, tapi menggunakan celana, seperti melayang. Tangan memegang sapu lidi dan serokan,lalu dia membanting-bantingkan sapu dan serokannya di atas terowongan. Sambil melotot dan melempar benda itu ke arah mereka.
Karena mendapat lemparan benda, meski cukup cukup jauh tapi seperti
akan menghantam muka mreka,spontan ibu dan adiknya melompat lari
menghindarinya. Dan saat mereka melompat itu, tiba-tiba kereta lewat
dengan kencangnya.
Setelah kejadian itu, mereka seperti tersadar sekaligus bersukur dan
selamatlah mereka. Setelah benar-benar sadar, mereka melihat kembali ke
atas trowongan, dan orang itu ternyata sudah tidak ada! Siapa dia? Apa
yang dilakukannya di atas sana?
Apa dia bekas pembersih stasiun yang mati di sini? Yang mereka berterimakasih karena telah diselematkan.
Stop at The Top
Para malaikat sedang sibuk mengadakan rapat untuk menentukan
cara-cara mati yang baru untuk daftar manusia yang akan mati bulan ini.
Tiba-tiba dikejutkan dengan masuknya salah satu asisten pribadi malaikat
pencabut nyawa. “Interupsi…interupsi… Yang mulia”, teriak sang asisten
dengan terengah-engah. “Ada apa asisten, kenapa engkau menganggu rapat
kami”, tegur sang malaikat pemimpin rapat merasa terganggu.
“Ada seorang hamba yang seharian berdoa meminta mati hari ini yang mulia”, kata sang asisten dengan muka sangat serius.
“Hah… manusia macam apa yang meminta mati dalam doanya, apakah sudah sedemikian susah hidupnya ?” tanya sang malaikat dengan penuh tanda tanya .
“Sepanjang yang saya saksikan manusia ini kehidupannya sangat baik yang mulia, harta kekayaannya berlimpah dan selalu beramal, ilmunya sangat tinggi dan selalu mengajarkannya kepada orang lain, setiap saat saya dengar dari hatinya mengingat Tuhan dan memohon ampunan tanpa henti. Keluarganya sangat berbahagia dan membanggakan dirinya dan bersyukur atas keberadaan orang ini.”, cerita sang asisten dengan berapi-api.
“Wah… tapi mengapa orang ini berdoa memohon kematian”, renung sang malaikat. Akhirnya dalam tanda tanya yang besar sang malaikat pemimpin rapat mengutus salah satu malaikat untuk turun ke dunia dan menanyakan langsung.
“Mohon maaf menganggu waktu anda wahai hamba yang baik”, sapa sang malaikat utusan. Dilihatinya wajah manusia di depannya, seraut wajah yang sangat bersinar. Dari raut wajahnya nampak bahwa orang ini belum terlalu tua, mungkin sekitar 40 tahun umurnya, sinar matanya pun teduh dan nampak sedikit berkaca-kaca. “Perkenankan saya bertanya, mengapa kamu memohon mati padahal kehidupan kamu sangat baik ?”, lanjut sang malaikat.
“Wahai malaikat, mengapa aku memohon mati hari ini, karena aku merasa inilah waktu yang tepat untuk kematianku. Inilah saat terbaik dalam kehidupanku dimana hampir seluruh sendi kehidupanku berada dalam kebaikan. Hartaku sudah berlimpah ruah, keimananku sedang berada dalam cinta terbesar atas Tuhanku, kehidupan keluargaku begitu membahagiakan, ibadahku berada dalam kekhusu’kan yang amat menggetarkan,…………”. Orang ini terus bercerita tentang semua keindahan kehidupannya seperti air bah yang datang tanpa berhenti dan membuat sang malaikat terpana karena belum pernah disaksikannya seorang manusia yang sedemikian hebat mensyukuri kehidupan.
“Wahai malaikat karena itulah aku meminta mati hari ini, karena aku menyaksikan banyak sekali hamba yang justru menjadi rakus akan kenikmatan yang dia peroleh. Mereka bertambah haus saat berkuasa, mereka bertambah dahaga saat menjadi kaya raya, mereka semakin terpana atas kehebatannya. Dan aku menyaksikan bahwa sebagian besar dari mereka mengakhiri kehidupannya dalam kesendirian dan ketidak berdayaan. Semua teman dan sahabat menjauhinya saat mereka tidak lagi berkuasa dan memiliki pengaruh yang besar”, suara orang ini mantap dan penuh keyakinan. Perlahan-lahan tangan orang ini menjulur ke depan dan menyentuh bahu sang Malaikat. “Hanya kepada engkau Tuhan menganugerahkan konsistensi tanpa gangguan apapun, wahai malaikat. Terhadapku Tuhan memberikan keleluasaan terhadap godaan dan pilihan. Aku tidak yakin apakah aku masih akan bersyukur pada saat DIA mencabut semua kelimpah-ruahan ini.”
Sang Malaikat masih saja terpana. Dari singgasana-Nya Tuhan tersenyum menikmati keindahan sang Hamba. Dengan kuasa-Nya Tuhan berbisik kepada sang Malaikat, “Biarkan dia hidup lebih lama lagi karena Aku masih ingin menikmati keindahannya”.
Selamat menjalani hari ini dengan penuh rahmat.
“Ada seorang hamba yang seharian berdoa meminta mati hari ini yang mulia”, kata sang asisten dengan muka sangat serius.
“Hah… manusia macam apa yang meminta mati dalam doanya, apakah sudah sedemikian susah hidupnya ?” tanya sang malaikat dengan penuh tanda tanya .
“Sepanjang yang saya saksikan manusia ini kehidupannya sangat baik yang mulia, harta kekayaannya berlimpah dan selalu beramal, ilmunya sangat tinggi dan selalu mengajarkannya kepada orang lain, setiap saat saya dengar dari hatinya mengingat Tuhan dan memohon ampunan tanpa henti. Keluarganya sangat berbahagia dan membanggakan dirinya dan bersyukur atas keberadaan orang ini.”, cerita sang asisten dengan berapi-api.
“Wah… tapi mengapa orang ini berdoa memohon kematian”, renung sang malaikat. Akhirnya dalam tanda tanya yang besar sang malaikat pemimpin rapat mengutus salah satu malaikat untuk turun ke dunia dan menanyakan langsung.
“Mohon maaf menganggu waktu anda wahai hamba yang baik”, sapa sang malaikat utusan. Dilihatinya wajah manusia di depannya, seraut wajah yang sangat bersinar. Dari raut wajahnya nampak bahwa orang ini belum terlalu tua, mungkin sekitar 40 tahun umurnya, sinar matanya pun teduh dan nampak sedikit berkaca-kaca. “Perkenankan saya bertanya, mengapa kamu memohon mati padahal kehidupan kamu sangat baik ?”, lanjut sang malaikat.
“Wahai malaikat, mengapa aku memohon mati hari ini, karena aku merasa inilah waktu yang tepat untuk kematianku. Inilah saat terbaik dalam kehidupanku dimana hampir seluruh sendi kehidupanku berada dalam kebaikan. Hartaku sudah berlimpah ruah, keimananku sedang berada dalam cinta terbesar atas Tuhanku, kehidupan keluargaku begitu membahagiakan, ibadahku berada dalam kekhusu’kan yang amat menggetarkan,…………”. Orang ini terus bercerita tentang semua keindahan kehidupannya seperti air bah yang datang tanpa berhenti dan membuat sang malaikat terpana karena belum pernah disaksikannya seorang manusia yang sedemikian hebat mensyukuri kehidupan.
“Wahai malaikat karena itulah aku meminta mati hari ini, karena aku menyaksikan banyak sekali hamba yang justru menjadi rakus akan kenikmatan yang dia peroleh. Mereka bertambah haus saat berkuasa, mereka bertambah dahaga saat menjadi kaya raya, mereka semakin terpana atas kehebatannya. Dan aku menyaksikan bahwa sebagian besar dari mereka mengakhiri kehidupannya dalam kesendirian dan ketidak berdayaan. Semua teman dan sahabat menjauhinya saat mereka tidak lagi berkuasa dan memiliki pengaruh yang besar”, suara orang ini mantap dan penuh keyakinan. Perlahan-lahan tangan orang ini menjulur ke depan dan menyentuh bahu sang Malaikat. “Hanya kepada engkau Tuhan menganugerahkan konsistensi tanpa gangguan apapun, wahai malaikat. Terhadapku Tuhan memberikan keleluasaan terhadap godaan dan pilihan. Aku tidak yakin apakah aku masih akan bersyukur pada saat DIA mencabut semua kelimpah-ruahan ini.”
Sang Malaikat masih saja terpana. Dari singgasana-Nya Tuhan tersenyum menikmati keindahan sang Hamba. Dengan kuasa-Nya Tuhan berbisik kepada sang Malaikat, “Biarkan dia hidup lebih lama lagi karena Aku masih ingin menikmati keindahannya”.
Selamat menjalani hari ini dengan penuh rahmat.
Berubah menjadi Baik
Pada suatu hari, ketika seorang petapa sedang meditasi di biara,
tiba-tiba seorang perampok masuk kedalam biaranya. Perampok mengancam
petapa memakai pisau yang tajam dan mengkilat mengancam petapa sambil
menghardik.
“Cepat keluarkan semua uang yang ada dilemari ini, kalau tidak engkau akan kubunuh!” hardik perampok.
“Uangnya ada di laci, di lemari tidak ada uang, engkau sendiri yang ambil, tetapi tolong tinggalkan sedikit karena beras saya sudah habis, jika engkau tidak tinggalkan sedikit besok saya akan kelaparan!” kata si petapa.
Perampok itu mengambil semua uang yang ada di laci, ketika hendak meninggalkan tempat itu petapa itu berkata, “Setelah menerima pemberian dari orang lain, seharusnya engkau mengucapkan terima kasih!”
“Terima kasih,” kata perampok itu.
Ketika dia membalikkan badan akan meninggalkan tempat ini hatinya sangat kacau, belum pernah dia mengalami keadaan seperti ini, dia berhenti sekejab, lalu teringat dia tidak boleh membawa pergi semua uang tersebut, lalu dia mengambil segenggam diletakkan di meja dan meninggalkan tempat itu.
Beberapa waktu kemudian, akhirnya perampok ini ditangkap oleh polisi. Setelah diintrogasi, dia mengakui perbuatannya, lalu polisi membawanya ke biara petapa itu.
Polisi bertanya kepada petapa, “Beberapa hari yang lalu perampok ini datang kesini merampok, benarkah?”
“Dia tidak merampok saya, saya yang memberi uang itu kepadanya. Ketika dia meninggalkan tempat itu dia masih sempat mengucapakan terima kasih, demikianlah kejadian yang sebenarnya,” jawab petapa.
Si perampok mendengar perkataan petapa yang sangat toleran ini, hanya bisa menggigit bibirnya, wajahnya basah oleh air mata, tidak dapat mengucapkan sepatah katapun lalu mengikuti polisi meninggalkan tempat itu.
Perampok ini ketika dibebaskan dari penjara, datang ke biara menemui petapa, memohon kepada petapa menerima dia sebagai muridnya. Namun petapa itu tidak mengizinkan, orang ini lalu berlutut diluar biara 3 hari 3 malam, akhirnya petapa menerima dia menjadi muridnya.
“Cepat keluarkan semua uang yang ada dilemari ini, kalau tidak engkau akan kubunuh!” hardik perampok.
“Uangnya ada di laci, di lemari tidak ada uang, engkau sendiri yang ambil, tetapi tolong tinggalkan sedikit karena beras saya sudah habis, jika engkau tidak tinggalkan sedikit besok saya akan kelaparan!” kata si petapa.
Perampok itu mengambil semua uang yang ada di laci, ketika hendak meninggalkan tempat itu petapa itu berkata, “Setelah menerima pemberian dari orang lain, seharusnya engkau mengucapkan terima kasih!”
“Terima kasih,” kata perampok itu.
Ketika dia membalikkan badan akan meninggalkan tempat ini hatinya sangat kacau, belum pernah dia mengalami keadaan seperti ini, dia berhenti sekejab, lalu teringat dia tidak boleh membawa pergi semua uang tersebut, lalu dia mengambil segenggam diletakkan di meja dan meninggalkan tempat itu.
Beberapa waktu kemudian, akhirnya perampok ini ditangkap oleh polisi. Setelah diintrogasi, dia mengakui perbuatannya, lalu polisi membawanya ke biara petapa itu.
Polisi bertanya kepada petapa, “Beberapa hari yang lalu perampok ini datang kesini merampok, benarkah?”
“Dia tidak merampok saya, saya yang memberi uang itu kepadanya. Ketika dia meninggalkan tempat itu dia masih sempat mengucapakan terima kasih, demikianlah kejadian yang sebenarnya,” jawab petapa.
Si perampok mendengar perkataan petapa yang sangat toleran ini, hanya bisa menggigit bibirnya, wajahnya basah oleh air mata, tidak dapat mengucapkan sepatah katapun lalu mengikuti polisi meninggalkan tempat itu.
Perampok ini ketika dibebaskan dari penjara, datang ke biara menemui petapa, memohon kepada petapa menerima dia sebagai muridnya. Namun petapa itu tidak mengizinkan, orang ini lalu berlutut diluar biara 3 hari 3 malam, akhirnya petapa menerima dia menjadi muridnya.

